JAKARTA – Maskapai berbiaya hemat Indonesia AirAsia menargetkan pertumbuhan kinerja sekitar 5% pada tahun ini.
Target tersebut sejalan dengan langkah perusahaan untuk mengoptimalkan kapasitas armada sekaligus membuka kembali sejumlah rute yang memiliki potensi permintaan tinggi.
Head of Indonesia Affairs & Policy Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi, menyampaikan bahwa target pertumbuhan tersebut juga mempertimbangkan kapasitas armada yang saat ini dimiliki perusahaan.
“Sekarang kapasitas yang terpasang kita masih 25 pesawat. Realisasinya sekitar 21 sampai 23 pesawat,” ujarnya di Jakarta, dikutip pada Sabtu (14/3/2026).
Menurut Eddy, perusahaan berusaha memaksimalkan pemanfaatan armada yang tersedia guna mendorong peningkatan trafik penumpang pada tahun ini.
Ia menambahkan bahwa dari sisi pertumbuhan, perusahaan menargetkan kenaikan sekitar 5% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sekarang kira-kira sekitar 5 persen saja,” kata Eddy.
Selain itu, perusahaan juga memprioritaskan pemulihan operasional seluruh pesawat agar dapat membuka peluang ekspansi rute.
Dengan bertambahnya jumlah armada yang kembali beroperasi, AirAsia berharap dapat melayani kembali rute-rute yang sebelumnya memiliki permintaan baik tetapi belum dapat dijalankan karena keterbatasan kapasitas.
“Sebetulnya dari sisi AirAsia tahun ini kami menargetkan bisa recovery seluruh pesawat yang ada. Dengan recovery pesawat itu kami bisa membuka rute-rute yang memang sebetulnya performancenya bagus, tapi karena kita tidak punya kapasitas kita tidak bisa masuk,” ujarnya.
Meski demikian, Eddy menegaskan bahwa pembukaan rute bersifat dinamis. Perusahaan akan terus mengevaluasi performa tiap rute dan tidak ragu menutup rute yang dinilai kurang optimal.
Sebagai contoh, AirAsia memutuskan menghentikan penerbangan menuju Darwin karena kinerja rute tersebut belum menunjukkan peningkatan yang memadai.
“Darwin itu kami tutup. Penerbangan terakhir tanggal 27 April karena performancenya tidak bisa naik-naik,” jelasnya.
Di sisi lain, perusahaan juga terus menambah rute baru yang dinilai memiliki prospek baik. Beberapa rute yang baru dibuka memperlihatkan kinerja yang cukup positif, bahkan tingkat keterisian kursinya mendekati 85%.
Pada periode Lebaran tahun ini, AirAsia juga mencatat tingginya permintaan perjalanan udara. Dari sekitar 440.000 kursi yang disediakan, sekitar 65% telah terjual hingga saat ini.
“Yang sold sekitar 65 persen dari totalnya sekitar 440 ribu seat,” kata Eddy.
Sebagai perbandingan, pada periode Lebaran tahun sebelumnya tingkat keterisian kursi AirAsia mencapai sekitar 85%. Pada tahun ini perusahaan memperkirakan tingkat keterisian tersebut akan berada di kisaran yang sama.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News