JAKARTA – Pemerintah Meksiko mengirimkan ribuan personel tentara tambahan menyusul meluasnya gelombang kekerasan setelah tewasnya gembong narkoba paling dicari di negara tersebut.
Upaya penangkapan Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho memicu baku tembak hebat di negara bagian Jalisco.
Paling sedikit 73 orang dikabarkan meninggal dunia, mencakup aparat keamanan serta anggota kartel. Kondisi genting tersebut sempat menghentikan aktivitas di lebih dari 20 negara bagian.
Nemesio Oseguera Cervantes, pemimpin Jalisco New Generation Cartel (CJNG), meninggal dunia usai terlibat kontak senjata dengan militer Meksiko pada Minggu (22/2/2026) waktu setempat.
Nama Cervantes dikenal sebagai salah satu bos kartel terkuat dengan jaringan penyelundupan fentanil, metamfetamin, dan kokain ke Amerika Serikat.
Menteri Pertahanan Meksiko, Ricardo Trevilla, menjelaskan bahwa pihak berwenang membuntuti kekasih Cervantes sampai ke lokasi persembunyian di Tapalpa, Jalisco.
El Mencho bersama dua pengawalnya sempat melarikan diri ke hutan sebelum akhirnya mengalami luka berat dalam baku tembak. Mereka ditangkap dalam keadaan kritis dan meninggal dunia ketika dalam perjalanan menuju Mexico City.
Kementerian Pertahanan mengonfirmasi sedikitnya enam pengawal El Mencho tewas dalam operasi tersebut, sementara tiga prajurit militer luka-luka.
Di lokasi lain di Jalisco, tentara juga melumpuhkan anggota kartel berpangkat tinggi yang diduga mengoordinasi kekerasan dan menawarkan imbalan lebih dari 1.000 dollar AS untuk setiap tentara yang dihabisi.
Operasi ini dijalankan oleh tentara Meksiko dengan sokongan Garda Nasional dan Angkatan Udara.
Pemerintah Meksiko menyebutkan bahwa bantuan informasi dari Amerika Serikat turut membantu penangkapan, namun menegaskan tidak ada keterlibatan langsung pasukan AS dalam kejadian tersebut.
Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS menawarkan imbalan hingga 15 juta dollar AS untuk informasi penangkapan El Mencho.
Pejabat keamanan Meksiko mencatat sedikitnya 73 orang tewas dalam rangkaian penangkapan dan kekerasan yang menyusul. Korban terdiri dari 25 anggota Garda Nasional Meksiko yang gugur dalam enam serangan di Jalisco.
Menteri Keamanan Omar Garcia Harfuch memaparkan, sekitar 30 tersangka kriminal tewas di Jalisco dan empat orang lainnya di Michoacan. Seorang sipir serta agen kejaksaan juga terkonfirmasi tewas.
Setidaknya 20 negara bagian terdampak kerusuhan setelah kabar kematian El Mencho beredar. Anggota kartel menyerang berbagai kota, memblokade jalan, membakar bus, serta merusak puluhan bank dan bisnis warga.
Pemerintah melaporkan bahwa lebih dari 250 blokade jalan telah dibersihkan pada Senin pagi. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, memberikan apresiasi terhadap operasi militer tersebut dan menegaskan keamanan nasional sebagai prioritas utama.
“Ada ketenangan, ada pemerintahan, ada angkatan bersenjata dan ada banyak koordinasi,” ujar Sheinbaum.
Presiden juga meminta masyarakat tetap tenang meski sekolah di sejumlah wilayah sempat ditutup. Sementara itu, di Guadalajara, situasi sempat lumpuh total pada Minggu.
Warga memilih diam di rumah, bahkan lebih dari 1.000 orang terjebak semalaman di kebun binatang demi keamanan.
Direktur kebun binatang, Luis Soto Rendon, menyatakan bahwa banyak keluarga tidak bisa pulang karena penutupan jalan.
“Kami memutuskan untuk membiarkan orang-orang tetap berada di dalam kebun binatang demi keselamatan mereka,” katanya.
“Ada anak-anak kecil dan warga lanjut usia.”
Seorang turis Australia, Provan Crump, menyebut perjalanannya sangat menegangkan karena adanya pembakaran bus dan penutupan jalan.
“Saya merasa aman, tetapi juga mengetahui bahwa kami tidak tahu apa yang bisa terjadi bukanlah perasaan yang menyenangkan,” ujarnya.
Gedung Putih mengonfirmasi pemberian dukungan intelijen dalam operasi ini dan memuji tentara Meksiko. Duta Besar AS, Ron Johnson, menyatakan kerja sama bilateral telah mencapai level yang sangat tinggi.
Namun, analis International Crisis Group, David Mora, mengingatkan bahwa tumbangnya CJNG bisa memicu perang antar kelompok kriminal baru.
“Ini mungkin menjadi momen di mana kelompok-kelompok lain melihat bahwa kartel ini melemah dan ingin memanfaatkan kesempatan untuk memperluas kendali mereka,” tuturnya.