Tokoh

Arsene Wenger; Dari Insinyur, Ekonom, Profesor Lapangan Hijau, hingga Penemu Tokoh Humanis dan Demokrasi Rakyat Liberia

historia.id
Loading...

Setelah Alex Ferguson, Arsene Wenger adalah salah satu pelatih dengan karir terpanjang dalam satu klub di Liga Inggris. Seorang pelatih yang konsisten dengan metode konstruksi from zero to hero.

Insting menemukan talenta-talenta yang berevolusi menjadi pemain kelas dunia, merupakan hasil dari bedahan kepala seorang Wenger. Dunia memanggilnya Sang Profesor.  Dalam hal ini, Wenger adalah seorang teknisi yang berbasis pada gelar akademis beliau pada level sarjana.

Banyak pemain muda mendarat di Arsenal dengan harga murah, kemudian dilego dengan harga selangit. Kemampuannya itu membuat finansial keuangan Arsenal meningkat. Alhasil, Arsenal mampu dibuatnya menjaga eksistensi persaingan di Liga Inggris yang kemudian diikuti dengan kesuksesan pembangunan Emirates Stadium.

Pemegang gelar Magister Ekonomi Starsbourg yang bekerja untuk Arsenal ini terlihat jelas sedang menerapkan teori Adam Smith dalam Wealth of Nations tentang pengelolaan perekonomian suatu negara tanpa campur tangan pemerintah dengan pengalokasian sumber daya secara efisien.

Keluhan tentang ketidakmampuan Wenger membawa kembali Arsenal menjuarai Premiere League setelah musim 2003-2004, disambut bantahan dari beberapa pihak yang memaklumi kondisi Wenger dan Arsenal beberapa tahun terakhir. Para elit di tubuh Arsenal secara prioritas tak menghendaki itu. Meski Wenger paham betul hasrat dari The Gooners, sebutan untuk pendukung Arsenal.

Tetapi dengan segala keterbatasan faktor – faktor produksi yang tersedia, dipicu dengan tumbuhnya kapitalisme di tubuh klub-klub Liga Inggris lainnya yang didatangi para Pemodal besar, Arsenal masih mampu untuk terus menjadi pengganggu di area 4 besar Liga Domestik di bawah asuhan Wenger.

Nama-nama besar seperi Tierry Henry, Nicolas Anelka, Van Persie, Samir Nasri atau Cesc Fabregas adalah bagian dari sekian banyak pemain yang dibeli dengan harga murah, dan setelah berada di bawah tangan dinginnya mampu dijual dengan nilai yang kontras dari harga ketika membeli pemain tersebut.

Jika ada pihak meragukan Wenger yang hanya terbatas pada kemampuan menaikkan value market seorang pemain tanpa pernah menjadikan seorang pemain tersebut meraih prestasi individual tertinggi sekelas Ballon d’ Orr, pernyataan tersebut tentu sebuah kekeliruan besar.

Sepintas, jika kita melihat daftar pemain peraih Ballon d’ Orr beberapa tahun terakhir, kita tak menemukan salah satu dari mereka yang pernah berada dalam asuhan Wenger.

Orang-orang memang lebih mengenal Wenger begitu lekat dengan Arsenal dan segala pemain bintang yang pernah berada di dalamnya. Tapi ada yang terlupakan dari perjalanan panjang seorang Wenger. Bahwa dulu, sebelum menukangi Arsenal, Sang Profesor telah membuat sebuah hipotesis ketika menemukan mutiara hitam yang diramalkannya akan menjadi pemain terbaik dunia. Dan uji hipotesis itu menjadi tesis di kemudian hari.

Adalah Claude le Roy seorang rekan Wenger yang melatih klub Kamerun, Indomitable Lions,  pada musim 1988/89 mengenalkannya kepada mutiara hitam itu. Wenger yang saat itu membesut klub Ligue 1 Prancis Monaco, langsung menuju ke Afrika untuk melihat sendiri bakat pemain tersebut. Bakat pemain yang pada saat itu masih bermain di klub Liga Kamerun, Tonnerre Yaoundé tersebut, membuat Wenger kepincut mendatangkannya ke Monaco. Mutiara hitam pun mendarat di Prancis.

George Manneh Oppong Ousman Weah, lahir di Monrovia, 1 Oktober 1966. Atau yang lebih kita kenal dengan George Weah. Seorang pemuda Afrika berusia 22 tahun yang dibawa Wenger terbang menuju Monaco (Prancis) pada musim 1988/89. Tiga musim bersama Monaco, Weah mencetak 47 gol dari 103 penampilan dan membawa Monaco menjuarai Piala Prancis tahun 1991. Setelah itu, dia pun berlabuh di PSG.

