JAKARTA – Kilauan lampu warna-warni dan suara musik yang menggelegar bukan lagi menjadi satu-satunya pilihan untuk melepas stres di akhir pekan.
Bagi mayoritas Gen Z, makna 'malam yang seru' saat ini mulai beralih. Bukan lagi menghabiskan waktu di klub malam, melainkan di dalam gym, studio olahraga, ataupun ruang meditasi.
Kecenderungan ini populer dengan istilah soft clubbing, sebuah tren di mana aktivitas olahraga dan kesehatan (wellness) mulai menggantikan peran kehidupan malam.
Dibandingkan terjaga hingga larut malam sambil mengonsumsi alkohol, generasi muda lebih suka mengikuti kelas sepeda statis dengan konsep silent disco, mengikuti sesi sound bath healing, atau sekadar berolahraga bersama kawan-kawan lalu kembali ke rumah lebih cepat demi mendapatkan tidur yang bermutu.
Bersenang-senang tetap menjadi tujuan, namun tanpa efek hangover serta konsumsi alkohol yang berlebih.
Mengutip laporan Athletech News, Sabtu (17/1/2026), transformasi ini tidak muncul secara mendadak. Di Amerika Serikat, beberapa pusat kebugaran bahkan secara sengaja mendesain kelas olahraga mereka sebagai wadah interaksi sosial.
Gym bertransformasi menjadi tempat berkumpul, di mana orang-orang yang belum saling kenal bisa berinteraksi, berbagi target hidup sehat, dan pulang membawa semangat baru, bukan rasa letih.
Gejala yang sama juga terlihat nyata di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta.
Pemandangan tempat kebugaran yang padat sebelum jam kantor dimulai, kawasan Sudirman yang dipenuhi pelari tiap akhir pekan, hingga maraknya studio Pilates, yoga, tinju, serta strength training kini menjadi fenomena yang lumrah.
Kegiatan olahraga rekreasional layaknya futsal, bulu tangkis, serta bersepeda pun telah menjadi agenda rutin setiap minggunya.
Lantas, faktor apa yang membuat para Gen Z ini lebih menyukai soft clubbing dibandingkan pergi ke kelab malam untuk melepas penat? Merujuk dari berbagai sumber, berikut merupakan beberapa pemicunya:
1. Menjadikan kesehatan sebagai prioritas
Salah satu faktor penggerak utamanya yakni kesadaran akan kesehatan fisik maupun mental.
Gen Z tumbuh dengan melihat generasi terdahulu berjuang melawan kondisi burnout, durasi kerja yang sangat lama, serta pola hidup yang tidak proporsional. Berawal dari sana, muncul dorongan untuk menjalani hidup yang lebih terorganisir.
Aktivitas olahraga memberikan keuntungan dalam jangka panjang, seperti kualitas tidur yang lebih baik, emosi yang lebih stabil, kebugaran tubuh, serta adanya rasa pencapaian.
Sebaliknya, kehidupan malam sering kali berkaitan dengan rasa lelah, kecemasan, serta jadwal rutin yang kacau, hal-hal yang sekarang justru dijauhi oleh kami.
2. Tempat olahraga sebagai wadah sosial yang baru
Bagi kelompok Gen Z, aktivitas kebugaran bukan sekadar kegiatan individu, melainkan telah menjelma menjadi sebuah ekosistem sosial.
Komunitas lari, rekan olahraga di gym, kelas grup, hingga perkumpulan bersepeda menjadi tempat untuk bertemu serta membangun relasi.
Hubungan pertemanan dibentuk melalui konsistensi serta kesamaan tujuan, bukan karena paksaan untuk mengonsumsi minuman keras atau keharusan terjaga sampai dini hari.
Peran media sosial juga memperkuat tren ini. Beranda media sosial kini dipenuhi oleh video perkembangan latihan, pakaian olahraga, hingga pencapaian rekor pribadi. Menjaga kesehatan bukan hanya dianggap normal, namun juga sesuatu yang inspiratif.
Mengunggah momen lari pagi atau sesi olahraga terasa lebih membanggakan daripada menampilkan foto pesta di jam 2 pagi.
3. Pertimbangan biaya dan kesadaran finansial
Terdapat juga faktor dari sisi ekonomi. Menghabiskan malam di kelab malam di kota besar bisa menguras isi kantong dalam satu malam saja, mulai dari biaya tiket masuk, minuman, hingga akomodasi yang semuanya memerlukan biaya besar.
Jika dibandingkan, biaya langganan gym atau kelas olahraga terasa lebih logis, bahkan dipandang sebagai sebuah investasi.
Gen Z dikenal memiliki kesadaran finansial yang lebih baik. Mereka lebih mengutamakan nilai serta kegunaan jangka panjang daripada sekadar kesenangan yang bersifat instan.
4. Pemaknaan baru mengenai kata 'seru'
Di balik segala alasan tersebut, terdapat pergeseran yang sangat mendasar dalam cara Gen Z mengartikan kesenangan.
Rasa senang tidak lagi diidentikkan dengan terjaga hingga pagi buta, melainkan bangun di pagi hari dengan kondisi tubuh yang bugar serta pikiran yang jernih.
Mencapai target dalam latihan terasa jauh lebih memuaskan ketimbang mengejar perasaan senang yang hanya sesaat.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News