Kematian Putranya Membuat Ayah Ini Sadar: Kerja Keras Bukanlah Segalanya

Kematian Putranya Membuat Ayah Ini Sadar: Kerja Keras Bukanlah Segalanya

kawula.id – Meningkatnya kebutuhan hidup memaksa orangtua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kesibukan pekerjaan membuat mereka menghabiskan lebih sedikit waktu bersama keluarga.

Ketika di rumah, semua orang sibuk dengan urusan mereka sendiri, termasuk dengan media sosial, membuat waktu berkualitas untuk keluarga terabaikan, terutama dengan anak-anak.

J.R. Storment berbagi cerita tentang dirinya yang terlalu sibuk bekerja dan menghabiskan lebih sedikit waktu bersama keluarga. Kisah yang dibagikan di Linked In telah membuat banyak orang menyadari bahwa tidak ada yang lebih penting daripada menghabiskan waktu bersama keluarga.

Storment memiliki sepasang anak kembar, Oliver dan Wiley. Bulan lalu, sebuah insiden yang memilukan terjadi, putranya Wiley meninggal dunia. Dia mengetahui kabar duka itu ketika dia sedang rapat di kantornya.

Saat dihubungi oleh istrinya dia bergegas ke mobilnya. Menyadari dia tidak memiliki kunci garasi, dia harus kembali ke lobi untuk meminta bantuan seseorang untuk mengantarnya pulang.

Beruntung, ada seorang yang sedia mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah, ia melihat mobil ambulans terparkir. Ia langsung menuju ke kamar putranya.

Nahas bagi Storment, dia tidak bisa masuk karena salah satu polisi yang ada di sana menghalanginya. Sebab, kematian anaknya bisa menjadi kasus pidana.

Dia harus menunggu sekitar dua setengah jam sebelum diizinkan untuk melihat putranya. Setelah menunggu satu jam di depan pintu, dia memberitahu anggota polisi yang menjaga pintu kamar tersebut, dia tidak dapat menunggu lagi.

Mereka mengizinkannya melihat putranya melalui jendela. Putranya sedang berbaring di tempat tidur, terbungkus rapi dengan selimut. Kesedihan mulai terasa saat melihat putranya itu.

Ketika pemeriksa medis selesai bekerja, keluarganya diizinkan masuk ke kamar. Dia duduk di sebelahnya di tempat tidur dan memegang tangan putranya. Mereka berada di sisi Wiley selama 30 menit sebelum Wiley dibawa pergi oleh pihak berwenang.

Malam sebelum kematiannya, Wiley tampak sehat dan aktif seperti biasa. Ada tamu yang datang dengan anak-anak mereka untuk makan malam bersama. Mereka melompat di atas trampolin besar yang baru saja mereka beli.

Gambar: J.R Storment

Tahun lalu, Wiley didiagnosis mengidap Benign Rolandic Epilepsy yang paling umum terjadi pada anak usia antar 8 -13 tahun. Epileps tipei ini tergolong ‘jinak’ karena biasanya menyembuhkan dirinya sendiri di masa remaja.

Dokter anak dan ahli saraf menemukan bahwa mereka tidak perlu khawatir dengan kondisinya. Wiley memiliki tipe epilepsi yang sangat umum. Tidak ada yang menyebutkan bahwa epilepsi yang dideritanya dapat membunuhnya.

Seperti kita ketahui bahwa epilepsi dapat mengakibatkan kematian atau sudden unexpected death in epilepsy (SUDEP). SUDEP secara umum dipandang sebagai hal yang tidak dapat diprediksi, tidak dapat dihentikan, dan tidak dapat diubah saat dimulai. Secara statistik, 1 dari 4.500 anak-anak dengan epilepsi mengalaminya.

Setelah kematian putranya, Storment belum kembali bekerja. Dia tidak bisa kembali bekerja karena penyesalan masih membelenggu dirinya. Bahkan, dia berpikir untuk tidak kembali bekerja.

Storment mengakui di hadapan rekan-rekannya pada pagi yang sama, bahwa dalam delapan tahun terakhir dia bahkan tidak pernah berlibur selama seminggu. Itulah sebabnya dia mendesak semua orangtua untuk mencurahkan sebagian besar waktu mereka bukan untuk pekerjaan mereka tapi untuk mengutamakan keluarga.

Sumber: EpochTime
Editor: Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *