JAKARTA – Aurelie Moeremans membeberkan alasan di balik keberaniannya untuk bicara terbuka hingga merampungkan buku Broken Strings, walaupun mengakui betapa sulit proses penulisannya.
Melalui karya tersebut, Aurelie mengungkap getirnya pengalaman menjadi korban grooming.
Buku yang sudah diluncurkan secara digital dan cuma-cuma ini juga memuat catatan mengenai kekerasan seksual, fisik, hingga ancaman yang dialami Aurelie saat masih berumur 15 tahun.
Aurelie mengaku sempat mengalami kesulitan saat menuangkan kisah tersebut ke dalam tulisan karena harus menggali dan mengenang kembali momen-momen yang sangat pedih. Tidak jarang situasi itu memunculkan keinginan untuk berhenti di tengah jalan.
"Tapi setiap kali ingin menyerah, aku ingat alasan awal aku menulis, yaitu untuk jujur pada diri sendiri dan bertahan," tutur Aurelie Moeremans, dikutip pada Kamis (15/1/2026).
Aurelie juga sempat menyebutkan bahwa proses menuliskan semua kenangan pahit itu merupakan bagian dari metode penyembuhan dirinya sendiri.
Usai Broken Strings rampung dan disebarluaskan, rasa cemas terhadap reaksi pembaca kembali muncul. Aurelie bahkan mengakui sengaja menerbitkannya dalam bahasa Inggris agar jumlah pembacanya lebih tersaring.
"Waktu itu aku berpikir supaya tidak terlalu banyak yang membaca karena trauma dari pengalaman sebelumnya, saat aku pernah mencoba berbagi dan responsnya tidak seperti yang aku harapkan. Aku merasa kalau dirilis dalam bahasa Inggris, pembacanya akan lebih terkurasi," ucapnya.
Kendati demikian, Aurelie memastikan bahwa semua cerita itu adalah fakta yang sebenarnya. Aurelie tetap berpegang pada misi awalnya menulis Broken Strings, yakni berani bersuara serta memberikan dukungan bagi mereka yang memerlukan bantuan.
Kini, Aurelie juga memberikan pesan kepada khalayak, khususnya kaum perempuan yang mengalami korban grooming, agar berani bicara dan bangkit kembali.
"Selama yang kutulis adalah kebenaran dan tujuannya baik, aku siap dengan risikonya. Fokusku tetap pada dampak positif yang bisa dihasilkan, bukan pada penolakan yang mungkin muncul," tegas Aurelie.
"Kamu tidak sendirian dan apa pun yang pernah terjadi padamu bukan salahmu. Kamu berhak sembuh, berhak bahagia, dan berhak punya masa depan yang lebih baik," pesan semangat dari Aurelie Moeremans.
Dalam Broken Strings, Aurelie menceritakan kejadian saat diduga menjadi korban grooming di usia 15 tahun oleh seorang laki-laki.
Sosok pria tersebut menurut Aurelie memiliki usia hampir dua kali lipat darinya. Di dalam buku itu, Aurelie mengaku menjadi sasaran manipulasi serta kendali dari pelaku, sebelum akhirnya perlahan-lahan berhasil menyelamatkan diri.
Aurelie pun memaparkan secara gamblang berbagai bentuk tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak pelaku tersebut.
Lewat unggahan di media sosial pada tahun 2020, Aurelie menyatakan bahwa pernikahan yang pernah dijalaninya berlandaskan keterpaksaan. Bahkan, Aurelie mengaku saat itu kerap menerima ancaman apabila berusaha meninggalkan pria tersebut.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News