JAKARTA – Pemerintah Inggris mengumumkan paket bantuan berupa ribuan rudal serta sistem pertahanan udara senilai £500 juta atau setara lebih dari Rp11,4 triliun guna menyokong Ukraina menghadapi invasi Rusia.
Pengumuman bantuan tersebut dirilis pada hari Kamis menyusul serangan Moskow yang menyasar situs-situs energi di Kyiv.
Pendanaan bantuan itu mencakup £150 juta untuk Daftar Persyaratan Prioritas Ukraina (PURL) NATO, yakni sebuah inisiatif yang mengoordinasikan pengiriman cepat pencegat pertahanan udara.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyatakan, "Langkah ini akan membantu Ukraina mempertahankan diri dari serangan drone dan rudal [Presiden Rusia Vladimir] Putin yang tiada henti.”
Sebagai bagian dari paket bantuan ini, Inggris akan mengirimkan tambahan 1.000 Rudal Multiguna Ringan (LMM), serta 1.200 rudal pertahanan udara dan 200.000 butir amunisi artileri lewat Konsorsium Pertahanan Udara (ADC).
“Saat kami mendekati tahun kelima invasi skala penuh Putin, Inggris dan sekutu kami lebih berkomitmen dari sebelumnya untuk mendukung Ukraina,” kata Healey dalam sebuah pernyataan yang dilansir situs resmi pemerintah Inggris, gov.uk, Jumat (13/2/2026).
Setidaknya lima negara telah berjanji memberikan kontribusi dalam pembelian senjata Amerika di bawah PURL pada pertemuan Kelompok Kontak Pertahanan Ukraina (UDCG) di Brussels, Kamis (12/2/2026) kemarin.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO Mark Rutte menyampaikan terima kasih kepada Inggris, Islandia, Norwegia, Swedia, dan Lithuania atas kontribusi mereka tersebut.
Pertemuan UDCG ini diikuti oleh 50 negara dan dipimpin bersama oleh Inggris dan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius, serta dihadiri Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov, Mark Rutte, dan Wakil Perdana Menteri Australia Richard Marles.
Para pendukung Ukraina membahas kebutuhan militer utama negara itu untuk tahun 2026, berbagi wawasan medan perang, merencanakan pengiriman peralatan, serta mengidentifikasi kesenjangan yang perlu diatasi.
Inggris telah mengambil peran sebagai pemimpin bersama Kelompok Kontak Pertahanan Ukraina dengan Jerman, serta Koalisi Sukarelawan dengan Prancis sejak tahun lalu.
Baik Perdana Menteri maupun Menteri Pertahanan Inggris menegaskan bahwa keamanan nasional Inggris—yang menjadi fondasi Rencana Perubahan Pemerintah—dimulai dari Ukraina.