Virus Corona Disebut Bersumber dari Kelelawar dan Ular, Ini Kata Peneliti LIPI

Kuliner kelelawar. (Foto: KOMPAS.COM)

Sejumlah peneliti menyebut ular krait dan kobra menjadi sumber asli penyebaran virus corona yang mewabah di Wuhan, China. Adapun ular krait China merupakan spesies ular elapid yang berbisa dan ditemukan di sebagian besar China tengah, selatan, dan Asia Tenggara. Ular sendiri sering berburu kelelawar di alam liar.

Dilansir dari CNNIndonesia, menurut laporan yang berkembang, ular dijual di pasar makanan laut lokal di Wuhan dan meningkatkan kemungkinan bahwa 2019-nCoV (kode protein) mungkin telah melompat dari spesies inang - kelelawar - menjadi ular dan kemudian ke manusia pada awal wabah koronavirus ini. Di sisi lain, meski persentase virus corona hanya berkisar 34 persen untuk kasus MERS (Middle East Respiratory Syndrome) dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) sebesar 15 persen, tetapi mesti diwaspadai penyebarannya.

Menanggapi itu, Peneliti Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra mengatakan, kandungan zat pada daging ular dan kelelawar didominasi oleh protein. Namun, imbuhnya, saat manusia mengonsumsi daging ular dan kelelawar, potensi untuk membawa penyakit juga tinggi lantaran keduanya termasuk hewan liar.

"Kandungan dominan mungkin protein. Bahayanya karena hewan tersebut liar, potensi membawa penyakitnya juga tinggi. Kami tidak tahu mereka dari mana, mangsanya apa saja," ucapnya, Jumat (24/1/2020).

Diketahui, tubuh ular biasanya mengandung sejumlah bakteri, di antaranya Salmonella, bakteri yang dapat menyebabkan keracunan dan masalah pencernaan. Tak hanya bakteri, mengkonsumsi daging ular pun rentan terkena infeksi parasit, seperti trichinosis, pentastomiasis, gnathostomiasis, dan sparganosis.

Lantas, apakah ada efek yang terlihat saat daging ular dan kelelawar masuk ke dalam tubuh manusia? Sugiyono menjawab, efeknya seperti memakan daging biasa, kecuali jika daging membawa toksin atau penyakit.

"Mungkin seperti makanan lain. Di beberapa daerah, seperti di Minahasa, efek khasiat mungkin juga karena sugesti. Efek signifikan lain, kalau daging tersebut ternyata membawa toksin atau penyakit seperti virus rabies atau corona, yang tentunya berbahaya bagi kesehatan," paparnya.(but)







[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar