JAKARTA – Menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk setiap hari dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan serius seperti dead butt syndrome (DBS), yaitu sebuah kondisi saat otot gluteus (bokong) menjadi lemah serta tidak aktif.
Apabila bagian glute tidak bekerja sebagaimana mestinya, hal ini akan memaksa otot pada punggung bagian bawah untuk memikul beban yang bukan merupakan fungsinya.
Beberapa gejalanya meliputi rasa sakit atau mati rasa di area bokong, nyeri pada pinggul, punggung bawah, atau lutut, hingga buruknya postur tubuh dan cara berjalan.
Mengenal dead butt syndrome
Disadur dari Healthline, DBS atau yang juga dikenal dengan sebutan amnesia gluteal, merupakan kondisi melemahnya atau tidak aktifnya otot-otot bokong (gluteal), yang umumnya dipicu oleh durasi duduk yang terlalu lama.
Istilah dead butt syndrome bukan berarti otot tersebut benar-benar mati, namun sinyal komunikasi antara otak dan otot menjadi tumpul karena minimnya aktivitas, sehingga otot tersebut seolah "lupa" bagaimana cara bekerja.
Kondisi tersebut mengakibatkan otot gluteus medius tidak bekerja secara optimal, sehingga memicu nyeri pada pinggul, punggung bawah, atau bahkan lutut lantaran otot lainnya berupaya melakukan kompensasi.
Dampak banyak duduk terhadap dead butt syndrome
Menukil dari WebMD, jika glute tidak berhasil menjalankan fungsinya dalam menjaga stabilitas saat melakukan latihan atau olahraga, Anda dapat menderita nyeri lutut kronis hingga risiko cedera.
Kelompok yang rentan terkena DBS mencakup mereka yang banyak menghabiskan waktu dengan duduk, individu yang aktif, penderita nyeri punggung, hingga penderita nyeri lutut.
Stuart McGill, seorang profesor emeritus kenamaan dari University of Waterloo, memaparkan mekanisme proses tersebut melalui sebuah penelitian pada tahun 2013.
Dalam dokumen ilmiah tersebut, ia bersama rekan penulisnya menggunakan istilah "amnesia gluteal" dan "inhibisi gluteal" secara bergantian.
McGill menginisiasi istilah "amnesia gluteal" guna menggambarkan fenomena yang muncul saat rasa nyeri membuat seseorang mengubah pola gerak mereka.
"Pada orang dengan nyeri jangka panjang, pola denyut saraf yang didistribusikan ke otot dapat terganggu. Rasa sakit memicu jalur penghambatan, sehingga otak menemukan cara lain untuk melakukan hal dasar yang sama," jelasnya.
Latihan sederhana bagi penderita DBS
Berikut adalah sejumlah latihan ringan yang bisa dijalankan guna membantu memelihara kekuatan serta fleksibilitas otot gluteus, fleksor pinggul, dan persendian pinggul.
1. Berdiri dengan posisi kaki kiri di depan kaki kanan
Cobalah melakukan gerakan berdiri dengan menempatkan kaki kiri di depan kaki kanan. Tekuk sedikit kaki kanan, sementara kaki kiri tetap lurus.
Selanjutnya, bungkukkan sedikit bagian pinggang dan rasakan tarikan di area hamstring kiri. Pertahankan posisi ini selama 10 detik.
2. Melakukan gerakan squat untuk penguatan otot
Gerakan squat dapat dijalankan untuk mengasah otot perut, paha depan, paha belakang, serta betis.
Metodenya adalah dengan berdiri tegak dengan kaki dibuka selebar bahu. Lalu, turunkan lutut perlahan hingga paha hampir sejajar dengan permukaan tanah. Lakukan gerakan ini secara berulang.
3. Gerakan mengangkat kaki
Latihan mengangkat kaki ditujukan untuk otot inti serta fleksor pinggul. Caranya adalah dengan berbaring di atas permukaan yang kokoh namun nyaman dengan kondisi kaki lurus.
Setelah itu, angkat kaki setinggi mungkin secara perlahan dalam kondisi tetap lurus, serta rasakan kontraksi pada otot-otot tersebut. Kemudian ulangi kembali gerakan tersebut.