Menuju Cinta yang Fitri

Menuju Cinta yang Fitri

Pada momen Lebaran 1440 H ini, ada sebuah pertanyaan yang ramai di media sosial alih-alih dunia nyata: “Kapan nikah?”

Tak ada yang tak khawatir akan hal itu, tentu. Namun, tetap saja ada yang aneh dari pertanyaan fenomenal tersebut. Sebab, ketika sedang sibuk-sibuknya menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan momen hari kemenangan itu, kalimat interogatif tersebut harus menjadi belenggu tersendiri.

Kini, bayangkan jika hal itu terjadi kepada Anda: saat itu Anda sedang merapikan meja bagi para handai taulan yang sedang berkunjung ke rumah dan tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari salah seorang kerabat Anda yang ada di sana. Yang saya bayangkan hanya ini: taplak bergeser, piring dan toples kaca berdenting nyaring, dan pandangan mata Anda mulai berkunang-kunang…

Tentu, hal-hal semacam itu hanya akan terjadi jika usia Anda sedang matang-matangnya buat menikah sementara niat saja belum lagi terkumpul. Sial, memang, tetapi begitulah keadaan di era millennial.

Karena itu pula, di masa ini, segalanya seperti berulang: gadis-gadis akan menjadi kekasih dari para pria yang usianya jauh di atas mereka. Itu sama seperti kisah hidup para pendahulu yang rentang usianya dengan sang belahan hati terpaut jauh. Penyebabnya sederhana: mereka yang usianya jauh lebih tua darimu akan lebih mengerti keinginanmu, termasuk soal menikah.

Maka, tak heran, ketika usia menginjak 22-25, para lelaki di zaman ini hanya bisa menatap lesu sebuah cincin nikah berharga jutaan yang terpajang di etalase plaza, apatah lagi biaya dan nota pembayaran dari sebuah penyewaan tenda dan organ tunggal. Kita pantas bertanya, “Ada apa sebenarnya?”

Yang terjadi, sejauh yang kini bisa disimpulkan, ialah kurangnya pemahaman di masyarakat kita bahwa perjodohan bukanlah aib. Itu karena peluang bagi terciptanya sebuah rumah tangga yang sehat dapat terlaksana bila wacana perjodohan kembali hadir di ruang-ruang diskusi “orang dewasa”.

Bisa kita lihat, saat ini, puncak dari rasa frustrasi seorang remaja bukan lagi karena kemampuan mereka dalam mengarungi hidup tak lagi besar, melainkan lantaran patah hati berkali-kali. Miris, memang, tetapi begitulah adanya. Penyebabnya: nilai-nilai sudah jauh bergeser dan segala lini kehidupan ikut terdampak.

Kita patut cemas akan hal itu. Namun, yang terjadi tetap saja terjadi. Yang bisa dilakukan, barangkali, cuma ini: mulai menyadari bahwa cinta, dan juga pernikahan yang termasuk di dalamnya, merupakan karunia yang besar dan teramat indah buat diadang sebuah pertanyaan klise. Terlebih lagi, di momen Lebaran ini, yang menjadi hari kelahiran kembali; jiwa yang baru.

Untuk itu, perlu juga, kiranya, merenungkan sajak dari Sutardji Calzoum Bachri berjudul “Idul Fitri” ini:

Idul Fitri

Lihat
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia
Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nuju Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya
……………………………………
Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illAllah
aku pakai sepatu sirathal mustaqim
aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat
Dan kurayakan kelahiran kembali
di sana

Pagi Lebaran 1440 H memang telah berakhir beberapa waktu yang lalu, tetapi pertanyaan “Kapan nikah?” itu tetap menyisakan residu. Meski di tahun-tahun selanjutnya, pertanyaan yang sama mungkin akan kembali terdengar dan kian menyengat di hati, cobalah tarik napas dan dinginkan kepala, lalu jawab begini: “Bukannya tak mau menikah, tapi saya sedang berupaya menuju cinta yang fitri.”[]

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *