Cerpen Denaar

Lestari In Memory

Ilustrasi

“Terima kasih sudah mau datang.”

Sandra beserta suami barunya sibuk berjabat tangan, berpelukan sejenak, bercanda dengan para tamu undangan. Ucapan selamat bertubi-tubi didapatkan dari para teman sepekerjaan dan semua tetangga. Rasa bahagia yang membuncah tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ya, senja itu adalah hari pernikahannya dengan Rian. Hari di mana dia mengakhiri masa gadisnya.

“San, kamu melamun?”

“Ah, nggak kok, Mas. Ada yang diperlukan? Biar kuambilkan.” Sandra menawari suaminya, barangkali butuh sesuatu.

“Nggak, nggak, aku nggak perlu apa-apa. Kebetulan tadi aku lihat kamu duduk melamun melihat keluar. Ada apa?” tanyanya penuh kesabaran.

Yang ditanya hanya tersenyum sedikit menggoda. Dia malu mengatakan kalau baru saja melamunkan hari pernikahannya delapan tahun lalu.

“Melamunkan itu lagi? Yang sabar, ya. Mungkin Allah belum menginzinkan kita untuk memiliki momongan.” Nada rasa bersalah dalam ucapan Rian tampak jelas.

“Jadi, Mas Rian mengira kalau aku melamunkan anak?”

“Iya, Mas, aku ngerti kok. Yang penting kita sudah berusaha.”

Malam itu mereka habiskan bersama. Kapan lagi bisa berkumpul dengan suaminya kalau tidak sedang liburan. Suaminya karyawan di perusahaan swasta luar kota. Bisa pulang seminggu sekali Sandra sudah senang. Ada alasan kuat yang membuatnya tidak bisa turut tinggal di kota bersama suaminya. Sejak sebelum menikah, Rian juga sudah tahu hal itu.

***

“Ayolah, San, ikut ke kota. Kita tinggal di kontrakanku. Rumahnya cukup luas kok kalo cuma untuk kita berdua,” bujuk Rian suatu hari pada isterinya.

“Maaf, Mas, bukannya aku nggak mau, tapi ....” Sandra menggantung ucapannya, mencari alasan yang tepat.

“Apa lagi? Selalu itu alasanmu! Kamu itu bukan anak kecil lagi, Sandra. Kita sudah menikah hampir sembilan tahun, cobalah sedikit mengubah pemikiranmu itu.” Rian sedikit jengkel dengan sikap Sandra yang bersikukuh tetap tinggal di desa.

“Mas.”

Rian pergi meninggalkannya sendirian terduduk di tepi kasur kamarnya sambil meneteskan air mata. Berat rasanya bagi seorang Sandra untuk memutuskan. Bukan masalah tidak tega meningglakan orang tuanya yang mulai renta, karena sudah seharusnya anak gadis yang bersuami ikut suaminya. Bila ikut suaminya ke kota, perempuan berwajah tirus itu tentu harus merelakan pekerjaannya sebagai guru TK di desanya. Padahal itulah yang dia dambakan sejak dulu, menjadi guru di desa. Apalagi sekarang Sandra sudah resmi menjadi ASN, yang berarti harus mengabdi sepenuh jiwa raga di tempatnya bekerja.

***

Lelah usai dari mengajar dan rapat di kecamatan, Sandra menemukan notifikasi pesan chat dari Rian. Chai itu berisi copy chat obrolan Rian dengan rekan kerjanya.

Toni : "Elo gak masuk kerja? Udah jam segini. Entar kena sembur Pak Bos.”

Rian : “Gue lagi deman. Tadi udah bilang sama si Gita kok.”

Toni : “Lo lagi di kampung atau di kontrakan sih?”

Rian : “Di kontrakan. Pulang kerja lo ke sini dong, temenin gue.”

Toni : “Dih, kasihan banget lo. Kayak masih idup sendiri aja, padahal punya isteri.” (emot tertawa ngakak)

Rian : (emot sedih)

Sandra hanya bisa mendesah berat membaca chat itu. Dia paham sekali maksud suaminya mengirimkan copy chat itu.

“Dasar!”

Sandra tersenyum, jarinya seketika menyentuh layar ponsel, mengetik emot tertawa ngakak, lalu dikrimkan ke suaminya. Dalam hati dia merintih membaca chat tadi. Suaminya sakit, tapi dia berada jauh di sini.

Dilemparnya tas begitu saja di kasur, kemudian dia duduk termenung di kursi, menatap meja yang cuma berisi beberapa perlengkapan make up dan botol parfum serta body lotion.

“Ada apa, Nduk?”

“Eh, ibu.”

Dia tersentak kaget ketika tahu ibunya tiba-tiba berdiri di sampingnya.

“Patuhilah kata suamimu. Percaya pada ibu, rejeki Allah ada di mana-mana. Kamu tidak usah khawatir jika harus berhenti menjadi guru. Masih ada rejeki Allah dari arah lain. Bukannya ibu selalu mengajarimu begitu.”

“Tapi, Bu?”

“Kamu mengkhawatirkan kondisi bapak dan ibu di sini? Nduk, ibu sama bapakmu sudah tua, cepat atau lambat juga pasti dipanggil Allah. Pergilah, tinggallah di kota bersama suamimu, tidak usah cemas dengan bapak ibu. Siapa tahu di sana kamu cepat dikaruniai momongan.”

“Ibu.” Sandra memeluk erat ibunya sambil menangis terisak-isak.

Sandra merenung sejenak. Apa yang dikatakan ibunya memang benar. Keputusannya sudah bulat. Segera dia mengambil ponsel dan menelepon suaminya.

***

Ahad sore terminal Kertosono tampak ramai. Ditemani orang tuanya, Sandra dan suaminya bersiap-siap menuju bus jurusan Surabaya.

“Bapak, Ibu, Sandra ....”

Belum selesai berpamitan, dia jatuh pingsan.

Tak ada alasan lagi untuk Sandra menolak permintaan sang suami agar tinggal di kota. Setelah dibawa ke rumah sakit terdekat dan diperiksa, dia dinyatakan positif hamil dua bulan. Sungguh kejutan yang luar biasa.

Selamat tinggal Desa Lestari, tanah kelahiranku yang penuh kenangan dan kejutan. Selamat datang Surabaya.

(bantul, 11 Agustus 2019)


Denaar adalah nama pena dari Dewi Ratna Sari. Lahir di Nganjuk, 15 September 1989. Penulis sangat menyukai bakso dan petrichor. Kesibukannya saat ini yaitu menulis, guru TK IT di Jogja, dan editor freelance penerbit indi. Ingin tahu lebih jelas tentang penulis? Temui dia di FB: Dewi Ratna IG: dewiratnasari_1989 surel: [email protected]



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar