Bahaya Pinjaman Online yang Harus Diwaspadai

  • Whatsapp
bahaya pinjaman online

Bahaya pinjaman online menjadi semacam pengingat bagi setiap orang. Pasalnya, tak sedikit yang menyesal setelah meminjam uang secara online. Adanya contoh kasus hukum menjadi bukti kuat betapa bahaya pinjaman online ini.

Perusahaan pinjaman online dapat dibilang sudah menjamur di Indonesia. Akan tetapi, perusahaan yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih sedikit. Sisanya adalah perusahaan yang berpotensi merugikan konsumen karena tidak memiliki payung hukum yang jelas.

Bacaan Lainnya

Mudahnya syarat dan proses peminjaman, sejatinya juga berpotensi menimbulkan masalah baru, yaitu penyalahgunaan data. Sebab, salah satu modal untuk melakukan pinjaman online, yaitu dengan melampirkan data Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan swafoto KTP.

Tak ada yang salah sebenarnya dengan meminjam uang secara online. Namun, sebelum meminjam pastikan dulu kemampuan finansial untuk membayar serta melunasi pinjaman tersebut. Jangan sampai setitik nila merusak susu sebelanga.

Berbagi Data

Seperti yang telah disinggung di awal, pinjaman online berpontensi menimbulkan masalah baru. Mengutip JawaPos, Kaspersky merilis persentase 44 persen pengguna internet berbagi informasi pribadi di ranah publik. Informasi pribadi yang dibagikan, yaitu, perincian keuangan, pembayaran, surat izin mengemudi (SIM), dan bahkan password.

Berbagi data secara pribadi dapat memungkinkan bahaya yang bisa terjadi, berikut di antaranya:

1. Jual-beli data

Jual beli data merupakan praktik yang telah diketahui secara umum. Tak heran, jika akan ada saja telepon atau pesan berisi penawaran pinjaman KTA, kartu kredit, bahkan pinjaman online.

Untuk mengurangi intensitas penawaran pinjaman dan sebagainya itu, sebaiknya tidak serampangan mendaftarkan diri ke berbagai platform, termasuk pinjaman online.

2. Dapat tagihan pinjaman

Yang lebih bikin ngenes sekaligus berbahaya adalah, ketika mendapatkan tagihan pinjaman online padahal sama sekali tidak pernah melakukan peminjaman.

Kasus seperti ini tidak berlaku terhadap pinjaman online saja. Ada juga kasus lainnya, seperti marketing abal-abal yang menyalahgunakan data nasabah. Misalnya, membuat rekening baru tanpa sepengetahuan nasabah, lalu mengajukan pinjaman atas nama nasabah yang bersangkutan.

Tak hanya itu, pencurian identitas juga bisa disalahgunakan untuk pembuatan SIM hingga paspor. Jadi, mulai sekarang, ada baiknya lebih berhati-hati berbagi informasi pribadi. Termasuk saat mendaftarkan diri di aplikasi pinjaman online tertentu.

Waspada bahaya pinjaman online

Umumnya, syarat pinjaman online sangat mudah sekali, cukup kirim data KTP dan swafoto, tinggal menunggu disetujui dana pinjaman langsung cair. Memang yang serba instan itu menyenangkan, tetapi jika ditinjau lebih jauh, kemudahan itu membuka celah penyalahgunaan identitas.

Percaya atau tidak itu adalah pilihan. Namun, lihat penyalahgunaan data ini dari sisi yang berbeda, yaitu:

  1. Data kita berpotensi dijual ke layanan pinjaman lain. Meski berada di bawah pengawasan OJK, tetap saja kita tidak tahu apa yang terjadi “di balik layar, bukan? Hasilnya, kita sering mendapatkan telepon dan pesan yang menawarkan berbagai produk pinjaman lain.
  2. Unggahan swafoto kita dapat disalahgunakan oknum dari perusahaan pinjaman tersebut. Terlebih jika perusahaan pinjaman tersebut tidak diawasi oleh OJK. Tak menutup kemungkinan data kita disalahgunakan demi kepentingan pengajuan pinjaman di bank atau layanan pinjaman lain oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Itulah sisi lain atau bahaya pinjaman online yang harus diwaspadai. Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengajukan pinjaman online:

1. Pilih pinjaman online yang terdaftar OJK

Ada beberapa pinjaman online yang masih memasang logo OJK dan mengklaim terdaftar, tetapi pada kenyataannya sudah didepak alias tak lagi terdaftar. Maka dari itu, perlu memastikan hal tersebut ke situs OJK. Sebagai informasi, hanya 113 perusahaan terdaftar OJK dari total 900 layanan pinjaman online yang muncul.

2. Membaca ulasan pinjaman online

Membaca ulasan pinjaman online itu penting, karena itu berkaitan langsung terhadap nasabah dan cara melunasi pinjaman online ke depannya. Perlu ditekankan, beberapa ulasan bisa saja dibeli oleh perusahaan sendiri. Lebih cermat dan teliti sebelum melakukan pinjaman online adalah langkah yang baik.

3. Baca syarat dan ketentuan

Pastikan sebelum meminjam telah membaca syarat dan ketentuan pinjaman online di salah satu aplikasi. Cermati, apakah ada klausul tertentu yang memberatkan nasaba. Contoh, pihak pinjaman online meminta persetujuan untuk membagikan data kita kepada pihak ketiga.

4. Jangan berikan akses ke semua informasi

Tak sedikit pinjaman online yang memberi syarat yang menuju akses ke semua akun pribadi apabila menghendaki kenaikan limit. Contoh, pinjaman online meminta otentikasi ke media sosial, kontak telepon, akses BPJS Ketenagakerjaan, dan lain sebagainya.

Sebaiknya, batasi akses ke semua informasi pribadi tersebut. Data-data itu akan menjadi “senjata” bagi pinjaman online untuk meneror dan berpotensi pada penyalahgunaan data atau identitas.

5. Jangan asal klik tautan dari pinjaman online

“Bapak/Ibu A, selamat pinjaman Anda telah disetujui, silakan klik tautan berikut”

Pesan seperti itu mungkin seringkali kita temui, bukan? Padahal, kita tidak sedang mengajukan pinjaman ke layanan manapun.

Gambaran di atas merupakan salah satu contoh jual-beli data yang dilakukan oleh pinjaman online. Jika kita pernah mengajukan pinjaman ataupun berbagi data di aplikasi tertentu, pesan-pesan seperti itu akan sering muncul.

Perlu diingat, jangan pernah klik tautan seperti itu. Sebab, kita tidak tahu apakah pinjaman online tersebut terdaftar OJK atau tidak. Boleh jadi, tautan itu dirancang otomatis untuk mencuri data yang ada di gawai (smartphone) kita.

Lalu, apa langkah yang harus dilakukan jika data pribadi terlanjur dicuri?

Jika telanjur disalahgunakan, kita bisa mengadukannya kepada pihak berwenang. Atau, cek data secara rutin di SLIK OJK. Tujuannya untuk memastikan ada atau tidak penyalahgunaan informasi pribadi.  Intinya, jangan suka sembarangan kalau berbagi berbagi informasi pribadi

Demikianlah informasi seputar bahaya pinjaman online yang wajib diwaspadai. Jangan gegabah dalam melangkah, dan semoga saja kita dan orang-orang terdekat kita tidak terjerat pinjaman online.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *