Isu Perang Dunia III Mencuat, PM Hongaria Ungkap Skenario Militer Uni Eropa

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:14:25 WIB
Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban. [Foto: ANTARA/REUTERS/Bernadett Szabo]

JAKARTA - Para pemimpin di benua Eropa dikabarkan sedang menyusun “dewan perang” sebagai langkah persiapan untuk meraih kemenangan apabila Perang Dunia III benar-benar terjadi.

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, di tengah situasi ketegangan geopolitik dunia yang terus meningkat.

Berdasarkan penilaian Orban, Uni Eropa saat ini mulai meninggalkan strategi diplomasi dan beralih fokus pada persiapan menghadapi pertikaian militer dalam skala besar.

Klaim Orban terkait perubahan arah kebijakan Uni Eropa

Saat menyampaikan pidato dalam aksi unjuk rasa anti-perang pada Sabtu (17/1/2026), Viktor Orban menyebutkan bahwa Uni Eropa tidak lagi mengutamakan jalan damai, melainkan telah melangkah menuju persiapan perang yang nyata.

Ia memberikan peringatan bahwa blok kawasan tersebut “bergerak mantap menuju konflik langsung.”

Pernyataan Orban ini muncul ketika kondisi geopolitik sedang dalam fase yang sangat panas. Di wilayah timur, krisis di Ukraina masih terus berlangsung tanpa adanya indikasi akan segera berakhir.

Sementara itu di wilayah barat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan kejutan pada aliansi NATO melalui dorongan agresif terbarunya untuk mengambil alih Greenland.

Dalam situasi “guncangan global” seperti inilah, Orban berpendapat bahwa para elite di Eropa telah menetapkan pilihan untuk bersiap menghadapi konfrontasi terbuka secara masif.

“Dewan Perang” di Uni Eropa

Perdana menteri berumur 62 tahun itu, yang sering dianggap sebagai tokoh politik dengan pandangan berbeda dari kebijakan utama Uni Eropa, memaparkan situasi pertemuan para pemimpin Eropa yang berlangsung di Brussel.

Ia menyebutkan bahwa rapat yang dihadiri oleh 27 kepala negara tersebut bukan lagi berisi debat mengenai kebijakan publik, melainkan telah menjadi sesi perencanaan militer dengan risiko tinggi.

“Saya duduk di sana bersama mereka,” kata Orban kepada khalayak, “dan saya katakan dengan sangat tegas bahwa mereka akan pergi berperang.”

Menurut pengamatan Orban, para pemimpin dari negara-negara utama di Eropa, terutama Prancis dan Jerman, sudah tidak lagi mendiskusikan soal perdamaian.

Malah sebaliknya, mereka dinilai sangat terobsesi pada sistem untuk menundukkan Rusia secara menyeluruh.

Pembicaraan tersebut, klaim Orban, meliputi rencana untuk menuntut Rusia membayar biaya perbaikan perang serta upaya menarik kembali dana miliaran yang telah dikucurkan untuk konflik di Ukraina.

“Bukan anak-anak yang duduk di sana,” ujarnya, sembari menekankan bahwa pembagian anggaran keuangan dan dukungan militer yang diputuskan oleh para pemimpin tersebut merupakan tahap awal dari perselisihan global yang lebih luas.

Posisi Hongaria

Terkait posisi Hongaria, Orban menyatakan sikap isolasi yang berseberangan dengan arus utama. Ia memberikan jaminan bahwa pihak pemerintahannya akan “menutup pintu rapat-rapat” dengan segala kemampuan, serta menolak untuk mengerahkan pasukan maupun pendanaan ke medan tempur.

Dasar dari keputusan tersebut bukan hanya karena alasan perdamaian, namun juga pertimbangan ekonomi.

“Jika Anda tidak punya uang, Anda tidak punya rencana besar,” ucapnya, seraya memberikan argumen bahwa beban finansial apabila Hongaria sampai “terseret” ke dalam perselisihan tersebut akan merusak masa depan negaranya.

Terkini