10 Kesalahan Parenting yang Tanpa Sadar Membuat Anak Mudah Marah

10 Kesalahan Parenting yang Tanpa Sadar Membuat Anak Mudah Marah
Ilustrasi orang tua dan anak. [Foto: pexels.com/@keira-burton]

JAKARTA – Dalam proses membesarkan anak, tidak sedikit orang tua merasa sudah menerapkan berbagai metode disiplin yang dianggap tepat, namun perilaku anak tetap sulit diarahkan.

Dampaknya, anak masih mudah tersulut emosi, membantah, bahkan menunjukkan sikap agresif terhadap saudara maupun teman sebayanya.

Simak beberapa kesalahan orang tua yang bikin anak pemarah yang perlu dipahami.

Di sisi lain, kondisi ini kerap membuat orang tua merasa kebingungan dan kehabisan cara. Padahal, tanpa disadari, ada pola pengasuhan tertentu yang justru memperkuat emosi negatif pada anak.

Berdasarkan berbagai kajian dalam psikologi, perilaku emosional anak sering dipengaruhi oleh bagaimana orang tua merespons serta membimbing mereka dalam keseharian.

Karena itu, memahami kesalahan orang tua yang bikin anak pemarah menjadi penting agar pola asuh bisa diperbaiki sejak awal.

Dengan pendekatan yang sesuai, anak dapat belajar mengelola emosinya secara sehat dan berkembang menjadi pribadi yang lebih tenang.

Kesalahan orang tua yang bikin anak pemarah

Dilansir dari Parents, Rabu (8/4/2026), berikut sejumlah kesalahan orang tua yang bikin anak pemarah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

1. Memarahi anak di depan umum

Menegur anak memang diperlukan, terutama saat perilakunya berisiko. Namun, memarahi anak di hadapan banyak orang justru membuat mereka merasa dipermalukan dan terancam.

Akibatnya, anak lebih fokus pada rasa malu dibanding memahami kesalahan yang dilakukan.

Sebaiknya ajak anak berdiskusi di tempat yang lebih privat agar pesan disiplin dapat tersampaikan tanpa melukai harga diri.

2. Memberi instruksi yang tidak jelas

Banyak orang tua mengatakan, "Jangan berantakan!" atau "Jangan nakal!" tanpa menjelaskan perilaku yang diharapkan. Instruksi yang terlalu umum membuat anak sulit memahami maksudnya.

Gunakan kalimat yang lebih spesifik, misalnya: "Tolong gantung jaketmu setelah masuk rumah." Anak cenderung lebih mudah mengikuti arahan yang konkret dibanding larangan yang abstrak.

3. Menyuap anak untuk menghentikan tantrum

Memberikan hadiah agar anak berhenti menangis mungkin terasa ampuh dalam jangka pendek. Namun, kebiasaan ini justru menanamkan pemahaman bahwa perilaku buruk bisa menghasilkan keuntungan.

Jika terus dilakukan, anak akan mengulang tantrum demi mendapatkan keinginannya. Disiplin seharusnya menanamkan tanggung jawab, bukan transaksi.

4. Mengabaikan kondisi dasar anak

Anak yang lapar atau kelelahan biasanya lebih sulit mengontrol emosi. Dalam kondisi ini, kemampuan mereka untuk menerima arahan juga menurun.

Sebelum menasihati anak, pastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi terlebih dahulu. Setelah anak merasa lebih nyaman, pembahasan mengenai perilaku bisa dilakukan dengan lebih efektif.

5. Terlalu banyak memberi nasehat

Sebagian orang tua menjelaskan kesalahan anak secara panjang lebar. Padahal, anak sering kesulitan menyerap pesan yang terlalu banyak sekaligus.

Penjelasan yang singkat, jelas, dan konsisten jauh lebih efektif. Sampaikan alasan kesalahan, berikan konsekuensi yang wajar, lalu lanjutkan aktivitas.

6. Bereaksi berlebihan atau berteriak

Saat orang tua kehilangan kendali emosi, anak cenderung meniru respons tersebut. Teriakan tidak membantu anak belajar, melainkan memicu rasa takut atau kemarahan.

Nada bicara yang tenang membantu anak memahami bahwa masalah dapat diselesaikan tanpa ledakan emosi. Orang tua yang mampu mengendalikan diri menjadi contoh regulasi emosi yang baik.

7. Menganggap perilaku anak sebagai serangan pribadi

Anak sering menguji batas karena sedang belajar memahami lingkungan, bukan karena ingin menyakiti orang tua. Jika orang tua terlalu tersinggung, hubungan emosional bisa menjadi renggang.

Tetap tunjukkan kasih sayang sambil menegaskan batasan. Anak perlu memahami bahwa ia tetap dicintai, namun tindakannya memiliki konsekuensi.

7. Membandingkan atau mempermalukan anak

Kalimat seperti, "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?" dapat memicu rasa iri, rendah diri, serta kemarahan. Fokus disiplin seharusnya pada perilaku, bukan perbandingan dengan orang lain.

Memberikan apresiasi saat anak menunjukkan perilaku baik lebih efektif dalam membangun motivasi positif.

9. Tidak konsisten dalam aturan dan konsekuensi

Aturan yang berubah-ubah membuat anak kebingungan. Jika suatu perilaku dilarang hari ini namun dibiarkan di lain waktu, anak akan menganggap aturan tidak penting.

Konsistensi membantu anak memahami batasan dengan jelas. Konsekuensi juga perlu realistis dan dapat diterapkan secara berkelanjutan.

10. Kurang memberikan waktu berkualitas dan bimbingan emosi

Kesibukan orang tua sering membuat interaksi dengan anak menjadi terbatas. Padahal, anak membutuhkan perhatian penuh agar merasa dihargai dan didengar.

Selain itu, anak juga perlu dibimbing untuk mengenali emosinya. Orang tua bisa membantu dengan mengatakan, "Kamu terlihat marah, mau cerita apa yang membuatmu kesal?" Pendekatan ini membantu anak belajar mengelola perasaan dengan lebih sehat.

Memahami kesalahan orang tua yang bikin anak pemarah merupakan langkah awal dalam membangun pola asuh yang lebih efektif. Banyak perilaku emosional anak tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari interaksi sehari-hari di lingkungan keluarga.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index