Di PSG, Weah menuai prestasi yang gemilang. Selama di sana, Weah mencetak 55 gol dari 138 penampilan. Paris Saint Germain adalah klub yang pada saat itu sedang berada di masa transisi berhasil dibawanya menjuarai 1 title Liga Prancis, 2 title Piala Prancis, 1 title Piala Liga Prancis, dan berhasil menjadi top skorer bagi PSG di Liga Champions 1994/95 setelah akhirnya ditumbangkan AC Milan di semi final. Pada momen itu, bakat seorang Weah tercium oleh Fabio Capello.

Milan yang saat itu menjadi poros kekuatan sepak bola dunia membuat nama seorang Weah semakin dikenal. Weah pun menjadikan Milan sebagai pelabuhan terlamanya di benua biru.

Di tahun pertamanya di negeri pizza, ia berhasil membawa Milan merengkuh scudetto. Di tahun yang sama, Weah mendapatkan gelar pemain terbaik dunia FIFA, Ballon d'Orr, serta Afrika. Pada perebutan Ballon d’Orr, Weah meminggirkan bintang Bayern Munich Juergen Klinsman dan penyerang Ajax Amsterdam Jari Litmanen di posisi kedua dan ketiga.

Namun hanya sebagian kecil dari kontribusi Weah di AC Milan yang membuat dua gelar individu paling bergengsi itu diberikan kepadanya. Permainan sensasional Weah bersama Paris St Germain (PSG)--sebelum pindah ke Milan--adalah penilaian terbesar diberikannya dua penghargaan itu.

Dengan pencapaiannya tersebut, Weah menjadikan dirinya satu-satunya pemain dari Benua Afrika yang mampu memenangkan penghargaan FIFA tersebut sampai saat ini. Tak ayal pada sebuah kesempatan kala itu dia pernah menyebutkan. Ketika di Monaco, Wenger pernah berbicara kepada saya “Engkau kelak akan menjadi yang terbaik di Eropa”. Terbukti ia pun berhasil, dan gelar itu dipersembahkannya kepada Wenger.

Pada 1996, Weah hampir saja mengulangi prestasinya menjadi pemain terbaik dunia. Namun, di tahun itu ia hanya mampu menjadi runner up di bawah Ronaldo yang bermain untuk Barcelona.

Setelah lima tahun dengan dua gelar scudetto yang diberikannya kepada Milan, pada tahun 2000 Weah di pinjamkan ke Chelsea dan menjadi juara Piala FA di musim 1999-2000. Berikutnya Manchester City, Marseille, dan Al-Jazira adalah klub yang dibelanya ketika usia senja. Tak sampai di situ, tahun 2004 oleh FIFA Weah masuk ke dalam daftar 100 pemain sepak bola terbesar yang disusun oleh legendaris Pele.

Selama hampir 20 tahun karirnya, Weah tercatat sebagai penyokong dana bagi timnas Liberia. Menyadari pentingnya sepak bola sebagai kekuatan stabilisasi di Liberia, Weah menghabiskan sekitar $ 2 juta dari uangnya sendiri untuk biaya perjalanan, peralatan, dan gaji untuk tim nasional Lone Stars. Melayani sebagai pemain-manajer, ia memimpin Lone Stars.

Kurun waktu antara tahun 1996-1997, ketika Weah merintis sebagai pemain, rumahnya dilanda perang yang menyebabkan dia melibatkan diri dalam urusan sipil negara. Bersama duta UNICEF, dia mengambil peran dalam inisiatif pendidikan untuk memerangi penyebaran HIV / AIDS dan untuk merehabilitasi anak dengan pelatihan kejuruan. Dari sini lah dia mulai bergelut dengan dunia sipil, pemerintahan, dan hal-hal lainnya yang berurusan dengan negara. Weah terbit sebagai tokoh Humanisme.

Setelah mengakhiri karirinya sebagai pesepakbola, Weah terjun ke politik pada tanggal 11 Oktober 2005. Weah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden Liberia. Kala itu, ia disokong Partai Perubahan Demokrasi.

Weah kembali memenangkan Pemilu Liberia tahun 2017. Dan di tahun tersebut, Weah memberikan gelar kehormatan tertinggi kepada Wenger dan Calude Le Roy. Dua orang yang telah berjasa besar mengenalkan dirinya kepada dunia.

***

Melalui Wenger, Arsenal mendulang segala keberlimpahan komersil serta kedudukan yang sama di antara klub-klub terbaik lainnya di Tanah Inggris.

Melalui Wenger, kita mengenal sosok Mutiara Hitam yang kilaunya menembus penghargaan yang selama ini dikuasai orang-orang dari Benua Biru dan Amerika Latin. Melalui Wenger, kita mengenal seorang Humanis dari Liberia yang mendukung pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung melalui FIFA, serta Duta Perdamaian Liberia di Dunia Internasional.

 

 



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar