JAKARTA – Mantan Sekretaris Negara AS Hillary Clinton mendakwa Presiden AS Donald Trump telah menjadikan dirinya serta Bill Clinton sebagai alat pengalih isu dalam perkara Jeffrey Epstein.
Clinton berpandangan bahwa investigasi dari kubu Republik terhadap dirinya hanyalah sebuah ikhtiar untuk memalingkan atensi dari Trump, yang namanya juga tercatat berkali-kali di dalam dokumen Epstein.
"Lihat 'objek berkilau' ini. Mereka kemudian memanggil keluarga Clinton. Bahkan saya, yang sama sekali belum pernah bertemu pria itu (Epstein)," tutur Hillary Clinton seperti dikutip dari AFP, Rabu (18/2/2026).
Ia selanjutnya menuduh Trump menyusun upaya "penutupan fakta" terkait dokumen pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Hal tersebut ia kemukakan dalam sesi wawancara dengan BBC yang dirilis pada Senin (16/2/2026) di Berlin.
"Keluarkan berkas-berkasnya. Mereka sengaja memperlambat prosesnya," ujar Clinton, yang direncanakan bakal memberikan kesaksian di depan komite Kongres mengenai persoalan ini.
Bulan lalu, Departemen Kehakiman AS mengeluarkan koleksi terbaru "berkas Epstein"—lebih dari 3 juta dokumen, foto, serta video berkaitan dengan penyelidikan terhadap Epstein, yang dikabarkan wafat karena bunuh diri dalam sel tahanan pada 2019.
Suami Hillary sekaligus Presiden ke-42 AS Bill Clinton kerap kali disebut di dalam berkas itu. Namun, hingga saat ini belum ditemukan bukti yang memperlihatkan keterlibatan kriminal pasangan Clinton tersebut.
Pasangan ini telah diinstruksikan untuk memberikan kesaksian secara tertutup di hadapan Komite Pengawasan DPR AS. Komite itu tengah menyelidiki relasi Epstein dengan figur-figur kuat, serta bagaimana informasi mengenai kejahatannya dikelola.
"Kami akan datang, tetapi kami pikir akan lebih baik jika dilakukan secara terbuka untuk publik," kata Hillary Clinton kepada BBC.
"Saya hanya ingin ini adil dan semua orang diperlakukan dengan cara yang sama."
Hillary menekankan bahwa ia bersama suaminya tidak memiliki hal apa pun yang perlu ditutupi dari masyarakat. Ia berujar telah berulang kali mendesak agar seluruh berkas dipublikasikan secara utuh.
Walaupun Departemen Kehakiman menyebut tidak ada lagi berkas yang tersisa, para pembuat kebijakan melayangkan kritik kepada lembaga itu karena belum mengedarkan memo internal pemerintah, catatan, serta email terkait Epstein.
Di sisi lain, Trump menepis telah melakukan kesalahan. Perlu digarisbawahi bahwa sekadar penyebutan nama di dalam dokumen tersebut bukanlah sebuah bukti telah terjadinya perbuatan pidana.
Bill Clinton mengakui pernah terbang memakai pesawat Epstein pada awal 2000-an demi keperluan kemanusiaan yayasannya, akan tetapi ia menegaskan tidak pernah mendatangi pulau pribadi milik Epstein.
Sementara itu, Hillary menyebutkan tidak pernah melakukan interaksi secara berarti dengan Epstein, tidak pernah menumpangi pesawatnya, ataupun berkunjung ke pulaunya.
Hillary menjadwalkan diri untuk memberikan kesaksian pada 26 Februari, sedangkan Bill Clinton pada 27 Februari. Merespons tudingan Hillary, Trump membantahnya dan mengklaim dirinya telah "benar-benar dibebaskan dari segala tuduhan".