Kalau Cinta Sudah Dibuang, Kesedihan Hanya Tontonan

Kalau Cinta Sudah Dibuang, Kesedihan Hanya Tontonan

“Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang,” pekik sejumlah orang di sebuah kafe beberapa tahun sebelum hari ini. Saya di antara mereka, ikut mendengarkan tembang itu, tetapi enggan memekik. Entah karena gelisah atau apa, saya memilih bungkam.

Seorang lelaki dan seorang perempuan yang bernyayi di depan kafe itu: satu memetik gitar, lainnya vokal utama. Kehadiran mereka membuat para pengunjung kafe itu beralih perhatian dan ikut menembang. Sekali lagi, saya ingin tak ikut larut meski tembang itu konon diganjar penghargaan sebagai lagu terbaik dari 100 lagu pilihan Rolling Stones Indonesia beberapa tahun sebelumnya.

Mungkin karena hari itu cuaca masih beserbuk. Kabut asap pekat mengurung kota ini sehingga adik serta sepupu saya mulai libur sekolah. Belum ada demonstrasi, unjuk rasa, atau aksi massa menuntut pemerintah atas bencana yang terjadi ini. Hujan tak turun dan orasi belum terdengar.

Kalau besok ada demonstrasi, benak saya kala itu, lagu “Bongkar” Iwan Fals itu akan saya nyanyikan dengan keras—tepat di kuping pemerintah.

***

Ilustrasi

Ketika mahasiswa Jogja berkumpul di Gejayan, ada keharuan yang menyeruak dari para aktivis 1998. Aksi mereka dulu adalah tangan pertama yang menggedor pintu kekuasaan sang diktator, Soeharto, dan 21 tahun kemudian, anak-anak dan adik-adik mereka mengulanginya. Tak ada bentrok, rusuh, atau chaos—semuanya berlangsung tertib dan warga pun tampaknya mendukung. Dari media sosial, bahkan saya melihat tukang buah memberi “logistik”.

Sehari kemudian, massa aksi mulai bergerak di Jakarta. Harapan saya masih sama: aksi ini akan berlangsung damai—sebab mengulang panasnya aksi “Jakarta 1998” tampaknya terlalu berlebihan. Hal itu terjadi sebelum polisi meningkatkan penangangan mereka terhadap massa.

Tepat saat water canon dan gas air mata ditembakkan ke arah kerumunan mahasiswa dan aktivis itu, saya teringat lirik lanjutan dari “Bongkar”:

Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperbudak jabatan.

Masih dari layar gawai, saya menyaksikan massa aksi bubar dengan terpaksa—dan mungkin dari kaca jendela gedung dewan, anggota DPR di Senayan juga melihat itu semua, sebagai tontonan.

***

“Lalu apa yang tersisa dari perjuangan mahasiswa?” tanya ibu saya, suatu sore.

“Apa ibu berpikir bahwa rezim ini akan tumbang karena didemo mahasiswa?” saya justru balik bertanya.

Kami sama-sama diam.

Menatap ke layar ponsel, mata saya kembali berpapasan dengan cuplikan-cuplikan atau video-video singkat tentang demonstrasi yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Hari itu juga saya tahu, ada mahasiswa di Kendari roboh diterjang peluru aparat.

Beberapa eksponen aktivis 1998 yang wira-wiri di lini masa saya menyebut kejadian itu sudah cukup untuk mendakwa bahwa di negara ini, polisi sudah terlampau jauh menggunakan kewenangannya. Dalam romantisme dan nostalgia mereka, para aktivis 1998 itu menyamakan tindakan aparat kepolisian dengan aksi “pengamanan” oleh tentara sebelum Soeharto berhenti sebagai presiden pada Mei 1998 itu.

Asumsi itu mungkin benar, tetapi yang paling benar kala itu adalah mendesak kepolisian menginvestigasi penembakan tersebut. Beberapa hari kemudian, polisi melakukannya. Hasilnya: peluru tajam yang bersarang di dada sang mahasiswa bernama Randi asal Universitas Halu Oleo itu. Kabar terbaru menyebut polisi meminta waktu untuk mengusut kasus tersebut. Di sisi lain, jasad anak Fakultas Perikanan dan Kelautan Jurusan Budidaya Perairan itu sudah dimakamkan.

(Ketika video ayahnya pulang melaut dan mengetahui bahwa anaknya mampus ditembak polisi, seluruh Indonesia ikut berduka—tak hanya Kendari.)

***

Foto: istimewa

“Apa masih ada aksi?” tanya ibu saya, kemarin malam.

Saya yang sedang membaca artikel lanjutan soal pembebasan dua aktivis, Dandhy Laksono dan Ananda Badudu yang sudah dilepas polisi setelah sebelumnya diciduk, menjawab, “Tanggal 30 September.”

Besok, memang akan ada aksi lanjutan di Jakarta—setelah BEM SI menolak tawaran istana untuk dialog atas 7 tuntutan yang menggelora belakangan ini. Di Gejayan, massa aksi pun kabarnya akan kembali berkumpul menyerukan tuntutan yang sama.

“Posisimu bagaimana, Bang?” celetuk adik saya.

Saya menatapnya. Adik saya kelahiran 1998, empat hari setelah Soeharto meninggalkan istana presiden alias berhenti. Menjawab pertanyaannya, saya ulang lagi jawaban kepada seorang kawan:

“Saya berdiri bersama orang benar yang bertindak baik atau orang baik yang bertindak benar atau lupakan saja keduanya.”

Entah apa yang terjadi besok—setelah ikut berduka untuk insiden di Wamena—, saya cuma tak ingin cinta dibuang sehingga kesedihan hanya tontonan dan kita tak berbuat apa-apa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *