JAKARTA – Jumlah korban meninggal dalam aksi protes nasional di Iran dikabarkan sudah menyentuh angka 544 orang menurut keterangan aktivis, seiring demonstrasi yang kini menginjak pekan ketiga.
Gelombang protes ini menjadi salah satu bentuk perlawanan paling hebat yang dihadapi pemerintah Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
Mengacu pada data dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berpusat di AS, terdapat lebih dari 10.000 orang yang ditahan. Pemantauan ini mencakup 186 kota di seluruh 31 provinsi yang ada di Iran.
Merespons kondisi tersebut, pihak Teheran telah memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel agar tidak melakukan intervensi dalam bentuk apa pun.
Proses pemantauan secara menyeluruh terhadap pergerakan massa ini menemui kendala akibat diputusnya saluran komunikasi di seluruh negeri.
Pada Sabtu (10/1/2026) malam, intensitas unjuk rasa mencapai puncaknya menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra mendiang Syah Iran yang menetap di pengasingan, agar warga menguasai pusat-pusat kota dan melakukan aksi mogok kerja.
“Meskipun benar-benar terputus dari dunia luar dan internet dimatikan, bagi rezim yang membantai rakyatnya sendiri, ini adalah kesempatan untuk membebaskan bangsa tersebut,” ujar Pahlavi dalam wawancara di Fox News, dikutip pada Senin (12/1/2026).
Semenjak kericuhan mulai terjadi pada 28 Desember, Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengingatkan pemerintah Iran agar tidak melakukan penembakan terhadap para pendemo.
Trump dikabarkan telah mendapat laporan mengenai berbagai pilihan aksi militer terhadap Iran dalam beberapa waktu belakangan.
“Iran sedang menatap KEBEBASAN, mungkin tidak seperti sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulis Trump lewat akun media sosial miliknya pada hari Sabtu (10/1/2026).
Pada hari Minggu (11/1/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjukkan sikap yang lebih tenang dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi negara, dengan menyampaikan rasa duka kepada para keluarga korban atas "dampak menyedihkan" dari kerusuhan itu.
“Protes Anda harus didengar, dan kami harus menanggapi kekhawatiran Anda. Mari kita duduk bersama, bergandengan tangan, dan menyelesaikan masalah ini,” ujarnya, tanpa menjelaskan secara detail langkah yang akan diambil.
“Saya berjanji kepada rakyat tercinta, yang mungkin 90% di antaranya memiliki kekhawatiran, bahwa kami akan menanganinya. Kami akan melewati krisis ini.”
Meski begitu, Pezeshkian menuduh AS dan Israel telah memasukkan “teroris asing,” yang ia klaim melakukan pembakaran terhadap masjid dan pasar, “memenggal sebagian orang, dan membakar yang lain hidup-hidup.” Beberapa petinggi lainnya menunjukkan reaksi yang lebih konfrontatif.
“Jika terjadi serangan militer AS, maka wilayah pendudukan serta pusat militer dan pelayaran AS akan menjadi target yang sah bagi kami,” tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam keterangan yang disiarkan televisi negara pada Minggu (11/1/2026).
Ia menegaskan kembali ancaman bahwa Iran bisa mengambil tindakan pencegahan terhadap potensi bahaya.
“Dalam kerangka pembelaan diri yang sah, kami tidak membatasi diri untuk hanya merespons setelah terjadi serangan,” tuturnya.
Seorang sumber dari Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump dalam beberapa hari terakhir telah diberi pengarahan mengenai berbagai opsi serangan militer ke Iran, termasuk menyasar target di luar militer.
Menurut sumber tersebut, presiden AS sedang mempertimbangkan secara serius untuk menyetujui serangan tersebut.
Radio Angkatan Darat Israel pada hari Minggu melaporkan hasil analisis lembaga keamanan mereka yang menilai kecil kemungkinan Iran akan menyerang Israel dalam waktu dekat.
“Tidak teridentifikasi adanya kemauan langsung seperti itu di Israel—yang terlihat justru fokus Iran pada urusan internal,” sebut laporan itu mengutip pejabat pertahanan yang enggan disebutkan namanya.
Dokumentasi dari berbagai kota di Iran memperlihatkan ratusan ribu warga, termasuk kelompok lanjut usia, tetap bertahan di jalanan walaupun ada peringatan keras dari pihak berwenang untuk tetap di rumah.
Hal ini terjadi di tengah pemutusan jaringan internet nasional dan pembatasan komunikasi yang memblokir layanan telepon serta pesan singkat sejak Kamis.
NetBlocks, kelompok pengawas internet, menyatakan dalam unggahan di media sosial X pada Minggu dini hari bahwa akses internet di Iran “masih stagnan di sekitar 1% dari tingkat normal.”
Kendati demikian, sejumlah video yang beredar, yang disebut berlokasi di sebuah gudang di selatan Teheran, memperlihatkan warga yang sedang memeriksa puluhan mayat dalam kantong jenazah yang berderet di lantai dan tandu.
Suara tangisan terdengar saat orang-orang mencoba mengenali anggota keluarga mereka yang tewas.
Video lain yang diklaim berasal dari kawasan barat Teheran pada Sabtu malam menunjukkan ribuan demonstran memenuhi jalanan dengan menyalakan lampu ponsel di tengah kondisi kota yang gelap karena listrik padam, disertai suara siulan dan teriakan “Matilah diktator.”
Sebuah truk tampak terbakar di Mashhad, sementara rekaman dari hari Minggu memperlihatkan sebuah kantor pajak negara yang hangus terbakar di wilayah timur Teheran.
Namun, hingga kini seluruh kebenaran rekaman video tersebut belum bisa diverifikasi secara mandiri.