Tingkatkan Inklusi, AFTECH Rilis White Paper Sinergi Bank dan Pindar

Tingkatkan Inklusi, AFTECH Rilis White Paper Sinergi Bank dan Pindar
Peluncuran white paper Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting berjudul “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar”. [Foto: AFTECH]

JAKARTA – Akses kredit formal di Indonesia masih terbatas, terutama bagi segmen underbanked, di tengah dorongan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan.

Menjawab tantangan tersebut, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting meluncurkan white paper berjudul “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar”.

Kajian ini mengulas kesenjangan pembiayaan sekaligus peluang sinergi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar/P2P lending).

Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto mengatakan, stagnasi akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan mencerminkan keterbatasan sistem formal dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Karena itu, kolaborasi bank dan pindar dinilai krusial untuk memperluas akses pembiayaan secara inklusif dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik,” kata Firlie dalam keterangannya dikutip Sabtu (13/2/2026).

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, pendanaan bank ke pindar meningkat signifikan dari Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024.

Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar sekaligus kebutuhan akan kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur dan bertanggung jawab.

OJK menyambut baik inisiatif tersebut dan menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko, tata kelola, serta perlindungan konsumen dalam kolaborasi lintas lembaga keuangan.

Sinergi ini diharapkan dapat memperluas alternatif pembiayaan bagi masyarakat, khususnya UMKM, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan.

Kementerian PPN/Bappenas juga menilai optimalisasi berbagai kanal pembiayaan, termasuk kolaborasi lembaga keuangan konvensional dan inovatif, berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.

CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa, menyebut rasio kredit berperan penting bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, akses kredit di Indonesia masih terbatas.

Data World Bank menunjukkan 48% penduduk dewasa masih underbanked, sementara inklusi perbankan baru sekitar 70% pada 2025, sehingga 30% lainnya belum terlayani.

Rasio kredit terhadap PDB pun stagnan di 36,4%, jauh di bawah rata-rata negara menengah.

Di tengah penetrasi internet 75%, pindar tumbuh paling cepat, sekitar 34% per tahun (2019–2024), karena memanfaatkan underwriting digital dan data alternatif untuk menjangkau segmen yang belum terlayani bank.

Bank kini menjadi penyandang dana utama pindar, dengan porsi pendanaan naik dari 15% pada 2021 menjadi 71% pada 2025.

Studi Cambridge Center for Alternative Finance (2022) mencatat lebih dari 50% peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening, dan lebih dari 35% kemudian mengajukan kredit bank, menunjukkan pindar menjadi jembatan menuju layanan keuangan formal.

Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menegaskan percepatan peran pindar harus diimbangi tata kelola dan kepatuhan setara standar perbankan agar kolaborasi bank–pindar berjalan efektif dan berkelanjutan.

Nucky Poedjiardjo menyebut banyak platform pindar telah memiliki tata kelola yang baik dan dipercaya perbankan, termasuk bank internasional di Indonesia, sebagaimana temuan riset AFTECH bersama Mandala Consulting.

Menurutnya, kemitraan ini berpotensi besar menutup kesenjangan akses kredit dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Riset International Monetary Fund juga menunjukkan penyaluran kredit, baik multiguna maupun produktif, dapat meningkatkan produktivitas dan konsumsi.

Nucky Poedjiardjo menekankan kolaborasi ini memang bukan solusi seluruh persoalan kredit, tetapi membuka ruang pembiayaan baru.

Pindar dapat menjadi tahap awal membangun rekam jejak kredit sebelum nasabah masuk ke sistem perbankan. Dengan penguatan tata kelola, sinergi ini dinilai bisa mempercepat inklusi keuangan dan memperkuat ekonomi.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index