Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar

Bersetubuh, Kata, dan Puisi-puisi Lainnya

Ilustrasi
BERSETUBUH
 
bersetubuh dengan hari-hari lalu, kau sudah
dengannya, kau cintai sepanjang kau punya
usia, selama kau punya pikir, di sini, aku
masih punya jutaan daftar putar yang belum
selesai kudengar, jutaan puisi keren dan
sastrawi yang belum kujamah, pun juga,
masih banyak video dewasa
 
yang belum kuberi arti
 
ke depannya, kupikir kau akan tak sengaja
mengirim bunga mawar yang kau produksi
lewat aplikasi gratis, gambar bibir,
hati merah muda yang ditusuk tanda panah,
atau gambar ayam mungkin? gambar buaya,
ya!
 
tetapi, ternyata kau tidak!
 
kau memaksaku bersetubuh dengan tangan
sendiri ribuan tahun, melewati cahaya demi
cahaya gelap, mengubur doa-doa,
melepaskan, membuang, menghilangkan,
 
kau?
 
tidak, tidak ada kata hilang dalam hidupku,
sebab, yang fana cuma Sapardi, Malkan
Junaidi dan Yudi Damanhuri. tidak, tidak
kau, Hesti
 
selamanya kau tidak, di dalam tiada ini,
kau selalu kucintai seperti tangisan bayi-
bayi yang menolak bersekolah
 
September, 2019
 
 
KATA
 
terjaga, terbentuk, ibu
baca, pikir, buku
lalu
jauh, terbuang, takut, aku?
 
aku?
diatur, kata, tunggu
waktu, nasib, atau,
aku?
 
hidup, kata dan puisi
kalah, hilang, mati, aku?
bacot! bacot! bacot!
 
2019
 
 
BUKU PUISI JELEK
 
puisi jadi buku
diketuknya pintu rumah orang
ia berkata; hai
 
tapi orang-orang sedang menonton
dangdut, dan mengintai
paha yang ditiup angin
 
puisi kemudian melipat
dirinya, ke pusat peradaban
ke kedalaman hati
 
tapi hati sudah penuh
dengan daftar sekian banyak orang
yang tidak butuh puisi
 
hati menangis sampai ke laut
ke tempat jauh, mengisi setiap sudut
tidak ada orang-orang di situ
 
pun, juga tidak ada puisi
 
Ketaping, 01 September 2018
 
 
AKUN
 
Kita bercerita banyak seputar revolusi
kepenyiaran dan merasa dunia sedang tidak
baik-baik saja. Kau mewajibkan banyak film
yang harus aku tonton. Aku ingin menimpali
dengan jutaan lagu untuk umur panjangmu,
tapi kurasa, nanti dulu. Aku tak punya cukup
alasan agar sampai ke jantungmu.
 
Waktu mengajarkan kita apa saja, dan kau
bilang, kau harus pergi. Ke tempat jauh, ke
rumah entah. Aku ingin bilang nanti dulu, tapi
kau menuntuntu pada tanda titik,
“tidak lebih, bagiku kau hanya akun”
 
Aku ingin menangis sejadi-jadinya, sehebat-
hebatnya, sesedih-sedignya, tapi aku sadar,
aku hanya akun.
 
2019
 
 
AKUN /2/
 
aku seperti ditampar prabowo
dan dikencingi megawati
saat kau bilang,
aku hanya akun
 
pengen marah tapi sama siapa
pengen nangis tapi aku lelaki
pengen bilang bangsat, bangsat, bangsat!
tapi aku-nya baik
 
o, ini apa namanya
o, sampai kapan begini
 
sebelum narasi ini jadi azab indosiar
sebelum ini tak pantas kau sebut puisi
kusudahi,
dengan mengangkat jari tengah!
 
2019
 
 
HESTI-KU TERKASIH, HESTI-KU TERSEKSI
 
perempuanku tercinta, ter-unch unch
maafkan aku bia mencintaimu sampai
800 detik sebelum kiamat
sebab, mohon maaf lho, ya
cintaku ini, mirip cintanya sepasang
kekasih, yang mandi di laut penuh es,
dan mati lakinya
 
bedanya, aku tidak pernah mati!
 
ya, kalau pun nanti mati
yang mati semata tubuh
tidak puisi seksi ini
uhuy!
 
2019
 
 
ATAU
 
Tuhanku, jika selesai waktuku.
Kuharap pending dulu.
Sebab, jasad ini masih banyak mau.
Masih ingin dengan-Mu.
 
Dosa-dosa masih banyak.
Pintu pahala alangkah jauh.
Malas terus aku, Tuhanku.
 
Atau,
Kau sirami aku dengan hujan hidayah.
Rumah Kau bocor-bocorkan, dengan
Ribuan cahaya.
 
Atau (lagi),
Beri aku gadis rasa buah naga
Yang ungunya adalah dalamnya laut
Paling dalam.
 
Tuhanku, kalau masih boleh atau.
Aku tak mau selesai-selesai.
Bukankah seekor belatung pun,
Kau hadiahi mayat-mayat?
 
Hanya atau, Tuhanku.
Sesungguhnya, aku bukanlah tergolong
umat, yang keren betul beragama.
 
Sungguh, sejatinya aku masih sayang.
Masih banyak mau. Masih banyak ingin.
Masih mau jadi presiden.
 
Ketaping, September 2018
 

KEPADA DADA KEKASIHKU
 
kepada dada lapangmu
aku akan jadi tukang parkir
yang takzim menziarahi rumput
 
akan kupisahkan
mana tahi anjing dan mana besar mulut
suporter bola Indonesia
 
dengan pecahan dua ribuan ini
telah kugaris namamu di pintu surga
 
si Ridwan akan senyum-senyum
dan memberimu sebuah permen
berperisa rasa yang tak pernah ada
 
kepada dada lapangmu
aku akan menyusu dan menyusu
ribuan tahun cahaya
 
 2018
 
 
Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019).
 



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Baca Juga Topik #sastra

Berita Lainnya...

Tulis Komentar