SURABAYA - Hari ini, 11 September, Indonesia memperingati Hari Radio Nasional, sekaligus memperingati lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945. Radio lahir dari kebutuhan yang sangat mendasar: menyampaikan informasi dan menghubungkan pemerintah dengan rakyat dalam situasi bangsa yang baru merdeka.
Namun, setelah lebih dari delapan dekade, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah radio masih diperlukan. Pertanyaannya: ke mana teknologi audio membawa radio berikutnya?
Jawabannya dapat dilihat dari perubahan cara masyarakat mendengarkan serta pola konsumsi informasi melalui radio di masyarakat. Dari radio analog, masyarakat kini mengenal radio digital, streaming, podcast, hingga berbagai platform audio on demand. Perubahan tersebut bukan sekadar perubahan perangkat. Ia juga mengubah cara audio digunakan sebagai media pendidikan.
Radio Adalah Teknologi Pendidikan
Radio sejak lama sebenarnya bukan hanya media hiburan. Suara telah menjadi teknologi pendidikan yang mampu menjangkau masyarakat tanpa menuntut kehadiran fisik di ruang kelas. UNESCO bahkan mencatat radio sebagai salah satu media yang dapat digunakan untuk pembelajaran jarak jauh, terutama ketika akses internet dan perangkat digital terbatas. Dalam panduan pembelajaran jarak jauh, UNESCO menyebut radio tradisional, radio interaktif, dan podcast sebagai bagian dari bentuk pembelajaran berbasis radio.
Pengalaman berbagai negara memperlihatkan bahwa radio masih memiliki kekuatan sebagai teknologi pendidikan. Ketika pandemi Covid-19 mengganggu kegiatan sekolah, banyak negara menggunakan radio dan televisi untuk mempertahankan keberlanjutan pembelajaran. UNESCO mencatat bahwa di negara berpendapatan rendah, radio dan televisi menjadi salah satu modalitas pembelajaran jarak jauh yang paling banyak digunakan.
Di RRI Surabaya misalnya. Adanya program radio Guru Mengajar di Pro 2 Fm, saat pandemi Covid lalu, dengan menghadirkan pembelajaran melalui siaran radio dan interaksi dengan guru melalui Zoom dan disiarkan di radio, mendapat apresiasi tidak hanya dari pihak sekolah, siswa dan guru saja. Tetapi juga dari orang tua. Karena orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan akses belajar gratis saat pandemi Covid.
Tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli kuota. Hanya bermodalkan radio saja, siswa dan guru sudah bisa melaksanakan belajar mengajar. Program tersebut tidak hanya dikembangkan di Surabaya saja, tetapi juga di seluruh RRI di Indonesia. Karena radio mampu menjangkau wilayah yang sulit memperoleh akses internet.
Artinya, radio sesungguhnya telah memiliki DNA sebagai teknologi pendidikan jauh sebelum istilah digital learning, podcast learning, atau audio learning menjadi populer.
Perubahan Cara Konsumsi Radio
Pada era radio analog, pendengar harus mengikuti jadwal siaran. Jika pelajaran disiarkan pukul 10.00, peserta didik harus berada di depan radio pada waktu tersebut. Teknologi streaming mengubah pola itu. Konten dapat diakses melalui internet secara langsung maupun direkam untuk didengarkan kembali.
Podcast bahkan membawa perubahan yang lebih besar. Materi pembelajaran tidak lagi harus mengikuti jadwal siaran. Guru, dosen, penyiar, maupun praktisi dapat membuat episode berdasarkan topik tertentu. Peserta didik dapat memilih materi sesuai kebutuhan, mengulang bagian yang belum dipahami, dan mendengarkannya ketika melakukan aktivitas lain.
Di sinilah terjadi pergeseran dari broadcasting menuju on-demand learning.
Radio mengajarkan kita bahwa suara mampu menjadi medium pengetahuan. Podcast dan streaming memperluas kemampuan tersebut dengan memberikan fleksibilitas waktu, tempat, dan pilihan materi.
