Cerpen Reky Arfal

Bidadari Batang Kuantan

Ilustrasi / Pixabay

SAYA bertemu bidadari sore tadi. Di tepi batang Kuantan, hanya mengenakan basahan, membilas rambutnya yang terurai, yang kadang juga tersapu arus sungai. Bidadari. Saya yakin dia adalah bidadari. Kulitnya bersinar dari kejauhan, dan bila bersentuhan dengan cahaya senja yang kemerahan akan menghasilkan binar yang mengagumkan. Benar, dia adalah bidadari. Bidadari penghuni batang kuantan.

Senja memancarkan cahaya berkilauan di antara celah dahan kerambir. Saya kembali dari tebing tempat biasa saya menghabiskan waktu kala hari sore: memancing, menunggui senja terbenam, menyaksikan latihan pacu jalur, atau paling tidak hanya memandangi sekeliling. Kira-kira sudah sebulan lamanya saya menetap di kampung ini. Sebagai pendatang yang melakukan kegiatan perkuliahan, dan itu juga tidak dalam waktu yang lama, saya menemukan banyak hal baru di sini. Bahasa, budaya, logat, adat setempat dan banyak lagi—hal-hal yang tak pernah diajarkan selama saya menuntut ilmu di kota. 

Di sebelah rumah yang saya tempati bersama sejawat-sejawat sepenuntutilmuan, terdapat lapangan voli. Lapangan yang tak pernah sepi tersebab setiap sore selalu dipenuhi ibu-ibu dusun yang melepaskan penat dari kegiatan-kegiatan rutinitasnya. Ibu-ibu yang setiap pagi memasak makanan, memandikan anak, menjala ikan, lalu sore harinya, tiba-tiba, tanpa aba-aba mereka seperti kerasukan masa muda, begitu lihai dan liar memukul bola, mengangkat, membalas, bahkan melakukan smash. Saya duduk di bangku kayu panjang dan menyaksikan mereka bermain. Istri Mak Puni, seorang tua yang menampung kami tampak sibuk dengan gorengan dan minuman yang dijual. Perlahan, saya mengambil tahu goreng panas dan mulai mendekatinya. 

“Sudah berapa hari tak hujan, Ibuk?” 
“Ah, berapa ya. Seminggu mungkin. Persediaan air kita juga mulai tipis. Mungkin nanti kita pun ikut mandi di tepi sungai,” dengan wajah keruh ia berseloroh. 
“Air kuning itu? Bagaimana bersih, saya kira itu sudah tercampur lumpur dan sampah-sampah hanyut,” dan saya tiba-tiba bergumam. Bahkan di tepi air pun, orang-orang bisa kehabisan air bersih.
“Namanya juga sungai, tapi selagi mengalir, tak apalah, Nak...”  

Saya pun mengerutkan kening diiringi decak tawa Ibuk. Dia tertawa lepas melihat air muka saya. Dia tertawa lepas, melihat tingkah anak kota yang belum paham hidup sedemikian rupa.

BIDADARI. Andaikan kau benar bidadari, izinkan saya melihatmu sekali lagi saja. Dan bila berkenan, saya pun ingin menyapamu, mengenalmu dan mencuri selendang yang kau biarkan tergantung di tepi sungai ini. 

Pagi sekali, Mak Puni membangunkan saya. Dia bermaksud mengajak saya mandi di sungai. Tapi sebelum itu, marilah menakik getah karet. Saya membasuh muka seadanya lantas mengikuti jejaknya. Pohon karet berbaris rapi di depan kami. Mulailah Mak Puni mengeluarkan pisau takik kecil dengan ujung yang bengkok, mengiris tipis kulit pohon lalu meliukkannya ke seutuh lingkar batang. Kemudian mengambil tempurung penampung getah. Tak lama, satu demi satu pohon-pohon yang berbaris rapi seperti satu batallion serdadu itu, mengucurkan darah.

Jam menunjuk pukul 9 lewat 30 menit. Matahari mulai beranjak dan memantulkan bayangan. Kami baru selesai menakik. Dalam peluh dan bengkak-bengkak gigitan nyamuk, kami beringsut dari kebun ke sungai, dan untuk ke sana, kami mesti melewati jalan lintas yang berlubang dan penuh lumpur bila malam hujan, menyusuri kebun sawit, dan menuruni tebing yang cukup curam. Di perjalanan itu saya iseng bertanya. 

”Di sini pernah ada kejadian aneh, ndak, Mak?”
“Kejadian aneh? Wah, ini pulau lumayan sepi. Jikalau pun ada, mungkin tak cukup banyak mulut dan telinga untuk menyiarkannya,” sambil mengisap rokok, gaek itu terkekeh.
“Ah, sampai segitunya. Saya dengar ada banyak hal menarik terjadi di sekitaran sungai ini. Seperti bidadari?”
“He, bidadari? Matamu bengkak!” Mak Puni kembali terkekeh. Perawakannya yang serius pada awalnya sungguh hilang dan mengesalkanku. Namun setelah sampai di tebing, dan kami menuruninya, ia mencari tempat duduk di bawah rindang pohon matoa dan memanggil saya. “Rokok dulu..”

