Sasar Efisiensi Nasional, Danantara Jadwalkan Restrukturisasi BUMN Besar Mulai 2026

Sasar Efisiensi Nasional, Danantara Jadwalkan Restrukturisasi BUMN Besar Mulai 2026
Ilustrasi Wisma Danantara Indonesia. [Foto: via setneg.go.id]

JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) mengumumkan bahwa langkah reformasi bagi jajaran perusahaan BUMN skala besar akan menjadi prioritas agenda berikutnya yang mulai dieksekusi pada 2026.

Melansir informasi pada Kamis (15/1/2026), Danantara menilai PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), berada pada jalur yang sesuai untuk memulihkan pendapatan seiring penurunan biaya dana serta perbaikan pertumbuhan penyaluran kredit.

Di sisi lain, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dianggap memiliki posisi strategis untuk memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham melalui optimalisasi aset yang lebih maksimal.

Informasi tersebut bersumber dari dokumen Danantara Economic Outlook 2026 di Jakarta, yang dikutip pada Kamis (15/1/2026).

Danantara juga mengklaim telah mendapatkan kepercayaan pasar pada level tertentu melalui upaya perbaikan yang sedang berjalan di PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), dan PT Timah Tbk (TINS).

Danantara mencatat bahwa akumulasi total aset BUMN saat ini merepresentasikan lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia. Berdasarkan skala masif tersebut, setiap peningkatan pada aspek operasional BUMN dipercaya bakal memberikan pengaruh luas bagi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.

Terlebih lagi, rutinitas ekonomi warga sehari-hari berkaitan erat dengan peran BUMN, mulai dari pasokan listrik lewat PT PLN, ketersediaan bahan bakar melalui PT Pertamina, jasa penerbangan lewat Garuda Indonesia, hingga pengelolaan tabungan warga oleh Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Presiden RI Prabowo Subianto secara instruktif menetapkan target perampingan jumlah BUMN, dari yang sebelumnya lebih dari 1.000 perusahaan menjadi berkisar 200 entitas saja.

Akan tetapi, Danantara memberikan catatan bahwa langkah perampingan tersebut merupakan rencana kerja jangka menengah hingga panjang, dan bukan target korporasi yang diselesaikan dalam satu tahun kalender saja.

“Bagi pasar publik, jumlah entitas yang lebih sedikit dapat berarti lebih sedikit konflik mandat dan keputusan bisnis yang lebih konsisten, yang pada akhirnya akan menghasilkan pengembalian yang lebih besar bagi pemegang saham dalam bentuk dividen,” tulis Danantara.

Selanjutnya, Danantara memproyeksikan BUMN untuk bertransformasi menjadi institusi yang lebih kokoh dalam menghadapi dinamika ekonomi makro, seperti perubahan harga komoditas serta tingginya volatilitas di pasar keuangan global yang berpotensi menghambat keputusan pendanaan.

“Pasar telah merespons secara positif terhadap pemulihan beberapa BUMN, sebagaimana dibuktikan oleh kenaikan tajam harga saham. Investor menghargai kemajuan restrukturisasi yang nyata, menandakan kepercayaan pada agenda reformasi,” tulis dokumen Danantara Economic Outlook 2026.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index