JAKARTA – Fintech peer to peer (P2P) lending PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) memandang prospek penyaluran pembiayaan ke sektor produktif, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), masih terbuka lebar.
Chief Funding Officer Amartha, Julie Fauzie, menjelaskan bahwa potensi besar tersebut terlihat dari masih banyaknya UMKM, termasuk segmen ultra mikro, di Indonesia yang belum mendapatkan akses pembiayaan.
"Kami hitung ada sekitar 30 juta UMKM. Kami itu menyasar ultra mikro dan sekarang kami baru punya 3 juta, berarti potensinya masih sangat-sangat besar. Jangkauan kami itu belum ke semua, sehingga masih banyak sekali sebenarnya ibu-ibu yang belum terjangkau pemodalan produktif," ungkapnya, dikutip pada Selasa (9/2/2026).
Julie menerangkan bahwa permintaan pembiayaan produktif tetap tinggi karena dana tersebut umumnya digunakan untuk mendukung kehidupan sehari-hari para pelaku UMKM.
Hal ini karena mereka berdagang memang demi mencukupi kebutuhan makan harian.
"Jadi, kalau misal tidak berdagang atau tidak berkebun, mereka tidak memenuhi kebutuhannya. Terlebih, orang-orang di desa itu memang aktivitasnya berdagang, beda dengan orang di kota," tuturnya.
Guna meningkatkan penetrasi pembiayaan hingga ke pelosok daerah, Julie menyebut Amartha didukung oleh business partner atau tim lapangan yang kini berjumlah sekitar 10 ribu orang.
Julie menuturkan bahwa tenaga lapangan tersebut bertugas membentuk kelompok ibu-ibu yang saling mengenal dan memiliki usaha.
Tenaga lapangan juga melakukan penilaian terhadap kelayakan usaha dan rutin bertemu setiap minggu untuk membangun kedekatan dengan para pelaku usaha.
Selain itu, tim lapangan berperan membantu Amartha dalam memitigasi risiko kredit macet.
"Jadi, memang relationship antara business partner dengan ibu-ibunya itu lumayan cukup dekat," ucapnya.
Lebih lanjut, Julie menjelaskan bahwa segmen ultra mikro sulit dijangkau oleh perbankan karena dianggap unbankable.
Ia menyebut banyak pihak perbankan yang justru menempatkan dana di Amartha untuk disalurkan ke segmen tersebut, sehingga pendanaan dari bank turut membantu ultra mikro untuk berkembang.
Mengenai besaran pinjaman, Julie mengatakan rata-rata UMKM di Amartha meminjam berkisar antara Rp5 juta hingga Rp15 juta. Namun, pemberian modal dilakukan bertahap sesuai kondisi usaha. Pada tahap awal, peminjam biasanya diberikan nominal terendah terlebih dahulu.
"Jadi, biasanya kalau yang pelaku usaha awal itu tak diberikan besar. Baru yang sudah 2 hingga 5 tahun bisa mencapai pinjaman Rp 15 juta. Kami juga lihat histori pembayarannya dan bisnisnya berkembang atau tidak," kata Julie.
Hingga akhir 2025, Amartha telah menyalurkan modal usaha lebih dari Rp37 triliun kepada 3,7 juta UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa.
Sebanyak 53% peminjam Amartha berasal dari sektor perdagangan, 22% sektor pertanian, 9% peternakan, 6% jasa, serta 7% industri rumah tangga dan sektor lainnya. Berdasarkan situs resmi perusahaan, Amartha mencatatkan Tingkat Keberhasilan Bayar (TKB90) sebesar 95,61%.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News