JAKARTA – Presiden Venezuela Nicolas Maduro dijadwalkan menjalani persidangan pada hari ini, Senin (5/1/2026), setelah ditangkap oleh pasukan elite Delta Force Amerika Serikat atas instruksi Presiden Donald Trump pada akhir pekan kemarin.
Proses persidangan Maduro bakal diselenggarakan di Pengadilan Manhattan, New York. Tidak hanya Maduro, administrasi Trump turut melayangkan dakwaan terhadap istrinya, Cilia Flores, di Pengadilan Distrik Selatan New York.
Lantas, apa sajakah poin dakwaan yang diajukan oleh pemerintahan Trump terhadap Maduro?
Pemerintah AS menyodorkan empat poin dakwaan bagi Maduro, yaitu konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin serta alat peledak, dan konspirasi penggunaan senapan mesin serta alat peledak.
Ia menghadapi tuntutan yang identik dengan dakwaan terdahulu yang diajukan pada tahun 2020, tepatnya pada masa jabatan pertama pemerintahan Trump, sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera.
Jaksa Agung AS Pamela Bondi juga telah memaparkan poin-poin dakwaan untuk Maduro tersebut.
"Nicolas Maduro didakwa dengan konspirasi Narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata api dan perangkat destruktif lain, dan konspirasi untuk menggunakan senjata mesin dan perangkat destruktif terhadap Amerika Serikat," kaya Bondi di X pada Sabtu lalu.
Pihak AS menangkap paksa Maduro dan Flores pada Sabtu. Sebelum menjalankan operasi tersebut, personel militer Negeri Paman Sam lebih dulu melancarkan serangan masif ke ibu kota Venezuela, Caracas.
Usai misi tersebut rampung, Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS telah sukses menggempur Venezuela.
"Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya," kata Trump di media sosial buatannya Truth Social.
Maduro bersama sang istri, ia menambahkan, segera dibawa terbang menuju luar negeri.
Dalam kesempatan berbeda, Trump selanjutnya memproklamasikan bahwa AS bakal mengambil alih kepemimpinan di Venezuela serta mengendalikan kekayaan sumber daya minyaknya.
Perseteruan antara Trump dan Maduro telah berlangsung sejak periode pertama jabatan politikus Republik tersebut. Namun, tensi hubungan kedua negara kembali memanas sejak September tahun lalu, pada masa jabatan kedua Trump.
Pada waktu itu, militer AS menyerang kapal yang berisi warga sipil di perairan lepas Venezuela dengan alasan mengangkut narkotika. Gempuran terhadap kapal-kapal di area tersebut terus berlangsung selama berbulan-bulan.
AS pun sempat memobilisasi pasukan serta alat utama sistem persenjataan di sekitar perbatasan Karibia.
Menanggapi rangkaian aksi AS tersebut, pihak pemerintahan Maduro merasa yakin bahwa tujuan mereka adalah untuk meruntuhkan kekuasaan dan menguasai kekayaan alam yang ada.