Tahun 2020 Tidak Ada Iklim Ekstrem, Menkopolhukam Yakin Karhutla Lebih Mudah Diantisipasi

Karhutla di Kalimantan. (Foto: ANTARA)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2020 lebih mudah diantisipasi. Menurut Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, hal itu karena tak ada iklim ekstrem.

"Tahun 2020 menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika) Insya Allah tidak akan terjadi perubahan iklim yang ekstrem. Insya Allah (karhutla) lebih mudah diantisipasi," katanya, Jumat (6/12/2019), sebagaimana diberitakan CNNIndonesia.com.

Ia menyampaikan hal itu usai menggelar Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) terkait evaluasi penanganan karhutla tahun ini di KLHK. Sebelumnya, dari data dan prakiraan BMKG, kondisi iklim 2020 akan netral hingga bulan Agustus. Diperkirakan tidak akan terjadi El-Nino yang kuat.

Sementara itu, curah hujan cenderung dengan pola yang sama. Adapun awal kemarau pun diperkirakan akan terjadi pada bulan April atau Mei. Kendati demikian, Mahfud menggarisbawahi sejumlah wilayah yang rawan karhutla, seperti Aceh, Riau, dan Sumatera Barat. Ia menyatakan, kerawanan itu terkait dengan keberadaan area gambut, lokasi yang sulit dijangkau, keringnya air di kanal-kanal, kurangnya sarana, pembukaan lahan secara diam-diam, pembakaran sampah, pembuangan puntung rokok.

"Serta ruang terbuka yang membuka kemungkinan orang menjadikan lahan sebagai tempat untuk membakar," jelasnya.

Sebelumnya, pemerintah menyebut iklim ekstrem mengakibatkan karhutla 2019 sulit dipadamkan. Aparat terkait bahkan sempat bergantung pada turunnya hujan terkait pemadaman karhutla di lahan gambut. Hingga November, kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah. Di luar itu semua, Mahfud mengklaim penanganan karhutla di Indonesia tahun ini masih lebih baik daripada negara-negara lain.

"Kami bersyukur (karhutla) tahun 2019 tertangani dengan baik, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara yang juga punya masalah dengan kebakaran hutan dan lahan. Indonesia terhitung yang paling aman, meskipun kami masih merasakan di sana-sini ada," jelasnya tanpa merinci negara-negara yang menjadi pembanding.(but)







[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar