Panduan 10 Etika Turis Asing Saat Berkunjung ke Jepang agar Tidak Culture Shock

Panduan 10 Etika Turis Asing Saat Berkunjung ke Jepang agar Tidak Culture Shock
Ilustrasi Jepang. [Foto: Dok. Freepik]

JAKARTA – Bagi yang berniat mengunjungi Jepang, ada sejumlah kebiasaan dan etika yang sudah menjadi budaya masyarakat setempat. Jadi selama di Jepang, turis asing juga perlu memperhatikan hal-hal tersebut.

Agar tidak culture shock, sebaiknya ketahui terlebih dahulu etiket sehari-hari masyarakat di sana. Mengutip BBC, Sabtu (11/4/2026), jurnalis asal Jepang, Mizuki Uchiyama, membagikan panduan mengenai kebiasaan masyarakat Jepang.

Di Negeri Sakura, terdapat banyak aturan tidak tertulis yang jika dilanggar dapat memicu perhatian negatif dari orang sekitar. Berikut adalah 10 hal penting agar Anda bisa menjadi turis yang menghargai budaya setempat:

1. Cara Pakai Alat Makan

Jepang identik dengan sumpit. Dalam penggunaannya, jangan menancapkan sumpit di nasi dan jangan memindahkan makanan antar sumpit karena dianggap tidak sopan serta berkaitan dengan ritual pemakaman.

Jika sedang tidak digunakan, taruh sumpit di atas sandaran atau mangkuk. Selain itu, biasakan mengangkat mangkuk saat makan dan jangan terlalu membungkuk.

2. Boleh Menyeruput Makanan

Menyeruput mi di Jepang adalah hal yang wajar, terutama saat makan ramen atau udon. Kebiasaan yang ada sejak zaman Edo ini diyakini membuat rasa mi semakin lezat karena kuah dan mi lebih menyatu, serta membantu mendinginkan suhu mi yang masuk ke mulut.

3. Kamus Masuk Restoran

Tidak perlu mahir berbahasa Jepang, namun sebaiknya pahami kosakata dasar. Ucapkan "sumimasen" (permisi) untuk memanggil pelayan dan "onegaishimasu" (mohon bantuannya) saat memesan.

Sebelum makan, gunakan "itadakimasu" (selamat makan), dan tutup dengan "gochisousama" setelah selesai makan sebagai tanda terima kasih.

4. Tidak Perlu Memberi Uang Tip

Berbeda dengan kebiasaan di Indonesia, jangan memberikan uang tip di Jepang. Memberikan pelayanan terbaik sudah dianggap sebagai bagian dari pekerjaan.

Bentuk apresiasi lebih dihargai melalui sikap sopan, memesan secukupnya, dan menghabiskan makanan.

5. Ada Sapaan yang Tidak Usah Dijawab

Saat masuk ke toko, Anda akan disambut dengan seruan "irasshaimase!" (selamat datang). Sapaan ini tidak perlu dijawab secara lisan; cukup balas dengan anggukan kecil dan senyuman sebagai tanda menghargai.

6. Jangan Bicara Terlalu Keras

Transportasi umum di Jepang sangat tenang. Selama berada di dalam kendaraan, sebaiknya jangan berbicara terlalu keras, tidak menelepon, dan nonaktifkan nada dering ponsel. Jika harus menerima telepon, tunggulah hingga halte berikutnya.

7. Jangan Makan di Transportasi Umum

Penumpang sebaiknya tidak makan atau minum di dalam transportasi umum jarak pendek. Namun, aturan ini tidak berlaku di kereta jarak jauh seperti Shinkansen. Selain itu, hindari kebiasaan makan dan minum sambil berjalan atau berdiri.

8. Jangan Buang Sampah Sembarangan

Meskipun tempat sampah jarang ditemukan di ruang publik, kebersihan sangat dijaga di Jepang. Simpan sampah Anda di kantong atau tas terlebih dahulu hingga menemukan tempat sampah di stasiun atau dekat mesin penjual otomatis.

Masyarakat setempat terbiasa membawa pulang sampah karena menganggapnya sebagai tanggung jawab pribadi.

9. Etika Datang ke Onsen

Sebelum berendam di pemandian air panas, wajib membersihkan diri terlebih dahulu dan mengikat rambut yang panjang. Pengunjung biasanya berendam tanpa busana.

Bagi yang memiliki tato, perhatikan kebijakan setempat karena tato sering dikaitkan dengan kelompok tertentu.

10. Beda Wilayah, Beda Sisi Jalan

Aturan penggunaan eskalator berbeda di setiap wilayah. Di Tokyo (Timur), dianjurkan berdiri di sisi kiri, sedangkan di Osaka (Barat) berdiri di sisi kanan. Jika bingung, ikuti saja kebiasaan mayoritas orang di lokasi tersebut.

Hal serupa berlaku saat berwisata; mencoba mengikuti aturan setempat menunjukkan bahwa kita adalah turis yang menghargai budaya mereka.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index