JAKARTA – Melancong ke wilayah Asia selama ini sering kali identik dengan kunjungan ke ibu kota negara yang hiruk-pikuk dan dipenuhi turis. Contohnya saja Tokyo di Jepang, Seoul di Korea Selatan, atau Hanoi di Vietnam.
Namun, kecenderungan perjalanan dunia pada 2026 memperlihatkan adanya peralihan minat pelancong ke kota-kota lain di luar ibu kota yang menyuguhkan pengalaman lebih asli serta ritme perjalanan yang lebih rileks.
Fenomena terbaru mengindikasikan bahwa para wisatawan saat ini kian tertarik mengeksplorasi kota-kota alternatif atau second cities yang menawarkan sensasi berbeda dari ibu kota maupun pusat wisata utama.
Hal ini diprediksi akan menjadi salah satu tren perjalanan (travel trend) dominan sepanjang 2026, mengutip The Strait Times, Rabu (7/1/2026).
Bukannya kembali ke lokasi wisata arus utama, banyak pelancong yang justru berpaling ke kota-kota regional, titik pusat budaya lokal, serta kota kecil yang menyajikan atmosfer lebih tenang dan autentik.
Menyadur laporan Travel And Tour World, kota-kota lapis kedua tersebut dinilai mampu menyajikan pengalaman kultural yang lebih dekat dengan keseharian warga lokal, sekaligus menghindari keriuhan destinasi utama yang mengalami penumpukan turis (overtourism).
Kota-kota ini pada umumnya mempunyai kekayaan histori, sajian kuliner khas daerah, serta biaya pelesiran yang relatif lebih ekonomis.
Berikut merupakan deretan kota di Asia yang sering dipilih sebagai pilihan lain selain ibu kota, merujuk pada tren wisata internasional.
1. Chiang Mai, Thailand
Chiang Mai populer sebagai jantung budaya Thailand bagian utara dengan kondisi yang lebih sunyi jika dibandingkan Bangkok.
Kota ini memiliki area kota tua yang dipagari tembok serta parit bersejarah, serta kuil-kuil penting seperti Wat Phra Singh dan Wat Chedi Luang yang menunjukkan kemegahan Kerajaan Lanna.
Mengutip Lonely Planet, Chiang Mai menjadi salah satu kota yang disarankan bagi pelancong yang ingin menggali budaya Thailand secara lebih mendalam, tanpa perlu menghadapi kepadatan turis seperti di ibu kota.
Kota ini pun berkembang sebagai pusat kesenian, kreativitas, serta wadah bagi komunitas digital nomad.
Dari aspek boga, Chiang Mai masyhur dengan khao soi, mi kari khas Thailand utara yang banyak dijajakan di kedai lokal hingga rumah makan modern. Pasar malam seperti Sunday Walking Street juga menjadi magnet belanja dan wisata kuliner.
2. George Town, Penang, Malaysia
George Town di Pulau Penang dikenal sebagai kota beragam budaya dengan warisan sejarah yang kokoh. Gaya bangunan kolonial, rumah toko tradisional, serta karya seni jalanan (street art) menjadi ciri khas kota tersebut.
Menyadur situs resmi UNESCO, George Town ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia lantaran nilai sejarah serta budayanya yang masih terlestarikan.
Selain aspek histori, kota ini memiliki denyut kehidupan urban yang aktif dengan keberadaan banyak kafe, galeri, serta ruang kreatif yang bermunculan di gedung-gedung lama.
Menyusuri pusat kota dengan berjalan kaki menjadi metode populer untuk menikmati suasana George Town.
Melansir Travel + Leisure, Penang juga sering disebut sebagai salah satu tujuan boga utama di Asia Tenggara. Masakan seperti char kway teow, asam laksa, dan nasi kandar sangat mudah dijumpai di pusat jajanan pinggir jalan.
3. Da Nang, Vietnam
Da Nang merupakan kota pesisir di Vietnam bagian tengah yang tumbuh pesat sebagai tujuan wisata. Kota ini dikenal memiliki Pantai My Khe yang membentang panjang dan bersih, serta tata ruang kota yang relatif lebih rapi dibandingkan kota besar lainnya.
Mengutip CNN Travel, Da Nang kerap dipilih sebagai titik tolak perjalanan untuk mengitari kawasan Vietnam tengah, termasuk Hoi An dan Hue, lantaran letaknya yang strategis serta akses transportasi yang memadai.
Selain sektor pantai, Da Nang mempunyai daya tarik alam berupa Marble Mountains, deretan bukit kapur yang menyimpan gua dan pagoda. Untuk masalah kuliner, kota ini tersohor dengan mi Quang serta beragam olahan laut segar.
4. Luang Prabang, Laos
Luang Prabang menyuguhkan nuansa kota kecil yang tenteram dengan pemandangan sungai dan barisan pegunungan. Arsitektur peninggalan kolonial Prancis berpadu harmonis dengan kuil-kuil Buddha yang masih aktif difungsikan sampai sekarang.
Menyadur UNESCO, Luang Prabang masuk ke dalam daftar Situs Warisan Dunia karena tata ruang kota serta tradisi kulturalnya yang terjaga dengan baik. Salah satu tradisi yang masih berjalan hingga kini adalah ritual penyerahan sedekah pagi kepada para biksu.
Di waktu malam, Luang Prabang Night Market menjadi pusat interaksi warga dan turis. Melansir BBC Travel, pasar malam ini dikenal sebagai lokasi terbaik untuk mendapatkan kain tenun dan kerajinan tangan khas Laos.
5. Cebu, Filipina
Cebu merupakan salah satu kota krusial di Filipina dengan peranan sejarah yang kuat. Kota tersebut menyimpan berbagai situs kolonial, termasuk rumah ibadah kuno dan monumen religi yang menjadi bukti awal masuknya pengaruh Spanyol.
Mengutip National Geographic Travel, Cebu juga dikenal sebagai gerbang menuju berbagai objek wisata alam, mulai dari pantai, pulau-pulau kecil, hingga air terjun yang tersebar di wilayah sekelilingnya.
Dari segi boga, Cebu sangat populer dengan lechon, olahan daging panggang khas Filipina. Kota ini pun mempunyai pusat perbelanjaan modern yang letaknya bersisian dengan pasar tradisional.
6. Osaka, Jepang
Osaka dikenal sebagai kota dengan watak lokal yang menonjol dan gaya hidup yang lebih santai daripada Tokyo. Kota ini kerap dijuluki sebagai pusat kuliner Jepang karena budaya makan yang sangat dinamis.
Melansir Time Out, area Dotonbori menjadi simbol Osaka dengan jajaran restoran, papan iklan raksasa, serta atmosfer malam yang semarak. Takoyaki dan okonomiyaki menjadi dua kudapan yang paling sering diburu wisatawan.
Selain makanan, Osaka mempunyai kawasan belanja seperti Shinsaibashi Shopping Arcade yang gampang dijangkau dengan angkutan umum. Lokasinya pun strategis untuk melanjutkan perjalanan ke Kyoto dan Nara.
7. Jeonju, Korea Selatan
Jeonju populer sebagai kota budaya dan kuliner tradisional Korea Selatan. Magnet utamanya adalah Jeonju Hanok Village, sebuah kawasan dengan ratusan rumah tradisional Korea yang masih terawat secara baik.
Menyadur Korea Tourism Organization, Jeonju menjadi destinasi pokok bagi pelancong yang ingin merasakan atmosfer Korea klasik, mulai dari arsitektur hingga kebiasaan kuliner.
Kota ini juga dikenal sebagai daerah asal bibimbap. Pasar tradisional seperti Nambu Market menjadi pusat keramaian warga, khususnya pada malam hari.
Kota alternatif, metode baru mengeksplorasi Asia
Melansir Travel And Tour World, meningkatnya ketertarikan terhadap kota alternatif memperlihatkan perubahan cara para pelancong memandang perjalanan, dari yang tadinya hanya mendatangi ikon populer menjadi pengalaman yang lebih personal serta berkelanjutan.
Dengan tingkat kepadatan yang relatif lebih rendah serta budaya lokal yang masih kental, kota-kota ini menyajikan cara baru menjelajah Asia tanpa harus selalu bertumpu pada destinasi ibu kota.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News