JAKARTA – Polisi Manchester, Inggris, mengamankan seorang pria yang diduga membawa senjata tajam ke dalam Manchester Central Mosque pada Selasa (24/2/2026).
Asisten kepala polisi Manchester, John Webster, menyebutkan bahwa pria berusia 40-an tahun itu diduga membawa senjata saat jemaah sedang melaksanakan ibadah.
"Kami segera merespons ke lokasi kejadian, menggeledah tersangka, menangkapnya, dan menyita senjata, termasuk kapak, pisau, dan narkoba kelas B," kata Webster, seperti dikutip dari AFP, Kamis (26/2/2026).
Pihak kepolisian sebelumnya menerima laporan mengenai dua pria yang diduga memasuki masjid dengan membawa senjata. Saat ini, pria kedua masih dalam proses identifikasi oleh kepolisian.
Menurut keterangan aparat, tidak ada korban jiwa maupun ancaman berkelanjutan dalam insiden ini.
Motif pria tersebut membawa senjata hingga narkoba ke dalam masjid juga belum diketahui secara pasti. Menyusul penangkapan ini, patroli di sekitar area masjid telah ditingkatkan.
Dalam pernyataan resminya, pihak Manchester Central Mosque mengungkapkan bahwa komunitas Muslim di Inggris telah menghadapi ancaman serta sikap permusuhan yang terus meningkat selama bertahun-tahun.
Sebelumnya, pada Oktober tahun lalu, polisi juga menangkap tersangka pelaku pembakaran sebuah masjid di kota Peacehaven.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, telah menyuarakan keprihatinannya atas kejadian ini.
"Saya prihatin mendengar insiden di Manchester Central Mosque tadi malam," tulis Starmer melalui media sosial.
Starmer menilai insiden tersebut sangat mengkhawatirkan bagi komunitas Muslim, terutama bagi mereka yang tengah menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
"Kami tidak akan dan tidak boleh menyerah dalam memerangi kebencian terhadap Muslim," ucapnya dalam kesempatan terpisah.
"Kami sedang membentuk dana baru guna memantau kebencian terhadap Muslim dan mendukung para korban ... Kami akan memerangi kebencian dan melindungi kebebasan beribadah di negara ini," kata Starmer di hadapan parlemen Inggris.
Data menunjukkan kejahatan berbasis agama di Inggris dan Wales mengalami kenaikan sebesar tiga persen pada periode 2024-2025. Hingga Maret 2025, tercatat lebih dari 7.000 insiden yang masuk dalam catatan kepolisian.