Hari Buruh: Wiji Thukul Belum Mati

Hari Buruh: Wiji Thukul Belum Mati
Loading...

*oleh: Marhalim Zaini

Hanya ada satu kata: lawan!” teriak Wiji Thukul dalam sebuah puisinya berjudul Peringatan (1986). Ia populer, terlebih karena puisi-puisi Thukul senantiasa “hidup” dalam ruang bangsa yang bergolak. Puisi-puisinya menyuarakan hak-hak rakyat yang diabaikan (untuk tidak mengatakan; dirampas) oleh negara. Setelah Thukul berteriak-teriak ke sana ke mari, negera sakit telinga, dan lalu ia “dilenyapkan”. Tapi Thukul belum mati. 

Saya agaknya harus bersyukur karena sempat merasakan betul hingar prahara sosial-politik di tahun 90-an itu. Entah mungkin karena saya memang hobi berdiri di podium mimbar bebas, baca puisi di jalan-jalan, di Padang, di Jakarta, terkahir di Yogyakarta. Entah mungkin karena saya merasa kerap dikejar-kejar aparat. Entah mungkin karena waktu itu saya mati-matian memilih “jalan hidup” sebagai penyair. Entahlah.

Dan Wiji Thukul, yakin betul bahwa puisi adalah senjatanya, puisi adalah pelurunya. Tentu bukan tersebab karena ia tukang becak, miskin, dan tidak punya senjata seperti aparat, maka ia “terpaksa” memilih puisi sebagai senjata untuk melawan. Tapi, justru karena keyakinannya, bahwa “senjata puisi” lebih hebat dari “senjata api.”

Thukul yakin bahwa, “Puisiku bukan puisi/ Tapi kata-kata gelap/ Yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan/ Ia tak mati-mati, meski bola mataku diganti/ Ia tak mati-mati, meski bercerai dengan rumah/ Ditusuk-tusuk sepi, ia tak mati-mati/ Telah kubayar yang dia minta/ Umur-tenaga-luka…,” (1997).

Dan bukankah ia benar, bahwa puisinya (memang) tak mati-mati, hingga kini. Tak mati-mati meskipun si penyairnya boleh jadi telah mati, boleh jadi bola matanya telah diganti. Thukul boleh jadi “kalah” karena fisiknya “dihilangkan”, tapi ia “menang” karena suara-suara terus bergema dari puisi-puisinya. Dan gema itu, siapakah yang bisa memadamkannya? Siapakah yang bisa menutupi lubang-lubang sejarah yang menganga demikian besar dari luka bangsa ini?

Maka, di sini, puisi adalah saksi. Puisi adalah kebenaran itu. Meski, banyak orang tidak dengan mudah percaya bahwa kekuatan “kata”, kekuatan “pena” dapat merubah realitas. Banyak orang belum memberi rasa hormat yang tinggi pada puisi. Banyak orang, bahkan terkadang penyairnya sendiri, tidak sepenuhnya percaya bahwa puisi kita hari ini juga memiliki “kekuatan” yang sama (setidaknya dibanding) dengan puisi-puisi Wiji Thukul.

Apakah para penyair hari ini, juga seberani Thukul, sekuat Thukul dalam berkeyakinan terhadap puisi seperti dalam baris-baris puisi berjudul Penyair (1988) berikut ini? Saya berharap sih iya: Jika tak ada mesin tik/Aku akan menulis dengan tangan/Jika tak ada tinta hitam/Aku akan menulis dengan arang/Jika tak ada kertas/Aku akan menulis pada dinding/Jika aku menulis dilarang/Aku akan menulis dengan tetes darah!

Selamat Hari Buruh Sedunia.***

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *