Mojtaba Khamenei Dipilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran dengan Dukungan IRGC

Mojtaba Khamenei Dipilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran dengan Dukungan IRGC
Mojtaba Khamenei bersama anak-anaknya pada Hari Qods tahun 2018. [Foto: Tasnim News Agency, CC BY 4.0 melalui Wikimedia Commons]

JAKARTA – Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama Syiah berpengaruh telah memilih Mojtaba, putra Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya.

Langkah ini diambil untuk menggantikan ayahnya, sehingga arah kebijakan Iran diprediksi akan terus melanjutkan perlawanan terhadap AS dan Israel.

Pemilihan Mojtaba tersebut dilakukan di bawah tekanan dari Garda Revolusi Islam (IRGC). Hal ini diungkapkan oleh sumber yang mengetahui permasalahan tersebut kepada Iran International.

Alasan utamanya adalah karena Mojtaba pernah menjadi tentara IRGC dan memiliki kendali atas institusi militer tersebut selama ayahnya berkuasa.

Laporan dari New York Times menguatkan informasi tersebut dengan menyebut putra Ayatollah Ali Khamenei sebagai kandidat terdepan untuk memimpin Republik Islam berikutnya. Kabar tersebut akan diumumkan paling cepat pada Rabu pagi.

Mengutip pejabat Iran yang memahami pembahasan tersebut, para ulama sempat memiliki beberapa keberatan untuk menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi.

Mereka khawatir hal itu dapat meningkatkan risiko ia menjadi sasaran serangan AS dan Israel.

Laporan tersebut menambahkan bahwa para ulama telah mengadakan dua pertemuan virtual mengenai masalah ini pada Selasa (3/3/2026).

Selain itu, laporan media Iran mencatat bahwa sebuah gedung di Qom dalam keadaan kosong ketika IDF mengumumkan akan menyerangnya dalam operasi udara yang menargetkan Majelis Pakar, badan resmi yang bertugas memilih pemimpin tertinggi.

Siapa Mojtaba Khamenei?

Mojtaba Khamenei, 56 tahun, merupakan putra kedua tertua Ayatollah Ali Khamenei. Bloomberg melaporkan pada bulan Januari bahwa ia mengawasi kerajaan investasi.

Sumber anonim menyebutkan bahwa ia memiliki akses ke rekening bank Swiss dan properti mewah di Inggris senilai lebih dari $100 juta, meskipun sanksi AS telah dijatuhkan kepadanya pada tahun 2019.

Putra Khamenei ini sebagian besar menghindari sorotan publik dan belum pernah menduduki jabatan pemerintahan.

Meski demikian, ia diyakini memiliki pengaruh besar terhadap para administrator Iran serta organisasi kuat seperti Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan paramiliter Basij.

Namun, statusnya sebagai putra Pemimpin Tertinggi mungkin bisa merugikannya karena suksesi ayah ke anak dalam lembaga ulama Syiah dapat memicu kemarahan.

Khamenei sendiri telah mengindikasikan penentangannya terhadap pencalonan putranya.

Sebuah sumber Iran yang dekat dengan kantornya mengatakan kepada Reuters pada tahun 2024 bahwa pemimpin tersebut tidak ingin melihat kembalinya pemerintahan turun-temurun.

Hal ini karena banyak warga Iran memandang praktik tersebut merusak semangat revolusi 1979 yang menggulingkan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index