Ifishdeco Perkuat Fundamental Bisnis Usai Penjualan Tembus Rp 1 Triliun

Ifishdeco Perkuat Fundamental Bisnis Usai Penjualan Tembus Rp 1 Triliun
Ilustrasi produk nikel PT Ifishdeco Tbk. (IFSH). [Foto: Ifishdeco]

JAKARTA – PT Ifishdeco Tbk (IFSH) mencatatkan penjualan lebih dari Rp 1 triliun sepanjang tahun 2025.

Pendapatan perusahaan tambang nikel tersebut naik 2,90% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan capaian Rp 972,70 miliar pada tahun sebelumnya.

Corporate Secretary Ifishdeco, Rivka Rotua Natasya menjelaskan peningkatan penjualan IFSH pada 2025 terutama ditopang oleh naiknya produksi dan penjualan silica yang berasal dari entitas anak usaha, PT Hangtian Nur Cahaya.

"Tahun 2025, Ifishdeco memprioritaskan fundamental bisnis utamanya dengan meningkatkan sinergi manajemen dan optimalkan keunggulan operasional," kata Rivka dalam rilisnya, dikutip pada Senin (9/3/2026).

Meski demikian, beban pokok penjualan IFSH meningkat 5,76% (yoy) menjadi Rp 709,69 miliar. Kondisi ini membuat laba bruto perusahaan turun 3,46% (yoy) dari Rp 301,69 miliar menjadi Rp 291,25 miliar.

Setelah memperhitungkan beban umum dan administrasi sebesar Rp 141,94 miliar, IFSH membukukan laba usaha Rp 149,31 miliar sepanjang 2025. Angka ini turun 1,53% (yoy) dibandingkan perolehan Rp 151,63 miliar pada tahun 2024.

Di sisi lain, beban bunga IFSH berhasil ditekan hingga 41,7% (yoy) menjadi Rp 4,39 miliar.

Perusahaan juga mencatat perubahan pada pos lain-lain yang sebelumnya berupa beban sebesar Rp 6,68 miliar pada 2024 menjadi pendapatan lain-lain sebesar Rp 5,72 miliar pada 2025.

Dengan perkembangan tersebut, IFSH mencatat laba periode berjalan sebesar Rp 106,51 miliar pada 2025. Nilai ini tumbuh 6,39% dibandingkan laba periode berjalan pada 2024 yang tercatat Rp 100,11 miliar.

Namun jika dilihat lebih rinci, pada tingkat bottom line IFSH mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 72,14 miliar pada 2025.

Laba bersih ini turun 13,77% (yoy) dibandingkan capaian Rp 83,66 miliar pada tahun 2024.

"Di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas, biaya produksi yang variatif, serta dinamika regulasi yang terus berkembang, Manajemen menegaskan bahwa kinerja tahun 2025 mencerminkan ketahanan Perseroan dalam menghadapi kompleksitas fundamental bisnis di tengah dinamika industri nikel yang terus berkembang," terang Rivka.

Selain itu, Rivka menuturkan hingga akhir 2025 IFSH mampu menurunkan total liabilitas sebesar 13,12% (yoy), dari Rp 169,93 miliar menjadi Rp 147,62 miliar.

Pada periode yang sama, total ekuitas perusahaan naik 8,96% (yoy) dari Rp 838,03 miliar menjadi Rp 913,16 miliar.

Total aset IFSH juga bertambah sekitar 5% (yoy) dari Rp 1,01 triliun menjadi Rp 1,06 triliun. Rivka menambahkan saldo laba perusahaan ikut meningkat 6,85% menjadi Rp 733,55 miliar, yang mencerminkan akumulasi profitabilitas yang berkelanjutan.

Sementara itu, arus kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp 79,99 miliar.

"Meski mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, IFSH tetap dapat menjaga posisi likuiditas yang sehat dengan saldo kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 109,29 miliar," imbuh Rivka.

Memasuki 2026, IFSH memandang prospek permintaan nikel global masih kuat. Hal ini dipicu oleh ekspansi sektor penyimpanan energi serta perkembangan kendaraan listrik.

Di saat yang sama, meningkatnya risiko geopolitik yang memengaruhi industri minyak turut memperkuat dorongan menuju energi bersih dan kemandirian energi.

Selain itu, perusahaan juga mencermati pergerakan Harga Patokan Mineral (HPM) Indonesia yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan kecenderungan positif dan dinilai dapat memperkuat sentimen di sektor nikel nasional.

"Dengan struktur permodalan yang semakin solid dan tingkat liabilitas yang menurun, Perseroan optimistis dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang," tandas Rivka.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index