Kata Hendry "Boomerang" setelah DIvonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara, Ganja DIharapkan Bisa Legal di Indonesia

Bassist Boomerang, Hubert Hendry Limahelu mengenakan baju tahanan. (Foto: KOMPAS.COM/A. FAIZAL)
Loading...

Majelis hakim Pengadilan Negeri Kota Surabaya pada Kamis (14/11/2019) menjatuhkan vonis 16 bulan penjara terhadap bassist (pemain bas) grup band Boomerang, Hubert Hendry Limahelu dalam kasus kepemilikan dan mengonsumsi narkotika jenis ganja. Menurut Ketua Majelis Hakim, Anne Rusiana Hendry secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana, yakni memiliki sejumlah narkotika jenis ganja.

"Menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan, pasal 127 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Menjatuhkan pidana selama 1 tahun 4 bulan dikurangi selama terdakwa menjalani masa tahanan," ucap Majelis Hakim dalam amar putusannya.

Sejumlah pertimbangan yang meringankan Hendry adalah terdakwa telah mengakui perbuatannya. Sementara itu, pertimbangan yang memberatkan adalah terdakwa dianggap bertentangan dengan program pemerintah tentang pemberantasan narkoba. Anne menambahkan, dalam fakta persidangan, terdakwa mengakui penggunaan ganja itu untuk mengobati penyakit bronkitis yang dideritanya. Akan tetapi, hal itu tak disertai dengan surat keterangan medis.

"Perbuatan terdakwa dianggap bertentangan dengan program pemerintah tentang pemberantasan narkoba. Alasan terdakwa menjadikan ganja itu sebagai obat tidak disertai dengan izin medis," paparnya.

Terkait putusan tersebut, melalui kuasa hukumnya, Hendry mengaku masih pikir-pikir. Hal yang sama juga dilakukan oleh jaksa penuntut umum.

"Kami menyatakan pikir-pikir. Kami masih memiliki waktu 7 hari untuk memutuskan," ucap tim kuasa hukum Hendry.

Selepas sidang, Hendry menyampaikan terima kasih sebab sudah dijatuhi vonis itu. Pencabik bas band rock ternama itu pun menyebut, dirinya tetap akan berkarya sebagai musisi kendati dalam kondisi di dalam tahanan. Ia pun berharap agar ganja segera dilegalkan di Indonesia.

"Kami berharap ganja bisa legal karena di mana-mana sudah legal, kayak di Malaysia. Ganja bisa membuat sesuatu yang positif juga," bebernya.

Sebelumnya, kasus bermula ketika Satresnarkoba Polrestabes Surabaya menangkap Henry di rumahnya, Kalongan Kidul, Surabaya, pada 16 Juni 2019. Henry sempat berusaha kabur saat hendak ditangkap dan menghilangkan barang bukti. Ia melempar barang bukti 6,7 gram ganja ke atas genteng. Akan tetapi, usahanya itu sia-sia sebab polisi berhasil menangkapnya dan mengamankan barang bukti.



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar