Microsoft Prediksi AI Bisa Gantikan Peran Pengacara dan Akuntan dalam 18 Bulan ke Depan

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:01:56 WIB
CEO divisi AI Microsoft, Mustafa Suleyman. [Foto: Toby Melville/Reuters]

JAKARTA – Otomatisasi lapangan kerja akibat kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan terjadi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, termasuk pada profesi seperti pengacara serta akuntan.

Peringatan ini datang dari para petinggi perusahaan teknologi global yang menilai bahwa masifnya penggunaan AI saat ini akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia, khususnya di sektor perkantoran.

Salah satu peringatan paling tegas datang dari Microsoft. CEO divisi AI Microsoft, Mustafa Suleyman, memperkirakan bahwa otomatisasi pekerjaan akibat AI kemungkinan besar terjadi dalam waktu yang sangat dekat.

Suleyman menyebutkan bahwa kemampuan AI saat ini sudah semakin mendekati kemampuan manusia dan mampu mengerjakan berbagai tugas profesional dengan tingkat kinerja yang hampir setara.

"Saya pikir kita akan mencapai kinerja setara manusia untuk sebagian besar, jika tidak semua, tugas profesional," ujar Suleyman dalam wawancaranya dengan Financial Times, sebagaimana dikutip pada Kamis 19/2/2026).

Menurut Suleyman, profesi seperti pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga tenaga pemasaran masuk dalam kategori paling rentan. Tugas-tugas inti pada pekerjaan tersebut dinilai sanggup diambil alih oleh sistem AI dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan.

"Hubungan manusia dengan teknologi kini sudah sangat berbeda. Perubahan itu terjadi hanya dalam waktu enam bulan terakhir," tutur Suleyman.

Dampak dari perubahan tersebut menurutnya bahkan sudah mulai terasa. Di sektor rekayasa perangkat lunak, banyak pekerja yang kini mengandalkan bantuan AI untuk membantu sebagian besar proses produksi kode.

Microsoft sendiri telah mengintegrasikan AI ke dalam proses kerja internal mereka, dan dampaknya terlihat pada pengurangan tenaga kerja.

Pada Mei 2025, Microsoft memberhentikan sekitar 6.000 pegawai, disusul pemangkasan 9.000 karyawan lainnya dua bulan kemudian.

CEO Microsoft, Satya Nadella, sebelumnya mengungkapkan bahwa AI telah berkontribusi pada 20 hingga 30 persen tugas pengkodean (coding) software perusahaan.

Di saat yang sama, Microsoft juga menggelontorkan dana sebesar 80 miliar dollar AS untuk pengembangan infrastruktur AI.

Tren pengurangan tenaga kerja ini juga terjadi di perusahaan teknologi lainnya. Meta memangkas sekitar 5 persen atau 3.600 karyawannya pada Januari 2025.

Sementara itu, Amazon berencana mengurangi hingga 30.000 posisi kerja. CEO Amazon, Andy Jassy, mengakui bahwa ke depan perusahaan akan membutuhkan lebih sedikit pekerja untuk peran tertentu.

Tekanan terhadap pasar tenaga kerja juga tercermin dalam data Challenger, Gray & Christmas yang mencatat 1,2 juta pemutusan hubungan kerja sepanjang tahun 2025. Jumlah ini meningkat 58 persen dibandingkan tahun 2024.

Sektor teknologi swasta menjadi yang paling terdampak dengan pengurangan sekitar 154.000 posisi.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa adopsi AI yang sangat cepat merupakan faktor utama di balik tren ini, di mana AI berkontribusi terhadap rencana PHK atas 54.836 posisi pada 2025.

"Industri teknologi bergerak ke arah pengembangan dan penerapan kecerdasan buatan jauh lebih cepat dibandingkan industri lainnya," tulis Challenger, Gray & Christmas.

Pengamat menilai perubahan ini berpotensi memicu krisis ekonomi dan identitas. CEO Khan Academy, Salman Khan, menilai revolusi AI akan datang lebih cepat dari perkiraan.

Menurutnya, kenaikan kecil pada tingkat pengangguran akibat AI sudah cukup untuk mengguncang ekonomi.

"Jika pekerjaan kerah putih (white collar) menyusut meski hanya 10 persen, dampaknya akan terasa seperti depresi ekonomi," kata Khan kepada Fortune.

Khan menambahkan bahwa AI berpotensi memicu krisis identitas karena banyak pekerja yang menggantungkan status sosial pada profesi yang kini terancam.

"Identitas mereka melekat pada pekerjaan itu. Sekarang, tiba-tiba, terjadi pergeseran besar di pasar kerja," kata dia.

Ia menilai berbagai industri akan menghadapi masalah serius jika tidak segera menyiapkan jalur transisi bagi pekerja. Tantangan terbesarnya adalah memastikan pekerja bisa beralih ke profesi lain.

"Jika Anda tidak menemukan cara agar sopir truk atau kurir yang terkena PHK bisa beralih menjadi teknisi radiologi, asisten perawat, atau profesi lain, masalahnya akan sangat besar," ujar Khan.

Terkini