JAKARTA – Bidang financial technology (fintech) dianggap tetap mempunyai potensi besar dalam menggerakkan roda ekonomi nasional.
Selain berperan meningkatkan inklusi keuangan dan sirkulasi ekonomi di daerah, sektor industri ini juga terus memikat perhatian investor asing untuk menginvestasikan modal mereka di Indonesia.
Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), layanan keuangan digital yang mencakup permodalan, investasi mikro, serta sistem pembayaran digital memberikan kontribusi sebesar 80,5 persen bagi pencapaian inklusi keuangan nasional.
Data tersebut memperlihatkan peran krusial fintech dalam memperlebar akses layanan keuangan, terutama bagi kalangan masyarakat yang mulanya belum tersentuh oleh layanan perbankan formal.
Kekuatan potensi ini terlihat dari performa beberapa pelaku industri. Sebagai contoh, fintech Amartha membukukan pertumbuhan penyaluran dana yang stabil selama 16 tahun belakangan.
Mulai tahun 2010 sampai 2025, Amartha sudah menyalurkan modal kerja lebih dari Rp37 triliun kepada UMKM, termasuk di antaranya Rp13,2 triliun sepanjang tahun 2025, dengan menyasar lebih dari 3,7 juta pelaku UMKM yang tersebar di lebih dari 50.000 desa.
Pendiri sekaligus CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menjelaskan bahwa penguatan posisi fintech di tanah air didukung oleh pemahaman pasar yang mendalam, penyediaan produk yang sesuai, serta manajemen risiko dan tata kelola yang kian berkualitas.
“Produk kami didesain atas dasar pemahaman mendalam tentang kebutuhan UMKM akar rumput. Kombinasi pemahaman market, tata kelola, dan partnership global menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya.
Amartha kini juga telah memegang izin dompet digital dari Bank Indonesia, yang menyempurnakan layanan keuangan digital dalam satu platform aplikasi, mulai dari instrumen investasi mikro, transaksi pembayaran digital, hingga proses pengajuan modal usaha.
Guna memperluas jangkauan di area perdesaan, Amartha mengembangkan jaringan AmarthaLink yang saat ini telah diikuti oleh lebih dari 50.000 pengguna.
Fintech di Mata Investor
Dilihat dari sudut pandang investasi, Rudiantara selaku Komisaris Utama Amartha, berpendapat bahwa fintech di Indonesia masih sangat atraktif bagi para investor global.
Rudiantara menyebutkan bahwa skema bisnis yang transparan, tata kelola yang kokoh, serta pengelolaan risiko yang andal menjadi parameter utama kepercayaan para pemodal.
Secara keseluruhan industri, daya pikat sektor fintech ini dibuktikan dengan masuknya arus investasi asing yang menyentuh angka US$549 juta pada tahun 2024.
Bukan hanya itu, fintech juga berperan dalam membuka lapangan pekerjaan, di mana mitra UMKM Amartha di wilayah perdesaan tercatat telah menciptakan lebih dari 110.000 kesempatan kerja baru.
Pihak OJK memandang tren ini mengindikasikan bahwa sektor fintech di Indonesia masih memiliki peluang positif serta ruang pertumbuhan yang sangat lebar dalam menyokong perekonomian nasional.