Gagal Capai Kesepakatan di Jenewa, AS dan Iran Kian Dekat Menuju Perang Besar

Gagal Capai Kesepakatan di Jenewa, AS dan Iran Kian Dekat Menuju Perang Besar
Ilustrasi Iran dan Amerika Serikat. [Foto: ANTARA/Anadolu/py]

JAKARTA – Perundingan nuklir Iran antara pihak Teheran dan Washington di Jenewa pada hari Selasa (17/2/2026) tidak membuahkan kesepakatan yang signifikan.

Sebaliknya, Iran dan Amerika Serikat (AS) justru semakin mendekat ke arah perang besar-besaran di wilayah Timur Tengah.

Sumber-sumber pemerintah Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Axios bahwa suatu operasi militer dapat berlangsung selama beberapa pekan dan memberikan dampak yang kuat di kawasan tersebut.

Sebelum perundingan dimulai, Trump mengatakan kepada wartawan di pesawat Air Force One: “Saya rasa mereka tidak menginginkan konsekuensi jika tidak membuat kesepakatan.”

Sementara itu, seorang penasihat Trump mengungkapkan kepada Axios: "Bos sudah muak. Beberapa orang di sekitarnya memperingatkan dia agar tidak berperang dengan Iran, tapi saya pikir ada 90 persen kemungkinan kami melihat tindakan kinetik dalam beberapa minggu ke depan."

Pada Januari lalu, pemerintahan Trump mengancam akan melakukan tindakan militer baru terhadap Iran terkait program nuklirnya dan menuntut Teheran segera membuat kesepakatan dengan Washington.

Tuntutan tersebut muncul menyusul perang 12 hari antara Israel dengan Iran pada Juni 2025, yang mana AS turut campur dengan mengebom tiga situs nuklir negara tersebut.

Baru-baru ini, Trump menyatakan bahwa “armada besar” sedang dalam perjalanan menuju Iran dan mendesak rezim Ayatollah Ali Khamenei untuk menghentikan pembunuhan ribuan pengunjuk rasa.

Sumber pemerintah Trump menyebutkan kepada Axios bahwa operasi militer kemungkinan akan jauh lebih besar dibandingkan serangan AS dan Israel pada Juni lalu, serta akan berdampak masif bagi sisa kepemimpinan Presiden Trump.

AS telah membangun kehadiran militer dalam skala besar di wilayah itu, mencakup dua kapal induk, selusin kapal perang, ratusan jet tempur, hingga berbagai sistem pertahanan udara.

Peningkatan kekuatan militer yang masif ini kemungkinan besar menandakan bahwa AS tidak akan menarik diri dari kawasan tersebut sampai Iran memberikan konsesi besar atas program nuklirnya.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengancam akan menenggelamkan kapal induk Amerika yang dikirim ke Timur Tengah.

Menurut laporan Axios pada Kamis (19/2/2026), dua pejabat Israel menyatakan bahwa pemerintah Israel sedang bersiap menghadapi skenario perang dalam beberapa hari ke depan.

Namun, sumber-sumber dari AS menyebutkan bahwa pemerintahan Trump mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama.

Para pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa militer Washington tengah bersiap untuk operasi selama berminggu-minggu seandainya Presiden Trump memerintahkan serangan.

Pasukan AS pun dilaporkan mulai menarik diri dari pangkalan di Suriah sejak pekan lalu, yang kemungkinan mengindikasikan bahwa militernya sedang bersiap menyusun respons terhadap Iran.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index