JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN tengah menyusun strategi ekspansi bisnis dengan menargetkan akuisisi anak usaha di bidang asuransi hingga perusahaan pembiayaan (multifinance) pada tahun 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari rencana aksi korporasi perseroan guna memperkokoh model bisnis yang berfokus pada pembiayaan perumahan.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan bahwa rencana tersebut meliputi penguatan modal di sektor asuransi serta pembentukan unit usaha baru pada bidang pembiayaan syariah.
"Kemudian kami mengusulkan ada penambahan capital di perusahaan asuransi, dan pendirian anak usaha, perusahaan pembiayaan syariah, dan seterusnya. Ini adalah seluruh inisiatif BTN di tahun 2026 ini," ujar Nixon dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta Pusat, dikutip pada Rabu (28/1/2026).
Perusahaan, lanjut Nixon, sedang mengajukan usulan kepada pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara agar diberikan kesempatan untuk mengakuisisi perusahaan asuransi, khususnya yang berkaitan dengan pembiayaan rumah.
"Kami memang masih mengusulkan ke pemerintah dalam hal ini ke Danantara. Untuk kami boleh mengakuisisi satu perusahaan yang asuransi terutama," ujar Nixon usai rapat tersebut.
Nixon menyebutkan bahwa keperluan BTN terhadap perusahaan asuransi tersebut memiliki hubungan langsung dengan penguatan ekosistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terutama dalam pengadaan mortgage insurance.
"Karena memang kami butuh mortgage insurance hari ini. Karena kalau yang sekarang kan adanya asuransi kebendaan dan asuransi jiwa. Kami ingin itu bisa di-package jadi satu semasa penjaminan kredit yang lebih murah nantinya preminya. Kalau preminya mahal, kan kasihan KPR-nya," ujar Nixon.
Walau demikian, Nixon menyampaikan bahwa rencana ini masih berada pada tahap awal dan belum dipaparkan secara resmi kepada pihak Danantara.
"Belum (dibahas lebih lanjut). Kami baru masukin RBB (rencana bisnis bank) tapi belum. Belum presentasi lagi, minta waktu Danantara," ujarnya.
Beriringan dengan rencana ekspansi itu, perusahaan juga menetapkan beberapa target kinerja utama untuk tahun 2026.
Nixon memaparkan bahwa pertumbuhan kredit ditargetkan pada rentang 8—9 persen, meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan target tersebut ditingkatkan mengingat capaian BTN pada 2025 berada di angka sekitar 12 persen.
"Kami merencanakan sampai dengan tahun depan, loan growth-nya mungkin masih 8 sampai 9 persen, tapi ini OJK terus terang minta dinaikkan karena tahun ini kami 12 persen," ujarnya.
BTN pun menetapkan target pertumbuhan laba bersih yang cukup besar di angka 20-22 persen, sejalan dengan tuntasnya penyelesaian masalah kredit bermasalah dari masa lalu.
Pada sisi efisiensi, BTN mematok target cost of fund turun di bawah 3,6 persen, dengan cost of credit pada kisaran 1-1,2 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau NPL diharapkan dapat ditekan hingga di bawah 3 persen.
Munculnya rencana BTN untuk mengakuisisi anak usaha asuransi ini terjadi di tengah agenda restrukturisasi besar-besaran BUMN asuransi yang dipersiapkan oleh Danantara.
Lembaga tersebut berencana merampingkan jumlah BUMN asuransi dari 15 perusahaan menjadi hanya tiga perusahaan utama.
Managing Director/Chief Economist Danantara Reza Yamora Siregar sebelumnya menyebutkan bahwa sebagian besar BUMN asuransi saat ini kinerjanya belum optimal.
"Dari 15 itu kemungkinan kami hanya ingin pertahankan tiga," ujar Reza dalam acara Insurance Industry Dialogue di Jakarta.
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria juga menambahkan bahwa penggabungan ini meliputi pembentukan tiga pilar utama asuransi BUMN, yaitu life insurance, general insurance, dan credit insurance.
Dony menjelaskan bahwa konsolidasi ini adalah bagian dari skema penyusutan jumlah BUMN dan anak usahanya dari 888 menjadi kisaran 200 perusahaan agar lebih kompetitif serta memiliki daya saing yang kuat.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News