Pangeran Turki al-Faisal Persoalkan Ambisi Israel Raya dari Nil hingga Eufrat

Senin, 16 Februari 2026 | 11:11:29 WIB
Pangeran Turki al-Faisal. [Foto: Istimewa]

JAKARTA – Pangeran senior Kerajaan Arab Saudi, Turki al-Faisal, mempersoalkan ambisi rezim Zionis Israel yang ingin mewujudkan Israel Raya (Greater Israel) dengan ekspansi wilayah dari kawasan Sungai Nil hingga Sungai Eufrat.

Hal itu disampaikan dalam sebuah wawancara dengan The National. Menurut Turki al-Faisal, Riyadh berupaya mempromosikan rezim stabilitas dan pembangunan, bukan gejolak dan perkembangan negatif yang terjadi di masa lalu.

"Kami melihat Israel, misalnya, secara terbuka menyatakan bahwa mereka ingin mengembangkan apa yang mereka sebut ‘Israel Raya’ dari sungai ke sungai, dari Nil hingga Eufrat,” kata Pangeran Turki al-Faisal.

"Iran, tentu saja, memiliki ambisinya sendiri. Ada juga kekuatan luar, Amerika Serikat, China, Rusia, Eropa, dan lainnya. Kawasan kami selalu dipandang sebagai hadiah bagi mereka yang bercita-cita untuk menguasainya," papar mantan kepala intelijen Arab Saudi tersebut, yang dikutip Israel Hayom, Senin (16/2/2026).

Di sela-sela Konferensi Keamanan Munich, Pangeran Turki al-Faisal juga mempertanyakan kemampuan Washington untuk bertindak di Gaza tanpa dukungan kelembagaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Membentuk dewan membutuhkan dukungan kelembagaan dan satu-satunya alternatif adalah PBB,” katanya. “NATO tidak akan melakukannya, begitu pula Liga Arab. Amerika sendiri tidak akan mampu melakukannya," ujarnya.

Turki al-Faisal selanjutnya mengeluh bahwa Zionis Israel terus melanggar gencatan senjata di Gaza dan setiap hari warga Palestina terbunuh.

"Mereka menyalahkan apa yang mereka sebut ekstremis, pejuang Hamas yang keluar dan menembak mereka. Tetapi itu bukan alasan. Hamas hampir hancur," ujarnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran dan kemungkinan serangan AS, pangeran Arab Saudi tersebut menekankan bahwa negaranya mendukung diplomasi.

Pada saat yang sama, pangeran senior ini menilai bahwa kepemimpinan rezim di Teheran berada di bawah tekanan berat setelah penindakan keras terhadap protes anti-pemerintah.

“Iran telah menderita pukulan keras dan menghancurkan selama dua tahun terakhir,” katanya.

“Kami menyaksikan pemberontakan itu. Menurut pengakuan mereka sendiri, pemberontakan itu merenggut banyak nyawa. Jadi ada rasa ketidakpastian yang dihadapi kepemimpinan di Iran, yang mungkin belum pernah mereka hadapi sebelumnya," paparnya.

Namun, bangsawan senior Arab Saudi itu menambahkan bahwa dia tidak tahu apakah peristiwa baru-baru ini pada akhirnya akan menyebabkan perubahan rezim di Iran.

Terkini