JAKARTA – Sudahkah Anda menikmati kopi hari ini? Sebagian individu memilih menghindari minuman ini akibat mengidap hipertensi.
Padahal, terdapat beberapa metode agar tetap dapat menyesap kopi meskipun memiliki gangguan tekanan darah tinggi.
Saat ini kedai kopi kian menjamur. Beraneka jenis kreasi minuman kopi dapat dijumpai, mulai dari kopi susu, mocktail, hingga racikan kopi dengan cita rasa buah.
Hanya saja, tidak semua kalangan dapat menikmati kopi dengan bebas. Kondisi kesehatan spesifik, salah satunya hipertensi, memicu orang memutuskan untuk menjauhi minuman ini.
Padahal, aspek utama dalam meminum kopi adalah moderasi serta benar-benar memahami kondisi tubuh sendiri.
Lantas, bagaimana sebenarnya pengaruh kopi terhadap tekanan darah?
Secara normal, tekanan darah berada pada angka 120/80 mmHg. Sementara itu, tekanan darah yang tergolong kategori hipertensi secara konsisten berada pada angka 140/90 mmHg.
Di sisi lain, kopi memiliki kandungan kafein yang berperan sebagai stimulan. Bagi sebagian orang, kafein mampu meningkatkan denyut jantung yang dapat berujung pada aritmia atau detak jantung yang tidak beraturan.
Selain itu, kafein dapat memicu produksi adrenalin. Adrenalin inilah yang kemudian mengakibatkan jantung berdetak lebih cepat, penyempitan pembuluh darah, hingga naiknya tekanan darah.
Namun di balik itu, kopi mengandung ratusan fitokimia yang memengaruhi rasa, aroma, serta memberikan dampak bagi tubuh.
Dalam deretan fitokimia kopi, terdapat melanoidin yang bertugas mengatur aktivitas enzim pengendali tekanan darah. Tersedia pula asam kuinik yang terbukti mampu menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik.
Mencermati fenomena ini, pengidap hipertensi sebenarnya tetap diperbolehkan minum kopi. Namun, merujuk pada informasi dari detikHealth, terdapat beberapa poin yang perlu kami perhatikan sebagai berikut:
1. Memahami tekanan darah, riwayat kesehatan, serta sumber kafein dari pangan dan minuman yang dikonsumsi.
2. Memeriksa faktor lain yang berdampak pada tekanan darah seperti garis keturunan, pola makan, konsumsi garam, serta aktivitas fisik.
3. Memperhatikan bagaimana respons tubuh terhadap asupan kafein.
4. Guna menjaga kualitas tidur, hindari konsumsi kopi pada waktu sore atau malam hari.
5. Batas maksimal adalah empat cangkir kopi atau pilihlah varian kopi tanpa kafein (dekaf).
Apabila selama mengonsumsi kopi angka tekanan darah sistolik menyentuh 160 mmHg atau diastolik mencapai 100 mmHg, maka ada baiknya frekuensi minum kopi harian mulai dikurangi.