JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan menjadi salah satu narasumber dalam gelaran World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1/2026) hari ini.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan keterangan bahwa Prabowo akan mengulas beragam konsep ekonomi yang diistilahkan sebagai Prabowonomics.
"Dan beliau akan menceritakan hasil-hasil yang sudah pemerintah capai dalam satu tahun ini. Dan itu beliau sebut dengan Prabowonomics," ujar Teddy di London, Inggris, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (22/1/2026).
Berdasarkan penjelasan Teddy, gagasan ekonomi yang akan dipresentasikan Prabowo dalam WEF tersebut merupakan konsep yang selama ini memang telah diimplementasikan oleh Prabowo.
"Kemudian intinya beliau akan berbicara mengenai konsep-konsep ekonomi yang beliau pikirkan, dan sudah beliau terapkan dalam, ya selama beliau sebelum menjadi Presiden dan sejak menjadi Presiden hingga sekarang," jelasnya.
Kepala Negara RI diagendakan bakal menyampaikan pidato khusus (special address) pada kisaran pukul 14.00 hingga 14.30 waktu setempat (CET).
Adapun ajang internasional yang diselenggarakan di Davos tersebut bakal dihadiri oleh 65 kepala negara serta pemerintahan, sekaligus melibatkan lebih dari 1.000 CEO dari berbagai korporasi global.
Selain berperan sebagai pembicara, Presiden Prabowo juga direncanakan melakukan sejumlah agenda lainnya. Walau demikian, detail kegiatan tersebut masih menunggu proses konfirmasi setibanya di Davos.
"Tentunya ada nanti di, akan kami konfirmasi setelah sampai di sana. Tapi intinya besok tanggal 22, Bapak Presiden akan ke Davos, ke Swiss, mengikuti dan beliau akan berbicara dalam World Economic Forum," ujar Teddy.
Untuk diketahui, World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 adalah pertemuan tahunan ke-56 dari forum ekonomi global yang menghimpun para pemimpin dunia baik dari unsur pemerintahan, pelaku usaha, kalangan akademisi, hingga elemen masyarakat sipil.
World Economic Forum 2026 sendiri mengangkat tema besar “A Spirit of Dialogue”.
Pemilihan tema tersebut merupakan bentuk respons atas kian meningkatnya fragmentasi geopolitik serta ketidakjelasan ekonomi global, sekaligus memberikan penekanan pada pentingnya dialog terbuka dan kerja sama lintas sektor sebagai basis bagi pertumbuhan ekonomi dunia yang ajek dan inklusif.
Indonesia mempergunakan momentum WEF Davos ini sebagai sarana strategis guna memperkuat posisinya sebagai mitra dialog yang memiliki kredibilitas serta daya saing tinggi.