JAKARTA – Israel disebut mengalami kerusakan dan korban jiwa akibat serangan rudal serta drone balasan dari Iran sejak konflik pecah pada 28 Februari.
Namun, gambar mengenai dampak tersebut jarang terlihat di media arus utama maupun di media sosial karena adanya pembatasan ketat dari militer Zionis.
Fakta mengenai pembatasan tersebut diungkap oleh jurnalis asal India, Praj Mohan Singh, yang baru kembali dari Israel. Singh menyebut otoritas Israel membatasi peliputan terkait dampak serangan Iran.
Menurut Singh, para jurnalis tidak diperbolehkan mengakses rumah sakit yang menampung jenazah maupun merekam lokasi kerusakan akibat serangan rudal dan drone Iran.
Singh juga mengatakan beberapa rudal Iran menghantam tanpa sirene peringatan berbunyi, yang dinilai bertentangan dengan jaminan resmi pemerintah Israel.
Kementerian Kesehatan Israel menyatakan bahwa 13 orang tewas dan 1.929 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan balasan Iran sejak 28 Februari.
“Pemerintah (Israel) tidak akan memberi tahu Anda apa pun, Anda tidak dapat mengunjungi rumah sakit yang berisi jenazah, dan ketika terjadi insiden, kami bahkan tidak tahu di mana itu terjadi,” katanya kepada Al Jazeera.
Singh juga menuturkan bahwa otoritas Israel mencegah jurnalis mendokumentasikan kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan Iran.
Kesaksiannya kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial, dan sebagian pengguna menilainya sebagai bukti adanya sensor militer yang ketat selama konflik terbaru.
Singh menggambarkan adanya perbedaan antara pernyataan resmi otoritas Zionis Israel dan kondisi di lapangan.
“Rudal Iran terkadang menyerang tanpa sirene peringatan,” katanya.
Menurut Singh, beberapa warga sipil bahkan dilaporkan tewas di dalam tempat perlindungan meskipun pemerintah Israel sebelumnya menjamin fasilitas tersebut aman.
Namun, wartawan disebut tidak diizinkan untuk merekam atau mendokumentasikan kerusakan tersebut.
Contoh lain yang dianggap janggal terjadi ketika NBC News merekam rudal Iran yang menghantam Tel Aviv. Meski demikian, informasi mengenai lokasi dampak maupun tingkat kerusakan tidak dipublikasikan secara terbuka.
Laporan sebelumnya dari Al Jazeera Open Source Unit menganalisis foto udara yang dirilis oleh platform Israel yang tidak berada di bawah sensor militer. Analisis tersebut mengidentifikasi titik serangan rudal di sebuah kompleks perumahan.
Menurut laporan tersebut, rudal menghantam langsung area tempat perlindungan dan menyebabkan kerusakan luas pada rumah-rumah di sekitarnya.
Media Israel juga memuat kesaksian warga di Beit Shemesh yang menggambarkan kekuatan serangan rudal Iran.
Sejumlah penduduk mempertanyakan apakah sistem peringatan dini memberi waktu yang cukup bagi warga untuk mencapai tempat perlindungan.
Meski militer Israel menyatakan bahwa peringatan telah diaktifkan, beberapa saksi menyebut warga tidak memiliki cukup waktu untuk mencapai lokasi perlindungan sebelum rudal menghantam.
Liputan media mengenai kondisi tersebut berbeda dengan situasi di Iran. Media di Teheran secara terbuka melaporkan bahwa agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan lebih dari 1.200 orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta melukai lebih dari 10.000 orang lainnya.
CNN Tak Sengaja Akui Sensor Israel
Saat serangan rudal antara Iran dan Israel meningkat, komentar seorang reporter CNN dalam siaran langsung memicu reaksi publik di internet.
Momen tersebut terjadi ketika reporter melaporkan serangan rudal Iran dan peluncuran sistem pencegat Israel di Tel Aviv. Dalam siaran tersebut, reporter secara tidak sengaja menyebut bahwa lokasi tertentu tidak dapat ditampilkan karena adanya pembatasan.
Reporter tersebut mengatakan dalam siaran langsung bahwa pemerintah Israel tidak mengizinkan jurnalis untuk menayangkan lokasi tertentu, khususnya area peluncuran rudal pencegat.
"Kami tidak menunjukkan itu kepada Anda..., karena pemerintah Israel tidak mengizinkan kami atau tidak ingin kami menunjukkan dari mana itu mungkin berasal," katanya.
Setelah pernyataan tersebut ditayangkan, sejumlah pengguna media sosial memberikan tanggapan keras. Salah satu komentar berbunyi: “LOL mereka baru saja mengakui di siaran langsung TV bahwa Israel MENGONTROL media dan outlet berita Amerika.”
Pengguna lain juga mendesak jurnalis untuk lebih terbuka dengan menuliskan, “@CNN Laporkan kebenaran. Jangan menahan diri! Itu adalah tanggung jawab Anda sebagai jurnalis.”
Meski demikian, sebagian pengamat menilai pembatasan tersebut memiliki alasan yang lebih sederhana, yakni berkaitan dengan keamanan operasional.
“Sebenarnya jauh lebih sederhana, karena alasan Opsec, pemerintah Israel tidak menginginkan video tentang lokasi jatuhnya rudal. Itu akan memberi Iran verifikasi apakah rudal/drone mengenai targetnya atau tidak. Dan ini menguntungkan mereka,” tulis seorang pengguna media sosial.
Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balistik baru beberapa menit setelah Israel mengeluarkan "sinyal aman", yang memicu bunyi sirene di sejumlah wilayah seperti Tel Aviv dan Beersheba.
Dengan meningkatnya korban jiwa di Beit Shemesh, muncul pertanyaan apakah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan sistem pertahanan udara Iron Dome mengalami tekanan berat.
Di tengah klaim bahwa Iran menyerang kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Presiden Israel Isaac Herzog memperingatkan Teheran dan kelompok sekutunya agar tidak memperluas konflik, sementara militer Israel melancarkan serangan “ekstensif” baru terhadap target rezim Iran.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News