Pada mulanya, sebelum sungai ini belum menguning. Kampung kita ini cukup ramai. Tak ada yang namanya rumah kosong. Dan tak ada yang namanya kehabisan air bersih. Bahkan ketika itu kami belum mempunyai mesin pompa air. Warga hanya memanfaatkan air sungai yang jernih dan mengalir. Kau malah bisa mencari kerang-kerang di dasar sungai atau sekadar menjaring ikan. Lalu, pada seminggu utuh dalam setahun untuk waktu yang tak bisa ditentukan, akan ada segerombolan perempuan-perempuan muda yang ikut mandi bersama warga. Bersama kami. Kabar yang diucapkan Ninik Mamak, Petinggi-petinggi Adat, Cerdik-Pandai dan bahkan kalangan-kalangan berilmu atau pun dukun, adalah mereka titisan dari surga yang langsung datang kemari demi menyicipi kemurnian batang air ini. Beberapa yang lain mengatakan bahwa mereka hanyalah perempuan-perempuan dari kota yang menumpang mandi di sungai karena tersihir oleh permukaannya yang bening dan memantulkan wajah. Tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak ada lagi, semenjak sungai yang menjadi tempat mandi dan bermain warga dan masyarakat pesisir ini mulai keruh sebab penambangan emas ilegal. 

Memang semenjak mata pencaharian warga kampung ini mulai tak mumpuni, harga karet dan sawit jatuh dan tak seberapa, banyak penakik getah dan pendodos sawit yang beralih profesi menjadi penambang emas ilegal. Dan itu mulanya dilakukan dengan kening yang berkerut. Merasa berdosa karena harus merusak dan menodai kebeningan sungai. Tapi itu hanya awalnya. Setelah mendapati hasil yang lumayan dan bahkan di luar dugaan, mereka pun lupa akan segala. Maka terjadilah. Kini bila musim kering, kami yang mesti menanggung luka yang dalam, kehabisan air bersih. 

Saya hanya mengulum lidah dan berkali-kali menelan ludah mendengar cerita itu. Seraut wajah yang tadinya hanya mampu terkekeh, kini kembali suram lagi. Jelas terasa ada hal yang sangat ingin diakhirinya, namun tak pernah mampu dilakukannya. Kemudian, dalam terdiam kami, saya kembali mengingat perempuan yang serupa bidadari itu. Kalau tak salah, tempat ia mandi kemarin tak jauh dari tempat kami mandi pagi ini. Saya menerawang dari kiri ke kanan. Menerawang, mencari pembenaran. 

Sore tiba. Anak-anak pulang dari madrasah. Sekumpulan sapi yang berjalan-beriring. Dan lapangan voli yang tak pernah sepi. Saya mengabaikan semuanya. Saya bahkan mengabaikan panggilan dari Mak Puni yang memanggil dari bangku panjang di beranda rumahnya—tempat favorit saya ketika menyaksikan ibu-ibu dan perempuan bermain voli. Saya menyusuri pinggiran jalan, memasuki lahan pekarangan rumah warga, memasuki jalan setapak di antara barisan pohon karet, dan sampai di tebing. Tebing yang itu juga. Tebing tempat biasanya saya menghabiskan sore, melihat senja terbenam, memancing, atau menyaksikan latihan pacu jalur, atau paling tidak hanya memandang ke sekeliling. Tebing yang membuat saya bertambah betah menetap di sini. Pemandangan yang tak lazim: menyaksikan bidadari mandi. Saya menunggu. Membakar sebatang rokok, dan mulai menerawang ke jauh pandang. Sekali-kali melempar batu ke sungai. Saya menunggu. Membakar sebatang rokok, dan mulai di ambang gelisah. Saya terus menunggu. Membakar sebatang rokok, dan senja berganti malam. Hari mulai padam. Bulan sudah menyiapkan cahayanya. Ditemani rembintang, dan awan-awan yang berjarak. Ah, benarkah, semenjak sungai ini keruh, tak pernah ada bidadari yang mandi di sini? 

Saya pun menyerah, lalu lekas beranjak. Hari ini begitu sial saya rasa. Benarkah yang dikatakan Mak Puni? Atau itu hanya guyonan lain agar ia dapat terkekeh, atau malah jadi terbahak-bahak tertawa di dalam rumahnya? Sial...

Azan maghrib berkumandang. Entah kenapa saya sangat ingin ke surau. Keluar dari kebun karet, kembali ke jalan, lalu lurus. Dalam perjalanan ke masjid, di depan saya, seorang perempuan mengenakan mukenah menghadap ke belakang dan menatap saya. 

Malam ini saya bertemu bidadari.

 

Reky Arfal— Lahir di Pekanbaru, 21 Oktober 1995. Bergiat di Komunitas Paragraf, dan koordinator Malam Puisi Pekanbaru. Menulis puisi dan cerpen.



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Baca Juga Topik #sastra

Berita Lainnya...

Tulis Komentar