JAKARTA – Konflik di kawasan Timur Tengah mulai memberi dampak nyata pada kehidupan sehari-hari masyarakat di India.
Krisis pasokan gas memasak membuat banyak dapur rumah tangga, kantin, hingga restoran menyesuaikan menu dengan mengurangi hidangan panas.
Di sejumlah kota seperti Chennai dan Bengaluru, makanan serta minuman panas, termasuk teh, mulai jarang ditemukan di menu.
Sebagai pengganti, banyak tempat makan memilih menyajikan makanan cepat saji atau minuman sederhana seperti air lemon yang membutuhkan lebih sedikit bahan bakar untuk disiapkan.
Para juru masak juga cenderung memilih hidangan yang lebih praktis agar stok Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang tersedia dapat digunakan lebih lama.
Dampak Penutupan Jalur Energi Timur Tengah
Krisis pasokan ini muncul setelah lalu lintas kapal melalui Strait of Hormuz dan kawasan Persian Gulf hampir berhenti akibat perang yang melibatkan Iran.
Situasi tersebut memicu lonjakan biaya energi dan transportasi sekaligus mengganggu produksi minyak serta gas dari negara-negara produsen utama di Timur Tengah.
India sendiri merupakan importir LPG terbesar kedua di dunia, sehingga gangguan pada pasokan global segera terasa di dalam negeri.
Pemerintah India bahkan telah menggunakan kewenangan darurat untuk memerintahkan perusahaan kilang meningkatkan produksi LPG. Namun sejumlah pihak menyebut pasokan masih terbatas.
Kantin dan Asrama Pangkas Menu
Sejumlah kantin, asrama, dan pabrik mulai menyesuaikan menu untuk menghemat penggunaan gas.
Sebuah pabrik komponen otomotif di negara bagian Gujarat, misalnya, menghapus makanan goreng dari menu kantin. Minuman teh diganti dengan air lemon, sementara sup panas diganti dengan buttermilk atau yogurt.
Sementara itu, asosiasi pengelola asrama di negara bagian Tamil Nadu meminta para anggotanya menghentikan sementara penyajian teh, kopi, serta roti pipih yang memerlukan proses pemanggangan.
Beberapa kantin juga meniadakan sementara menu yang membutuhkan penggunaan LPG dalam jumlah besar hingga pasokan kembali stabil.
Presiden Bengaluru PG Owners Welfare Association, Arunkumar DT, mengatakan stok gas di banyak penginapan berbayar (PG) hanya cukup untuk beberapa hari.
Menurutnya, penggunaan menu yang lebih hemat energi dapat membantu memperpanjang masa pemakaian tabung gas.
Industri Restoran Berpotensi Terdampak
Analis dari Elara Securities, Karan Taurani, menilai keterbatasan bahan bakar memasak dapat memaksa restoran mengurangi kapasitas operasional mereka.
Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi jumlah pesanan pada platform layanan pesan-antar makanan.
Ia menambahkan bahwa konsumen kemungkinan akan beralih ke jaringan restoran cepat saji yang lebih banyak menggunakan peralatan listrik seperti oven dan penggorengan listrik.
Di New Delhi, sebuah warung makan pinggir jalan bahkan memasang catatan sederhana yang berbunyi: “Hari ini kami hanya menyajikan nasi dan lentil.”
Sementara itu, kantin di Delhi High Court untuk sementara menghentikan penyajian makanan utama dan hanya menawarkan sandwich.
Situasi ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik di kawasan energi utama dunia dapat dengan cepat berdampak hingga ke dapur masyarakat, memengaruhi pola konsumsi sekaligus operasional bisnis makanan di negara pengimpor energi besar seperti India.