JAKARTA – Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai peluang ekspor kopi Gayo dan Mandailing ke pasar Rusia sangat prospektif.
Hal ini didorong oleh pergeseran peta perdagangan dunia serta meningkatnya konsumsi kopi di kawasan Eurasia.
Bamsoet menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Rusia menunjukkan tren peningkatan impor kopi dari negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Data perdagangan tahun 2025 memperlihatkan ekspor kopi Indonesia secara keseluruhan menembus angka lebih dari US$ 1 miliar dengan volume mencapai ratusan ribu ton.
"Rusia adalah pasar besar dengan lebih dari 140 juta penduduk dan tingkat konsumsi kopi yang terus meningkat, terutama di kota-kota seperti Moskow dan St. Petersburg. Dalam dua tahun terakhir, permintaan terhadap kopi meningkat signifikan. Ini peluang emas bagi kopi Gayo dan Mandailing yang memiliki karakter rasa kuat dan unik," ujar Bamsoet dalam keterangannya, dikutip pada Jumat (13/2/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima Delegasi Rusia-Indonesia untuk coffee market Rusia di Jakarta. Bamsoet memaparkan bahwa kopi Gayo dari Aceh dan kopi Mandailing dari Sumatera Utara memiliki reputasi internasional yang kuat.
Di pasar global, kedua varietas ini masuk dalam segmen premium dengan harga lelang yang mampu menembus dua hingga tiga kali lipat harga kopi komersial biasa.
"Kami punya kualitas kopi yang diakui dunia. Tantangannya sekarang adalah bagaimana memastikan pasokan konsisten, menjaga standar mutu, serta memperkuat branding Indonesia di pasar Rusia. Importir Rusia mencari kepastian kualitas dan kontinuitas suplai. Di sinilah peran pemerintah dan asosiasi eksportir menjadi krusial untuk mendampingi petani dan UMKM," kata Bamsoet.
Lebih lanjut, Bamsoet menegaskan bahwa momentum kerja sama perdagangan dengan negara-negara Eurasia harus dimanfaatkan secara maksimal, terutama dengan adanya perundingan dagang yang membuka ruang tarif lebih kompetitif.
Di tengah dinamika geopolitik, Rusia tengah melakukan diversifikasi sumber impor untuk komoditas pangan dan minuman.
Indonesia berada pada posisi strategis untuk mengisi celah pasar tersebut agar tidak diambil oleh negara pesaing seperti Vietnam atau Brasil.
"Dalam konteks geopolitik saat ini, Rusia melakukan diversifikasi sumber impor. Indonesia harus hadir sebagai mitra yang bisa dipercaya. Kami perlu diplomasi ekonomi yang agresif, misi dagang terpadu, serta promosi kopi Gayo dan Mandailing di berbagai pameran internasional di Moskow dan kota besar lainnya," tutup Bamsoet.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News