Menikah di Atas 30 Tahun Lebih Rentan Cerai? Ini Penjelasan Para Ahli

Menikah di Atas 30 Tahun Lebih Rentan Cerai? Ini Penjelasan Para Ahli
Ilustrasi kado pernikahan Islami. [Foto: Shutterstock/Ruska Pixs]

JAKARTA – Cukup banyak anggapan yang beredar bahwa semakin matang usia pernikahan atau ketika memasuki usia 30-an, risiko terjadinya perceraian justru kian meningkat. Namun, apakah klaim tersebut valid?

Sejumlah riset memang mendukung hipotesis tersebut. Salah satunya adalah penelitian yang dipublikasikan oleh sosiolog dari Universitas Utah, Nicholas H. Wolfinger, pada tahun 2015.

Kajian tersebut mendapati bahwa individu yang baru membangun rumah tangga setelah melewati awal usia 30-an tercatat memiliki kerentanan cerai yang lebih besar ketimbang mereka yang menikah di akhir usia 20-an.

Data ini menyanggah kepercayaan lama yang menyebutkan bahwa kematangan usia pernikahan berbanding lurus dengan rendahnya potensi perpisahan.

Menyadur Your Tango, Wolfinger dalam studinya memaparkan adanya periode usia paling pas atau sweet spot untuk melangsungkan pernikahan.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang berumah tangga di usia 20 tahun memiliki tingkat risiko cerai 50 persen lebih tinggi daripada mereka yang menikah pada umur 25 tahun.

Setiap tahun penundaan pernikahan mampu mereduksi potensi perceraian sebanyak 11 persen. Akan tetapi, tren penurunan risiko ini akan terhenti pada usia 32 tahun.

Begitu melewati ambang usia itu, peluang terjadinya perceraian justru didapati merangkak naik kembali.

Berdasarkan analisis Wolfinger, salah satu pemicu yang diduga berpengaruh adalah latar belakang hubungan di masa lalu.

Semakin lama individu menunda ikatan pernikahan, maka kemungkinan ia mempunyai jumlah mantan pasangan yang lebih banyak juga kian besar.

Menurut Wolfinger, orang-orang yang memilih menikah di usia 30-an kemungkinan memiliki karakteristik khusus, misalnya hambatan dalam berkomitmen atau kendala dalam relasi interpersonal yang kemudian membuat biduk rumah tangga mereka lebih rentan.

Di sisi lain, sosiolog dari Universitas Maryland, Philip Cohen, menyuguhkan perspektif lain.

Melalui risetnya di tahun 2022, Cohen menemukan bahwa angka risiko perceraian sebenarnya terus merosot sejalan dengan bertambahnya usia wanita saat menikah, khususnya sebelum menyentuh usia 30 tahun, dan cenderung tetap stabil hingga umur 45 tahun.

Cohen memberikan penekanan bahwa variabel usia cuma sekadar data statistik umum, bukan menjadi penentu mutlak akhir dari sebuah pernikahan seseorang.

"Menentukan usia menikah hanya untuk menekan risiko perceraian adalah ide yang buruk," tulis Cohen.

"Menikahi orang yang tepat di waktu yang tepat jauh lebih penting daripada angka usia." tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa ketahanan sebuah pernikahan dipengaruhi oleh beragam variabel, mulai dari kematangan emosi, efektivitas komunikasi, situasi finansial, prinsip hidup, hingga dinamika personal yang tidak dapat dikuantifikasi hanya lewat angka usia.

Walaupun data statistik memperlihatkan pola spesifik terkait korelasi umur pernikahan dan perceraian, para pakar sepakat bahwa tidak terdapat formula baku untuk memastikan keharmonisan rumah tangga.

Melangsungkan pernikahan terlalu dini maupun terlalu lambat sama-sama bukan tolok ukur yang efektif dalam menjamin keberhasilan suatu hubungan.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index