JAKARTA – Arab Saudi mempunyai senjata nuklir dan Amerika Serikat menyadari hal tersebut sepenuhnya, menurut penuturan Hussein Kanani, mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), kepada RT.
Tuduhan mengejutkan tersebut diungkapkan dalam wawancara eksklusif bersama Rick Sanchez yang disiarkan pada hari Senin (9/2/2026).
Kabar ini muncul di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah antara Washington dan Teheran terkait dugaan pengembangan senjata nuklir Iran.
Dengan mengutip informasi intelijen, Kanani menyatakan, “Arab Saudi saat ini memiliki bom nuklir dan aktivitas yang diketahui dengan sangat baik oleh Amerika Serikat.”
Saat diminta klarifikasi, ia membenarkan, “Ya, benar. Saat ini,” sembari menambahkan bahwa Israel dan AS menyadarinya secara penuh.
Mantan komandan IRGC tersebut juga menuding badan intelijen asing, termasuk Mossad Israel dan CIA, menyokong aksi protes anti-pemerintah di Iran.
“Tujuan mereka bukan hanya untuk menggulingkan pemerintah tetapi untuk memecah belah Iran sepenuhnya dan mengeksploitasi situasi,” katanya.
Ketegangan antara Washington dan Teheran menajam sejak AS membom fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, dan semakin memuncak menyusul protes anti-pemerintah luas yang melanda Republik Islam tersebut pada Desember dan Januari.
Teheran menuduh AS dan Israel sebagai provokator kerusuhan itu.
Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan 'armada' yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, menuntut agar Teheran membatasi pengayaan uranium serta program rudal balistiknya.
Sementara itu, Iran telah mengumumkan tuntasnya peningkatan persenjataan rudal mereka dan pergeseran formal dalam doktrin militer menuju postur yang lebih ofensif.
Kanani memberikan peringatan bahwa serangan AS dapat memicu respons asimetris dari Iran.
“Jika Washington menyerang, langkah pertama Teheran mungkin tidak menargetkan pangkalan Amerika secara langsung.
Rudal dapat diarahkan ke Israel sebagai gantinya,” katanya.
Iran juga dapat memblokade Selat Hormuz yang krusial untuk menekan AS, ia memperingatkan.
“Selat akan ditutup jika perlu. Meskipun kami tidak ingin merugikan perekonomian China atau Rusia, hal itu mungkin tidak dapat dihindari sebagai respons terhadap provokasi AS,” kata Kanani.
Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Usai AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan kembali menjatuhkan sanksi, Teheran secara bertahap mengurangi tingkat kepatuhan dan menaikkan pengayaan uranium hingga kemurnian 60%.
Setelah pembicaraan tidak langsung dengan AS di Oman pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa setiap kesepakatan nuklir mesti dicapai lewat dialog yang “tenang” serta bersih dari tekanan atau ancaman.
Tak lama berselang, Washington mengumumkan putaran sanksi baru. “AS sedang bermain pura-pura nyali. Iran sedang menyusun strategi sepuluh langkah ke depan,” tegas Kanani.