Tanpa Insentif, Indomobil Yakin Penjualan Motor Listrik Naik 2 Kali Lipat

Tanpa Insentif, Indomobil Yakin Penjualan Motor Listrik Naik 2 Kali Lipat
Ilustrasi booth pameran PT Indomobil EMotor Internasional. [Foto: indomobilemotor.co.id]

JAKARTA – PT Indomobil EMotor Internasional, anak usaha dari Indomobil Group yang bergerak di sektor otomotif, menegaskan bahwa meskipun tanpa insentif, penjualan motor listrik di Indonesia berpotensi meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan capaian sepanjang 2025.

CEO PT Indomobil EMotor Internasional, Pius Wirawan, menyampaikan bahwa salah satu faktor yang mendorong kenaikan permintaan motor listrik adalah potensi krisis energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah, yang dapat berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

“Salah satu faktor (potensi peningkatan harga BBM) iya. Tapi bukan faktor utamanya karena mostly masyarakat sudah memperhatikan produk mobil listrik dari jauh-jauh hari. Untuk 2026 peningkatannya bisa dibilang 2 kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu,” ungkap Pius, dikutip pada Rabu (8/04/2026).

Meski demikian, Pius menambahkan bahwa ada faktor lain yang turut berperan dalam peningkatan permintaan, yaitu terbentuknya ekosistem motor listrik di Indonesia yang menunjukkan sejumlah keunggulan, terutama dari sisi efisiensi energi dan aspek ramah lingkungan.

“Karena kami sudah konsisten membangun market, ini muncul snowball effect. Jadi semakin banyak orang yang aware dan percaya memilih produk motor listrik sehingga peningkatan terjadi,” ungkapnya.

Di sisi lain, perusahaan menilai penghentian insentif kendaraan listrik pada akhir 2025 oleh Kementerian Perindustrian tidak berdampak pada penurunan permintaan, khususnya di segmen motor listrik.

“Menurut saya sudah tidak ada pengaruhnya, karena pada 2025 kan sudah berhenti subsidi, pada 2025 sudah tidak ada. Tapi, sekarang masyarakat Indonesia juga sudah tahu, produk dan kualitasnya yang bagus dan solusi untuk hemat, jadi sudah tidak terlalu terpengaruh,” ungkapnya.

Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan bahwa jika insentif kendaraan listrik kembali diberikan, maka lonjakan pembelian bisa semakin terasa.

“Tapi saat ini, tidak ada subsidi tidak memberikan dampak negatif, karena titiknya sekarang secara organik,” ungkapnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia, Budi Setiyadi, menyatakan bahwa fokus pelaku industri saat ini bukan lagi mengejar pertumbuhan agresif, melainkan menjaga tren peningkatan penjualan secara bertahap.

Berdasarkan catatan asosiasi, penjualan motor listrik pada 2025 mencapai sekitar 55.059 unit berdasarkan data SRUT dari Kementerian Perhubungan.

“Tahun ini kita enggak muluk-muluk. Kalau sekarang 55.000 unit, kalau tahun 2026 kita targetkan naik 25.000 unit, berarti bisa mencapai 75.000 unit,” ujar Budi beberapa waktu lalu.

Untuk mencapai target tersebut, Aismoli telah menyiapkan tiga skenario proyeksi, yaitu optimistis, moderat, dan pertengahan. Namun, dengan kepastian tidak adanya subsidi pada 2026, pelaku industri lebih mengandalkan strategi internal serta penguatan ekosistem.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index