Usul Pileg dan Pilpres 2024 Tak Digelar Serentak, Demokrat Singgung Banyaknya Korban Jiwa

Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

Pelaksanaan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024 disarankan tak kembali dilakukan secara serentak. Usulan itu sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarif Hasan.

Dikutip dari CNNIndonesia.com, Syarif menyampaikan hal itu sebagai tanggapan atas wacana revisi Undang-undang tentang Pemilihan Umum (Pemilu) terkait pemisahan penyelenggaraan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg).

"Kami Demokrat memang sudah punya kesimpulan bahwa memang untuk pemilu ke depan lebih bagus itu pilpres dan pileg itu dipisahkan," ucapnya, Jumat (6/12/2019).

Alasannya, kata dia, pemisahan pelaksanaan pemilu bertujuan agar tak membuat masyarakat dan parpol kebingungan karena banyak parpol yang kebingungan kala melakukan sosialisasi atau kampanye kepada masyarakat. Ia menyatakan, parpol itu bingung berkampanye untuk memprioritaskan Pileg atau Pilpres.

"Sementara dua-duanya penting. Jadi, lebih bagus memang dipisahkan," jelasnya.

Bukan itu saja, ia pun berpandangan pelaksanaan Pemilu secara serentak dikhawatirkan akan menelan banyak korban jiwa saat pelaksana pemilu. Pasalnya, di banyak tempat, banyak yang proses perhitungan suara sendiri digelar hingga pagi hari.

"Banyak yang berguguran kan? Banyak yang meninggal. Jadi, banyak efeknya yang harus kami hindari," terangnya.

Untuk diketahui, pada Pemilu 2019, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa ada 527 Petugas KPPS meninggal dan 11.239 orang sakit.(but)







[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar