Waspada, Ini Tanda Overthinking yang Mulai Mengancam Kesehatan Mental

Jumat, 27 Februari 2026 | 14:54:44 WIB
Ilustrasi overthinking. [Foto: NET]

JAKARTA – Tatkala pikiran terus berputar tanpa henti hingga mengganggu waktu tidur serta aktivitas harian, hal itu dapat menjadi sinyal bahwa overthinking telah berdampak pada kesehatan mental.

Memikirkan sesuatu secara mendalam kerap dianggap sebagai bentuk kehati-hatian. Namun, saat pikiran berputar tanpa jeda, mengulang skenario serupa, dan memicu ketegangan tubuh, hal tersebut bukan lagi sekadar refleksi biasa.

Overthinking yang dibiarkan berlarut-larut dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan mental. Menukil laman Very Well Mind, overthinking menyebabkan keputusan sederhana terasa begitu berat.

Kebiasaan ini tidak membantu menemukan solusi, melainkan justru membuat seseorang terjebak dalam pusaran kekhawatiran serta keraguan yang menghambat langkah nyata.

Disarikan dari berbagai sumber, berikut merupakan beberapa tanda bahwa overthinking sudah mulai mengganggu kesehatan mental:

1. Pikiran sulit berhenti

Salah satu indikasi paling nyata adalah ketika pikiran terus mengulang percakapan yang telah berlalu, membayangkan skenario terburuk, atau memikirkan kesalahan lama secara berulang.

Pola ini disebut sebagai rumination, yaitu merenungkan hal yang sama tanpa membuahkan solusi. Kondisi ini sering kali memburuk saat malam hari; tubuh sudah lelah, namun otak tetap aktif seakan tidak memiliki tombol jeda.

2. Mengganggu kualitas tidur

Riset menunjukkan bahwa kebiasaan merenung yang berlebihan berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk. Pikiran yang terus aktif membuat seseorang sulit terlelap atau gagal mencapai tidur nyenyak.

Hal ini menyebabkan orang yang overthinking tidak bisa berhenti berpikir meski tubuh sudah berada di tempat tidur.

Kurang tidur kemudian memperparah kondisi emosional di hari berikutnya, sehingga kecemasan meningkat dan pikiran semakin sulit dikendalikan hingga membentuk lingkaran yang sulit diputus.

3. Cemas tanpa henti

Mengutip Women in Balance, overthinking hampir selalu berjalan beriringan dengan kecemasan. Tubuh berada dalam mode siaga terus-menerus meskipun tidak ada ancaman yang nyata.

Dada terasa sesak, jantung berdebar kencang, sulit rileks, dan muncul rasa khawatir berlebih. Jika terjadi hampir setiap hari dan mengganggu aktivitas, kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan kecemasan.

4. Terjebak skenario buruk

Overthinking juga sering dibarengi distorsi kognitif, seperti catastrophizing atau membayangkan hasil terburuk sebagai sesuatu yang pasti terjadi. Kesalahan kecil dapat terasa seperti ancaman besar.

Pola pikir ini meningkatkan stres dan dalam jangka panjang dapat memperbesar risiko depresi karena seseorang terus berfokus pada kemungkinan negatif.

5. Sulit mengambil keputusan

Menyadur dari NeuroLaunch, menghabiskan waktu lama hanya untuk memilih hal kecil, seperti menentukan menu makan atau membalas pesan, dapat menjadi tanda overthinking telah menghambat fungsi sehari-hari.

Terlalu banyak berpikir justru membuat keputusan kian sulit diambil dan energi mental terkuras sebelum tindakan dilakukan. Kondisi ini memicu kelelahan mental serta rasa frustrasi pada diri sendiri.

6. Hubungan sosial terganggu

Overthinking juga dapat merusak relasi. Terlalu sering menafsirkan ulang ucapan orang lain, mempertanyakan niat mereka, atau mencari makna tersembunyi dalam tiap pesan dapat memicu konflik.

Seseorang mungkin membutuhkan kepastian terus-menerus atau justru menarik diri karena takut salah, yang mana kedua pola ini melelahkan bagi diri sendiri maupun orang di sekitarnya.

Kebiasaan ini biasanya tidak muncul tiba-tiba. Peristiwa hidup yang penuh tekanan, ketidakpastian masa depan, pengalaman traumatis, hingga perfeksionisme dapat menjadi pemicu.

Orang dengan standar diri sangat tinggi cenderung menganalisis tiap kemungkinan demi menghindari kesalahan. Namun, karena hidup penuh variabel yang tak bisa dikontrol, pikiran tak pernah benar-benar merasa puas.

Overthinking memang bukan gangguan mental tersendiri, namun kebiasaan ini berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, hingga gangguan stres pascatrauma jika dibiarkan.

Jika berbagai cara seperti distraksi sehat, meditasi, atau berbagi cerita dengan orang terdekat tidak membantu, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa menjadi langkah penting.

Terapi dapat membantu mengenali pola pikir yang tidak sehat sekaligus melatih strategi mengelolanya bagi kami.

Terkini