Alamtri Resources Siapkan Capex hingga US$240 Juta untuk 2026

Kamis, 12 Maret 2026 | 13:41:21 WIB
Ilustrasi capital expenditure. [Foto: NET]

JAKARTA – PT Adaro Resources Indonesia Tbk (ADRO) memperkirakan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) pada 2026 berada di kisaran US$ 220 juta hingga US$ 240 juta.

Nilai tersebut setara sekitar Rp 3,7 triliun hingga Rp 4 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.893 per dolar Amerika Serikat.

“Untuk tahun ini, capex diperkirakan berada pada kisaran US$ 220 juta hingga US$ 240 juta, termasuk kontribusi ekuitas dari perusahaan,” ungkap Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti, dikutip pada Kamis (12/03/2026).

Belanja modal tersebut juga akan digunakan untuk mendukung penyempurnaan proyek smelter aluminium yang dijalankan melalui anak usaha, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

Fasilitas smelter yang berlokasi di Kalimantan Utara itu telah mulai menjalani tahap pengujian awal (testing) serta sebagian proses commissioning sejak akhir 2025.

“Selanjutnya, perusahaan akan secara bertahap meningkatkan operasi pot (sel elektrolisis aluminium) secara strategis hingga mencapai kapasitas produksi penuh pada tahun 2026,” tambahnya.

Pada tahap pertama, smelter tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi sebesar 500.000 ton aluminium per tahun. Namun proses produksi akan ditingkatkan secara bertahap atau ramp up.

Tingkat produksi optimal dari fasilitas smelter tersebut ditargetkan tercapai pada September atau Oktober 2026.

Di sisi lain, perusahaan juga mulai menjajaki kontrak penjualan aluminium yang dihasilkan dari smelter tersebut, baik dengan pembeli dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Kami sedang menjajaki kerja sama baik dengan pembeli dalam negeri maupun internasional,” ungkapnya.

Sebagai informasi tambahan, kebutuhan aluminium di dalam negeri diperkirakan mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan sebagian besar masih dipenuhi melalui impor.

Karina menyebut produksi dari smelter aluminium milik PT KAI diharapkan dapat membantu menekan ketergantungan tersebut.

“Mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, berkontribusi atas program hilirisasi pemerintah, serta menciptakan nilai tambah untuk alumina,” jelasnya.

Terkini