Dieni Nikmatika: Dunia Arsitektur Erat Kaitannya dengan Lingkungan


kawula.id - Dieni Nikmatika Ulya adalah seorang arsitektur perempuan ternama di Pekanbaru. Perempuan yang akrab disapa Dini dan lahir di Kendal, 7 Juni 1989 ini mempunyai sepak terjang yang besar dalam bidang arsitektur di Pekanbaru. Di antaranya ialah mendirikan sekolah untuk arsitek perempuan (SOWA) di Pekanbaru. 

Kawula ID berkesempatan mewawancarainya seputar beragam pencapaian yang telah ditorehkan Dini. Berikut percakapan tim Kawula ID dengan Dini.

Halo, selamat siang Dini. Wah ini nih, arsitek perempuan di Pekanbaru. Kok bisa kecantol dengan bidang arsitektur Dini? Apa yang membuatnya lebih dari bidang lain?

Halo, selamat siang. Wah, itu ceritanya udah dari zaman kecil. Dari dulu saya memang suka sekali kesenian, terutama menggambar. Inginnya itu waktu kuliah masih bisa menggambar dan akhirnya masuk jurusan arsitektur. Pertimbangannya itu, saya juga suka matematika dan sains. Waktu itu, saya pikir arsitek itu jurusan yang pas karena ada menggambarnya, ada sainsnya juga.

Wah, dari kecil sudah suka menggambar. Jadi, saat ini, kesehariannya memang berhibuk di bidang arsitek dong ya? Kalau tak salah, Dini juga pernah jadi penyiar di salah satu radio di Pekanbaru?

Ya, kalau kesehariannya pasti sangat dekat dengan arsitektur. Saya Arsitek di Xarchitect, konsultan yang bergedak di bidang perencanaan arsitektur, interior, dan lansekap. Koordinator juga di SOWA (School of Woman Architects) yang merupakan komunitas untuk wanita yang memiliki minat di bidang arsitektural. Selain itu juga anggota Ikatan Arsitek Indonesia Riau. Selebihnya menjadi ibu rumah tangga yang sayang keluarga. Hehehe. 

Nah, dulu itu memang sempat jadi penyiar. Tapi sekarang sudah nggak.

Jelasin sedikit dong, ruang lingkup kerja arsitek itu mencakup apa aja sih? 

Arsitek itu ruang lingkupnya luas, dari yang sekala kecil seperti tata ruang dalam (interior), bangunan, maupun kawasan yang makin ke sini sudah punya jurusan sendiri, seperti planologi. 

Arsitek juga bisa mengonsepkan yang lebih besar dari bangunan, seperti kawasan tepi sungai, bahkan kota.

Wah, ternyata banyak yang bisa dikerjakan oleh arsitek ya, Dini. Oh ya, cerita dikit tentang SOWA dong. Itu semacam ranting komunitas atau inisiatif dari arsitek perempuan di Pekanbaru?

Untuk saat ini, SOWA hanya ada di Pekanbaru. Penggagas utamanya saya sendiri dan dibantu oleh banyak arsitek perempuan lainnya. Komunitas belajar ini memang sengaja didirikan untuk mengembangkan minat dan mendampingi para perempuan yang ingin mendalami keilmuannya di bidang arsitek. 

Berarti komunitas ini dibuat oleh dan untuk para perempuan ya, Dini. Apa peserta yang ingin bergabung di kelas harus berlatar belakang keilmuan arsitekur atau bebas? 

Ya, betul sekali. Di SOWA, peserta kelasnya memang khusus perempuan, nanti ketika presentasi pameran juga mesti perempuan. Karena ya, tujuannya memang empowering. Kelas yang diadakan SOWA juga gratis dan nantinya akan ada pameran bulanan untuk presentasi karya arsitek wanita. 

Bagi yang ingin bergabung, ya bebas-bebas saja, asalkan memiliki minat terhadap arsitektur. 

Kenapa harus mengangkat gender tertentu? 

Lebih jelasnya sih, SOWA hanya diperuntukkan kepada wanita karena budaya kita masih sangat akrab sama yang namanya patriarki, kalau tidak ada support system yang baik akan susah untuk tetap jadi arsitek. Salah satu misi utama SOWA ya menjadi support system tersebut.

Wah, iya. Masih tentang SOWA, biasanya pembimbingan yang dilakukan itu benar-benar dari awal apa bagaimana? Terus, apa ada kelanjutan dari para peserta kelas yang, anggaplah, sudah mempresentasikan karya dan selesai belajar di SOWA?

Materi yang disampaikan di kelas kebanyakan materi yang dasar banget. Karena prioritasnya untuk umum. Meski saat ini yang ikut kebanyakan dari anak SMK dan mahasiswa arsitek, tapi semoga SOWA juga jadi semacam magnet bagi yang belum tahu.

Juga ada arahan-arahan ke depannya untuk peserta kelas yang, katakanlah sudah selesai. Inginnya, output yang didapat dari SOWA itu adalah tetap berarsitektur. Apalagi sejak UU Arsitek sudah diresmikan, sekarang ini, yang bukan arsitek berizin, tidak boleh berpraktik arsitektur. 

Omong-omong nih, Dini, sampai sekarang, sudah berapa banyak mengerjakan desain arsitektur? 

Wah, sudah nggak terhitung lagi, hahaha. Tapi yang terbaru ini, sedang mengerjakan proyek kafe dan sekolah. 

Saya pribadi, untuk masjid, sekolah, dan bangunan-bangunan lain yang sifatnya sosial, saya desainkan gratis gambarnya. Bagi saya, ini semacam CSR. 

Lah, ada CSR-nya juga. Cakep! Ceritain dong, pengalaman selama mengerjakan proyek-proyek arsitektur, ada kejadian lucu atau menarik, gak?

Cerita lucunya, sering dikira cowok karena nama tulisannya Dieni, mungkin kebaca Deni ya. Jadi kalau ada yang kontak via email/WA dipanggil mas atau pak, hahaha.

Cerita yang ngenes juga ada, yaitu ketika klien yang minta saya meniru desain. Menurut saya lebih ngenes ini daripada nggak dibayar, karena itu melukai harga diri.

Istimewa

Wah, benar. Artinya nggak ada kepercayaan dari klien tersebut. Oh ya, Dini juga studi S2 Ilmu Lingkungan. Kenapa kok bisa lari ke sana?

Wah, ini karena tergugah untuk mempelajari lebih lanjut setelah baca buku Al Gore tentang pemanasan global. Efeknya itu juga ada pada pembangunan dan arsitektur yang kaitannya erat dengan kerusakan lingkungan. Ilmu lingkungan itu juga mempengaruhi gaya arsitektur saya untuk lebih ke sustainable design.

Oiya, ilmu S2 juga sempat saya amalkan dengan bekerja sebagai Research Support Specialist di LECB Programme Indonesia yang salah satu projectnya adalah membuat Model Ekonomi Hijau. 

Terus, dengar-dengar nih, juga punya hobi menulis ya?

Selain arsitek, saya juga hobi menulis. Untuk  fiksi, dulu pernah menulis naskah teater ‘Caplok’ yang dipentaskan UKM Teater Diponegoro. Cerpen berjudul Shinigami juga pernah dimuat di antologi cerpen Joglo 8 oleh Dewan Kesenian Jawa Tengah. Terus, tahun 2018 essai saya diterbitkan di buku Antologi Kota Indonesia.

Luar biasa memang. Terakhir nih, Dini, ada punya keinginan yang masih tertunda dalam bidang arsitek?

Ada, pastinya. Sekali-sekali ingin juga dikasih kesempatan untuk desain sculpture atau bahkan ruang publik untuk pemerintah kota Pekanbaru. Saya juara 5 lomba design interactive sculpture, beyondartchspace yang diselenggarakan PT. PP Property, lho. Modusin pemerintah dikit nggak apa, kan, hahaha.

Hahaha. Aamiin. Semoga keinginannya bisa terwujud. Terima kasih, Dini, sukses selalu ya!

Aamiin, terima kasih kembali..







[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar