Trump Blokade Selat Hormuz Usai Gagalnya Negosiasi Damai AS-Iran

Trump Blokade Selat Hormuz Usai Gagalnya Negosiasi Damai AS-Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. [Foto: Alex Wong/Getty Images]

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa AS bakal memblokade Selat Hormuz setelah pembicaraan damai dengan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.

Kebijakan ini berisiko memperburuk kelangkaan stok minyak dan bahan bakar dunia, mengingat kedudukan Selat Hormuz sebagai urat nadi utama ekspor energi global.

“Mulai berlaku segera, Angkatan Laut AS akan memulai proses blokade terhadap seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di media sosial dilansir dari laman Bloomberg Senin (13/4/2026).

Langkah tersebut secara praktis akan menghentikan akses utama pengiriman minyak Iran.

Perundingan selama 21 jam antara tim AS yang dikomandoi Wakil Presiden JD Vance bersama utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan jajaran pejabat tinggi Iran, melalui mediasi Pakistan, tidak membuahkan kesepakatan guna mengakhiri pertikaian yang sudah berjalan enam pekan.

Kegagalan ini membuat status gencatan senjata yang baru disepakati pekan lalu menjadi tidak menentu, sekaligus memicu risiko perluasan konflik.

Selat Hormuz merupakan lintasan energi paling krusial di dunia, di mana sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global melintasi area tersebut.

Blokade total akan memberikan tekanan tambahan pada pasar minyak dunia dengan membatasi sisa distribusi yang masih tersisa.

Di samping itu, aturan ini berpeluang memutus keran pendapatan primer Iran dari ekspor minyak, yang selama ini masih berjalan cukup stabil di tengah konflik dan malah mendapat keuntungan dari meroketnya harga minyak.

Nilai minyak global telah melonjak sekitar 30% sejak pertikaian pecah, bahkan beberapa kargo fisik terjual di atas US$ 140 per barel karena ketersediaan pasokan yang kian menipis.

Trump menyatakan bahwa blokade ini pada dasarnya dilakukan demi mengembalikan kelancaran arus pelayaran di Selat Hormuz.

“Ini soal semua atau tidak sama sekali. Akan ada waktu ketika semuanya kembali berjalan normal,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Trump juga memberi isyarat bahwa negara-negara sekutu AS kemungkinan akan bergabung dalam misi ini, termasuk Inggris yang dikabarkan bakal mengerahkan kapal penyapu ranjau.

Meski begitu, laporan menyebutkan bahwa Inggris belum memiliki rencana untuk berpartisipasi langsung dalam aksi blokade itu.

Pada sisi lain, Iran menilai syarat-syarat yang diajukan AS dalam perundingan terlalu berlebihan. Namun, Teheran tetap memberikan ruang untuk melanjutkan dialog di waktu mendatang.

Beberapa pengamat menganggap blokade ini merupakan strategi untuk menekan finansial Iran tanpa perlu melancarkan operasi militer terbuka yang berisiko, seperti pendudukan Pulau Kharg yang merupakan sentral ekspor minyak Iran.

Walau demikian, taktik ini tetap membawa risiko fatal, terutama jika dilaksanakan tepat di Selat Hormuz yang masuk dalam jangkauan pertahanan militer Iran.

Semenjak konflik dimulai, Iran menjadi satu-satunya negara di wilayah Teluk yang masih sanggup mengekspor minyak mendekati kapasitas sebelum perang, dengan angka sekitar 1,7 juta barel per hari pada Maret.

Trump pun menuduh praktik penarikan biaya yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal sebagai aksi “pemerasan global” dan menekankan bahwa kapal yang menyetorkan biaya tersebut tidak akan memperoleh proteksi di wilayah perairan internasional.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index