UNESCO sendiri memasukkan radio dan podcast dalam pembelajaran literasi media dan informasi. Audio dipandang bukan sekadar sarana menyampaikan pesan, tetapi juga medium yang dapat digunakan untuk memahami bagaimana pesan dibentuk, dianalisis, dan dimaknai.
Tetapi transformasi teknologi tidak otomatis membuat audio menjadi teknologi pendidikan yang efektif.
Masalah utamanya justru berada pada kualitas konten dan kompetensi pembuatnya.
Podcast pendidikan tidak cukup hanya berupa rekaman seseorang membaca buku atau memindahkan materi kuliah ke bentuk audio. Audio pendidikan harus memiliki tujuan pembelajaran, struktur materi, bahasa yang mudah dipahami, contoh yang relevan, serta strategi agar pendengar tetap terlibat.
Karena itu, perkembangan radio menuju podcast dan streaming juga menuntut perubahan kompetensi penyiar, guru, dosen, dan kreator konten audio. Mereka bukan hanya dituntut memiliki suara yang enak didengar, tetapi juga kemampuan menyusun pesan, memahami karakter audiens, menggunakan teknologi digital, melakukan verifikasi informasi, serta memahami prinsip pedagogi.
UNESCO bahkan menyediakan pembelajaran khusus mengenai pengembangan pembelajaran berbasis radio, termasuk penyusunan naskah dengan strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan interaksi dengan audiens setelah program berlangsung.
Hari Radio dan Transformasi Radio
Dengan demikian, Hari Radio Nasional seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang masa lalu radio. Hari Radio juga dapat menjadi kesempatan untuk membicarakan masa depan audio sebagai teknologi pendidikan.
Radio analog adalah fondasi. Streaming adalah perluasan jangkauan. Podcast adalah bentuk fleksibilitas. Platform digital adalah ruang distribusi baru. Sementara kecerdasan buatan dapat menjadi teknologi pendukung untuk produksi, personalisasi, transkripsi, hingga pengembangan materi audio.
Tetapi satu hal tidak boleh hilang: manusia sebagai pengarah pengetahuan.
Teknologi dapat membantu menghasilkan suara. Platform dapat membantu mendistribusikan materi. Algoritma dapat merekomendasikan konten. Namun pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar suara yang terdengar jelas. Pendidikan membutuhkan pengetahuan yang benar, konteks, empati, interaksi, dan kemampuan membangun kepercayaan.
Karena itu, masa depan radio bukan berarti meninggalkan radio analog dan menggantinya dengan podcast atau streaming. Masa depan radio adalah mengembangkan kekuatan audio ke dalam ekosistem teknologi pendidikan yang lebih luas.
Mendengarkan Adalah Keterampilan Belajar
Pendidikan sering menekankan kemampuan membaca dan menulis, sementara kemampuan mendengarkan kurang mendapatkan perhatian. Padahal dalam proses belajar, seseorang harus mampu menerima informasi secara auditori, memahami gagasan, memilah informasi, dan memberikan respons.
Maka radio dan podcast tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga dapat menjadi sarana melatih literasi menyimak.
Pada Hari Radio Nasional hari ini, barangkali kita tidak perlu bertanya, “Apakah radio masih relevan?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Sejauh mana kita mampu mengubah kekuatan suara menjadi pengalaman belajar yang bermakna?”
Jika radio dahulu mampu menghubungkan suara dengan perjuangan bangsa, maka radio, podcast, dan streaming hari ini memiliki kesempatan menghubungkan suara dengan pengetahuan.
Dan mungkin, di situlah evolusi radio yang sesungguhnya: dari sekadar media yang didengarkan menjadi teknologi yang membantu manusia belajar.
Oleh: Dini Nastiti Wardani, S.I.Kom., M.I.Kom. Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News